FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

[OPINI] Pengaruh Televisi di Kehidupan Masyarakat

Tak terasa sudah lebih dari lima dekade kita ditemani televisi yang setia selamanya.  Hanya cukup dengan mencolokkan kabel listrik dan menekan tombol ‘on’ semua gambar terlihat jelas.  Hampir di tiap rumah sampai ke pelosok desa di Indonesia memiliki benda yang satu ini. Lalu apanya yang salah?

Adalah wajar ketika teknologi masuk ke sebuah negeri dan mereka menerima dengan senang hati, tetapi ketika terdapat suatu kejanggalan yang dapat dirasakan, maka ini adalah sebuah fenomena yang harus diwaspadai.  Bukan tidak mungkin dapat mempengaruhi hati atau jiwa setiap orang terutama kita umat muslim.  Bangun pagi langsung menyalakan televisi hingga menjelang malam, malah tidurpun ditemani benda yang satu ini.  Televisi melekat di kehidupan kita selama hampir tiga dekade terakhir.

Dalam surat at takasur dinyatakan Allah SWT melarang kita untuk bermegah-megahan.  Mencari harta sebanyak-banyaknya demi hawa nafsu dan menumpuknya sampai akhir hayat.  Hidup yang dikelilingi oleh kemewahan dan popularitas adalah acuan pola fikir orang zaman sekarang.  Islam mengajarkan pola hidup sederhana.

Lalu apa hubungannya televisi dengan pola hidup mewah yang tertanam dalam memori otak masyarakat pada umumnya?  Tonton saja terus berbagai bentuk kemewahan yang ada di sana, hampir semua saluran menayangkan berbagai bentuk kemewahan.  Ambil salah satu contohnya, sekarang sedang marak tayangan pemberian penghargaan pada ‘insan pertelevisian’ yang suguhannya mempertontonkan artis baik laki-laki maupun perempuan memakai jas perancang terkenal dan gaun malam yang terbuka dada dan punggungnya duduk elegan di kursi tamu yang mewah bak raja-ratu dari kaum bangsawan disuguhi acara penghargaan bagi mereka yang berprestasi di bidang seni yang menurutnya hasil karya tingkat tinggi dibarengi dekorasi panggung yang artistik dan alunan musik ‘trendy’.  Ketika kita menonton input yang diterima adalah itulah idealnya kita hidup di dunia, begitu kira-kira jika otak kita bisa berbicara.  Dan it uterus menerus diulang bukan tidak mungkin masuk dalam alam bawah sadar kita.

Bahaya yang timbul bisa bermacam-macam.  Tinjaulah salah satu sudutnya dalam sosial kemasyarakatan kita. Bukan tidak mungkin laju inflasi yang sedikit tinggi akibat pengaruh acara-acara tersebut pada otak kita.  Runutannya adalah dari memori yang sudah tertanam timbul keinginan untuk mewujudkannya sehinnga memerintahkan untuk mencari kekayaan yang sebanyak-banyaknya dan secepat-cepatnya.  Boro-boro peduli halal dan haram.  Masuklah ke dalam rantai ekonomi, sehinnga keputusan-keputusan yang diambil tergesa-gesa dan tidak terencana.

Sepertinya ada aktor-aktor di balik semua tayangan di televisi dan tidak ada yang berani menindaknya.  Mempertontonkan berarti sama dengan mengajarkan.  Kesimpulannya Negara kita dirusak pelan-pelan, lalu kita bertanya apakah pelakunya hanya pantas diganjar neraka jahim?

Fuad Rifky Abdulazis, SPdI, Penulis adalahAlumni STAI Riyadhul Jannah Subang

FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom


TINTAHIJAU CHANNEL
Banner Kanan 1

Twitter Update

Inilah Daftar Korban Keracunan Makanan di Majalengka https://t.co/Hd04Kfui4l
Posisi Empat Kepala Dinas di Subang Akan Dilakukan Open Bidding https://t.co/kiy4DA7oA1
Jumlah Korban Keracunan Makanan di Majalengka Terus Bertambah https://t.co/4FUHmaYxeO
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page