Jangan Sesekali Mengganggu Perjalanan Hidup Calon-calon Sastrawan, Mengapa?

Hidup literasi! Salam literasi! Begitu biasanya pemantik semangat didengungkan kepada para pegiat literasi di seluruh penjuru negeri. Memang tak bisa disangkal bahwasanya negeri ini masih jauh dikatakan cukup mencetak generasi penerus yang menyukai dunia perkuli tintaan. Bahkan ada stigma kuat yang telanjur menjalar hingga membuat jalan para pegiat literasi berduri-duri. Hal ini memang bukan barang baru, tetapi penting untuk diulas guna membuka mata hati bagi orang-orang yang telah menciderai perjalanan calon-calon sastrawan negeri ini.

Berlindung di balik events yang disebut sebagai ajang guna membangunkan potensi linguistik yang terlelap dalam buai jiwa-jiwa berkepribadian sebagian besar introvert. Muncul bak pahlawan, membawa segudang harapan cerah untuk menumpas perkara suramnya hidup, yang mana bersamaan membuat janji meniupkan ruh berupa gairah untuk menjalani berbagai aktivitas dalam kehidupan. Itulah fatamorgana dalam kesusastraan, di mana akan sulit ditampik bagi mereka yang haus dengan karya seni satu ini.

Apalagi jika diiming-imingi sertifikat sebagai bukti fisik telah berkarya, sekalipun tidak menjadi juara 1, 2, atau 3. Hal itu tidak menciutkan niat untuk menjadikannya sebagai benda antik nan bersejarah dalam balutan bingkai emas. Terdengar berlebihan, bukan? Namun, begitulah ketika bahagia tengah menjangkiti jiwa. Tak peduli kententuan kriteria membuat beban pikiran jadi bertambah. Membuat apa yang ada dalam benak saling berkelindan. Namun, tak jadi persoalan besar, melainkan sebuah tantangan untuk mencapai puncak yang lebih tinggi dari sebelumnya. Sayangnya bukan berarti tiada cela untuk dibuat celaka.

Walaupun ketentuan untuk membuat karya itu terasa elegan sebab aturannya yang mengikat, seperti harus berapa kata/karakter, yang justru tak jarang napas jadi terputus-putus dibuatnya. Ya, butuh kelihaian khusus di mana terbentuk dari pembiasaan yang panjang.

Adapun jika bersikeras menyelesaikan, mungkin usaha itu akan terukir dalam ruang abadi. Sebab sudah pasti bukan perkara mudah seperti membalikkan telapak tangan, mungkin harus meninggalkan jasad terlebih dulu. Begitu seharusnya sosok profesionalisme. Wah, jangan mengkerut seperti itulah bacanya, itu tak semenyeramkan narasinya.

Akan ada jam demi jam berjatuhan atas nama kepedihan. Pedih menatap layar maupun pedih menyikapi diri yang tak kunjung merampungkan tulisan. Padahal ada deadline menghantui ke mana pun kaki melangkah. Tak lelah menguntit hanya untuk memeriksa adakah pesemis terbesit di sana? Mengingat dekilnya wajah pada calon peraih harap itu, di mana saking seriusnya melupakan hal krusial penyambung hidup alias mandi yang memberi kesegaran.

Tetapi dengan kesungguhan dari hati-hati yang selembut sutra itu, mereka yang bersembunyi di balik nama panitia, tidak meloloskan pertimbangan atas nama perjuangan untuk merecoki misinya yang sedang diambang tuntas. Kadang kala gemasnya sudah tak tahan lagi, tak segan untuk memberikan lebih banyak janji manis serta perpanjangan waktu supaya semakin memakan banyak korban.

Sayangnya, kerap kali itu tak tampak seperti kerugian yang akan berdampak kepada para finalis. Meskipun bau mulai tercium seolah itu hanya ilusi semata yang singgah barang sejenak dalam ruang yang dinamakan benak. Percaya sudah telanjur menyelam terlalu dalam, menunggu peristiwa yang tak akan dilupakan pada sisa hidupnya.

Belum lagi jika para juri ternyata tak berkompeten, di mana siapa tak kenal maka jangan harap menang. Kriteria ketentuan penulisan hanyalah pelengkap sandiwara agar terkesan ada tahap penilaian. Atau ternyata penyelenggara abal-abal, sudah selesai malah lari terkencing-kencing bersama gunungan naskah. Atau jika menang pamor nama, di baliknya seperti siput saat menjalankan kewajiban yang telah dibuatnya sendiri. Ada kesalahan teknislah, itulah, inilah. Ah, alasan klasik. Sungguh berbanding terbalik dari titahnya yang dikemas wah.

Mereka yang berteriak paling keras literasi ternyata penyebab merosotnya minat terhadap literasi. Menebar duri pada perjalanan calon-calon sastrawan negeri ini, yang mungkin esok lusa mampu melepas kekang penjajahan dari kebodohan.

Memang di luar sana masih ada yang bertanggungjawab dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap rasa. Tapi belakangan, yang nakal semakin memuluskan aksi. Tidak sesekali namun berulang kali, apa pantas disebut pejuang terdepan literasi? Yang mana seharusnya memberikan wadah terhadap para penyuka hal itu, agar semakin cinta, sehingga melahirkan karya-karya yang bukan sekedar mempesona namun layak dijadikan teman sehari-hari. Mendorong untuk menyukai sebagai kebutuhan sampai bukan hal mustahil bagi negeri ini disesaki penghuni para penggiat literasi.

Oleh karena itu, pikirkanlah beribu kali sebelum menciderai perjalanan calon-calon sastrawan, sebab jika spesies mereka punah maka hidup akan lebih suram dari ini. Hampa tak berarti. Karena hidup butuh seni dari jari-jari yang mampu menuangkan aksara, membuat hidup lebih berwarna.


Nida Nur Fadillah, Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia, blogger nidanurfadillah.wordpress.com.

 


FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
Twitter: TINTAHIJAUcom


Banner Kanan 1
Banner Kanan 2

Twitter Update

Lawan Praktek Percaloan, Bupati Subang Datang dan Urus SIM Sendiri ke Polres https://t.co/0kwbVF9KXw
Kasus Penggusuran Lahan untuk Proyek Tol Cipali Diputuskan Besok https://t.co/3dE2P2EAOU
Era Industri 4.0, Bupati Subang: Waspadai Informasi Hoax dan Fitnah https://t.co/g2YxtR5JAw
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page