Brenton Tarrant dan Paganisme Modern

Sebagai orang yang beragama kita umumnya meyakini bahwa agama melarang terorisme. Apa yang dilakukan oleh Brenton Tarrant di Selandia Baru nyaris tidak ada yang dapat dibenarkan dari sudut agama yang mengajarkan kedamaian, harmoni, welas asih, dan juga keteraturan.

Lantas, apa agama atau pandangan dunia Brenton Tarrant? Berdasarkan kajian sementara, saya cenderung meyakini bahwa dia adalah seorang penganut paganisme modern atau neo-paganisme.

Paganisme Modern
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa selain agama-agama mainstream dunia, sebutlah Islam, Kristen, Yahudi, Hindu, Buddha, juga ada agama/religi atau kepercayaan yang hidup di tengah masyarakat. Sebagai sebuah kepercayaan, paganisme adalah istilah yang dapat diberikan kepada gerakan keagamaan baru (new religious movement) yang dipengaruhi oleh berbagai kepercayaan pagan kuno di Eropa, Afrika Utara, atau negara-negara lain di Asia.

Gerakan keagamaan ini tidak bisa dilihat seperti agama-agama besar lainnya karena coraknya yang melakukan hibridasasi atar berbagai kepercayaan lama dengan perangkat-perangkat modern. Berbeda dengan atheisme, paganisme percaya dan menyembah dewa-dewi yang berada di alam supernatural.

Tarrant dan Paganisme
Jika bukan beragama pagan seutuhnya, kelihatannya saya melihat Tarrant memiliki kecenderungan untuk menjadi seorang paganis, misalnya ketika dia berkata "sampai ketemu di varhalla." Varhalla adalah sebuah hall yang dikuasai oleh dewa Odin dan menjadi tempat peristirahatan para martir.

Kemudian, kita bisa melihat dari simbol matahari hitam (black sun) yang ada di rompi dan 2 kalung bersimbol sama. Simbol black sun selama ini dipakai oleh kalangan neo-NAZI dan kalangan subkultur okultisme seperti setanisme (penyembah setan).

Di sebuah Wewelsburg Castle, sebuah kastil yang terletak di dekat Paderborn, Jerman, simbol tersebut ada. Pertama kali simbol itu dipakai pada masa Third Reich--"kerajaan ketiga" Jerman yang dipimpin oleh Hitler (partai NAZI) pada 1933-1945--yang menyebarkan ideologi nasional-sosialisme.

Simbol black sun hadir di bagian menara utara kastil tersebut ketika direnovasi dan diperluas oleh Heinrich Himmler, pimpinan pasukan elite NAZI yang anggotanya terpilih dari dasar kemurnian ras (Arya) dan setia kepada negara. Di simbol itu ada 12 lambang bertuliskan "S" yang juga dipakai sebagai lambang organisasi keamanan dan militer NAZI.

Himmler juga merupakan penanggungjawab untuk melakukan "genosida Yahudi" lewat kamp konsentrasi di Eropa selama Perang Dunia II. Seperti yang kita tahu, kamp itu mengakibatkan sekian juta orang Yahudi terbunuh, dan menjadi salah satu bencana di abad modern.

Himmler sendiri beragama paganisme yang menyerukan "dekristenisasi" masyarakat Jerman dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Dia hanya percaya, bahwa regenerasi spiritual bangsa Jerman hanya bisa lewat agama Nordik-Jermanik, yaitu agama pagan Jerman yang sifatnya asli.

Ketika berpidato pada pemakaman Reinhard Heydrich, Himmler berkata, "...sekali lagi kita harus berakar pada leluhur dan (kepentingan) cucu kita." Sama dengan beberapa paragraf dalam manifesto "The Graet Replacement" yang ditulis Brendon Tarrant soal pentingnya menjaga keaslian kultur dan heritage Eropa kulit putih dari pengaruh bangsa luar.

Ketika Tarrant menggunakan simbol itu, tentu saja bukan sesuatu yang tanpa makna. Sementara itu, ia menjelaskan bahwa ia rumit ketika ditanya apakah seorang Kristen atau bukan. Kerumitan itu bisa kita baca pencariannya yang ingin mempertahankan budaya asli Eropa kulit putih dengan kemodernan. Simbol dari Himmler itu--bisa jadi waktu dia travelling ke Eropa juga mampir ke lokasi tersebut--dapat menjelaskan kedekatan paganisme Himmler dengan Tarrant.

Dari segi kekejaman, kita lihat ada kesamaan antara Himmler dengan Tarrant. Jika Himmler melakukan genosida dengan power dia sebagai pimpinan pasukan elite yg langsung ditunjuk Hitler, si Tarrant kelihatannya melakukan aksi ini karena "panggilan hati" dia untuk menegakkan supremasi kulit putih atas kulit berwarna. Dia percaya bahwa selama ribuan tahun orang Eropa berada di atas, akan tetapi menjadi problematis ketika hadir bangsa-bangsa luar di tanah mereka dengan tingkat kelahiran yang tinggi sedangkan orang Eropa tingkat lahirnya rendah. Itu dilihat sebagai ancaman bagi masa depan mereka.

Pola Teror
Salah seorang yang menginspriasi Tarrant adalah Anders Breivik, teroris yang mewaskan 93 orang di Norwegia untuk, katanya "menyelamatkan Eropa dari Eropa Muslim." Breivik juga membuat manifesto, tapi lebih tebal, 1500 halaman yang berisi penjelasan tentang berbagai hal, termasuk soal agama-agama yang dia pahami.

Di situ kita lihat dia terjebak dalam pandangan islamophobia yang menganggap bahwa Islam adalah ancaman. Sepertinya, baik Breivik dan Tarrant tidak mendapatkan partner dialog terkait Islam di Eropa.

Breivik menyerang Oslo, negara yang damai, mediator perdamaian, dan rumah bagi hadiah Nobel Perdamaian. Begitu juga Tarrant yang menyerang Selandia Baru. Keduanya ingin mengatakan bahwa tak ada negara yang benar-benar aman dan damai. Sekaligus mereka hendak memprovokasi bangsa kulit putih untuk melawan kalangan non-white. Hal ini tentu saja harus diantisipasi oleh kita semua.

Tentu saja yang paling banyak tahu soal Tarrant adalah pihak Selandia Baru. Akan tetapi, berdasarkan kajian sementara kita bisa menyimpulkan bahwa Brendon Tarrant itu seorang penganut neo-paganisme (atau punya kecenderungan untuk itu) yang melakukan terorisme dengan keyakinan akan supremasi kulit putih Eropa.

Yanuardi Syukur, Pengajar Antropologi Universitas Khairun, Ternate.

FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
Twitter: TINTAHIJAUcom
YouTube: TINTAHIJAU Channel


Banner Kanan 1
Banner Kanan 2

Twitter Update

Investor dari Singapura Lirik Potensi Wisata di Sumedang https://t.co/4Z2RRL1MXo
Akhiri KNM di Desa Sukasari, Mahasiswa Universitas Majalengka Gelar Seminar Digitalpreneur https://t.co/8NPcuCDVmB
Diduga Korupsi Dana Desa, Kejari Indramayu Tahan Kepala Desa https://t.co/kHczaqBY1R
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page