[OPINI] Pegawai Publik Ramah, Kenapa Tidak?

Pada hakikatnya setiap orang ingin diberi perlakuan baik, terlepas sudah memperlakukan orang lain dengan baik ataupun tidak. Hal ini dikarenakan perlakuan baik menandakan penghargaan terhadap orang tersebut, bahwasanya keberadaan ia bukanlah semata sebatas cinderamata maupun seonggok benda penambah sesak ruangan yang mempersempit pernapasan. Kebaikan mampu meyakini diri dianggap ada serta mengundang kenyamanan, sehingga dengan begitu percaya mudah saja diberikan.

Siapa pun jua yang telah mencipta perangai baik, sudah barang tentu memperkokoh suatu jalinan hubungan pada jenis apa pun itu. Maka adalah suatu hal lumrah atau lebih tepatnya kewajiban dimiliki oleh para pegawai publik. Di mana kerap kali melayani khalayak umum. Ya, itu termasuk point krusial dalam konteks pelayanan. Yang mana biasanya akan dikenang dalam kurun waktu yang entah. Sebab tidak hanya melekat dalam benak, namun bibir tak kalah untuk menjadi kepanjangan tangan para deretan yang mengaku tersakiti.

Adapun memang perangai setiap orang pasti berbeda-beda, cara menyikapi juga berbeda-beda. Tetapi menjadi sesosok yang memiliki perangai baik merupakan hal yang tidak salah untuk dicoba, sekalipun timbal balik mungkin tersisipi kejengkelan. Sikap ramah berupa jenis dari kebaikan mesti dibiasakan, sebab itu menandakan cerminan.

Meskipun sulit untuk disangkal, ramah-tamah kian pudar dalam konteks pelayanan dari pegawai publik terhadap khalayak umum. Yang mana membuat orang-orang kerap malas berurusan langsung demi tercapainya suatu tujuan. Sistem kolektif atau modal nitip mendengung dibanyak penjuru. Ah, ke manakah bersembunyinya yang dijunjung para nenek moyang kita dulu? Apa sudah hilang ditelan zaman? Ataukah terbawa arus yang kian mencekoki bangsa ini?

Padahal hal itu menyebabkan banyak orang semakin ketinggalan zaman. Tak tahu-menahu prosedur membuat KTP, KK, atau hal lainnya. Hanya desas-desus katanya memenuhi ruang yang dinamakan benak. Sayang sekali, di mana saat kita bepergian ke Sumatera tetapi tak sampai melihat keelokan tempat demi tempatnya. Sayang sekali, di mana kita makan dengan lahapnya tetapi tidak tahu-menahu alasan menyantap maupun apa yang membuat terasa lezat. Malas merasuki jiwa-jiwa yang merasa menjadi korban dari ketidakramahan sebagian oknum.

Oleh karena itu, perlakuan baik terhadap seseorang berupa keramahan maupun hal baik lainnya mungkin tidak seberapa penting bagi pembuatnya, tetapi bagi penerima itulah tanda sebuah penghargaan bahwa dirinya dianggap ada. Ramah tidak akan membuat rugi. Baik tidak akan membuat bangkrut. Tetapi jika semua itu pergi, rasa hormat mungkin enggan menyambangi. Maka teruslah menebar kebaikan di mana pun dan kapan pun.

 
Nida Nur Fadillah, Penulis adalah Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia tinggal di Subang




FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
Twitter: TINTAHIJAUcom
YouTube: TINTAHIJAU Channel


Banner Kanan 1
Banner Kanan 4
Banner Kanan 5
Banner Kanan 2
Banner Kanan 3
TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

PENTING UNTUK DICOBA 10 Manfaat Dahsyat dari Jalan Kaki yang Belum Banyak Orang Tau https://t.co/ls3caJgpiH
Jelang Nataru, PMI Majalengka Krisis Golongan Darah A https://t.co/TRNx6wrse5
Disparpora Subang Sebut Banyak Wisata Tak Kantongi Rekomendasi https://t.co/GE3f4tStno
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page