Manajemen Waktu Persfektif Islam

Sangatlah merugi orang yang bertambah usia tapi tidak bertambah ilmu, demikian juga merugi orang yang bertambah usia dan ilmu tapi tidak bertambah amal kebaikan sebagaimana kata mutiara “ilmu tanpa amal bagaikan pohon tak berbuah”, pun merugi orang yang bertambah usia, ilmu dan amal kebaikan tapi tidak mendapat hidayah Allah SWT, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW “Siapa yang bertambah ilmu tapi tidak mendapat (tambah) hidayah Allah SWT, maka hanya akan menambah jauh dari Allah SWT”.

Di dalam Al-Qur’an Allah SWT banyak bersumpah dengan menyebut nama-nama waktu, diantara sumpah Allah dengan menyebut nama-nama waktu adalah sebagai berikut:

“Demi malam apabila menutupi dan siang apabila terang benderang” (QS Al Lail :1-2)

 “Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menaati kebenaran” (QSAl Ashr : 1-3)

Menurut para ahli tafsir  sumpah Allah SWT dengan menyebut nama-nama waktu adalah untuk mengingatkan akan arti penting, manfaat dan pengaruh waktu bagi kehidupan manusia karena bila waktu tidak dipergunakan sebaik-baiknya maka akan merugi, baik didunia apalagi diakhirat dimana usia kita selama hidup dimintai pertanggungjawaban, bahkan secara tegas Rasulallah SAW bersabda : “Barang siapa yang hari ini sama dengan kemarin maka dia termasuk orang-orang yang merugi, yang hari ini lebih buruk maka binasa, dan yang hari ini lebih baik adalah orang-orang yang beruntung” (HR Dailami)

Waktu dalam konteks Barat yang menganut paham materialisme dan hedonisme disebutkan “time is money” waktu adalah uang, sementara orang Arab menyebutnya “Waktu bagaikan pedang, jika kamu tidak bisa mangendalikannya maka kamu akan ditebas olehnya!” dan kita orang Indonesia memperlakukan waktu dengan“alon-alon waton kelakon” biar lambat asal selamat!

BACA JUGA:
Menuju Bermedia Sosial yang Rahmatan Lil Alamin
Rizieq, Munajat 212 dan Kebangkitan Islam
Kenakalan Remaja dan Tugas Kita
Gaji Guru, Antara Gaya Hidup dan Hidup Berkah
Membangun Pendidikan Karakter Lewat Pendidikan Prasekolah


Jumlah waktu bagi semua orang adalah sama, 1 menitnya berdurasi 60 detik, 1 jamnya berdurasi 60 menit, 1 harinya berdurasi 24 jam, 1 minggunya berjumlah 7 hari, 1 tahunnya berjumlah 12 bulan, di belahan bumi manapun, baik di benua Eropa yang maju, maupun di benua Asia yang tempati negara-negara berkembang, bahkan di negara-negara Timur Tengah dan Afrika yang tengah berkecamuk sekalipun seperti Tunisia, Mesir, Libya, Bahrain, Suriah dan Yaman waktu perharinya tetap 24 jam tidak kurang tidak lebih hanya suasana yang membedakan.

Waktu bagi seorang direktur disebuah perusahaan besar bertaraf Internasional sama dengan waktu bagi seorang pengangguran yaitu 24 jam per hari, waktu bagi seorang aktifis mahasiswa yang rajin, dengan nilai IP di atas 3,75 calon sarjana berpredikat cum laude, sama dengan mahasiswa yang malas belajar, dengan koleksi nilai rata-rata D, berpredikat MA (Mahasiswa Abadi) yang hampir “DO”, jumlah harinya dalam seminggu sama yaitu 7 hari.

Jadi jelaslah bagi kita bahwa bukan jumlah waktu yang menjadi masalah karena semua orang  memiliki jumlah waktu yang sama, tetapi masalahnya adalah cara mengisi dan memanfaatkan waktu. Sebab dalam sehari dalam durasi yang sama yaitu 24 jam, ada yang bisa mengurus dunia, mengurus negara, mengurus jutaan manusia, ada yang mencerdaskan banyak orang dengan ilmunya, tetapi ada juga yang dalam waktu 24 jam hanya berdiam diri, mengurus diri saja tidak mampu bukan karena tidak mampu tetapi tidak mau dan malas, bahkan ada yang dalam waktu 24 hanya membuat kerusakan, keonaran, dan kehancuran, bagi diri sendiri dan lingkungannya, Na’udzubillahi min dzalik.

Kita perlu bermuhasabah atau evaluasi diri, seperti disampaikan oleh Khalifah Umar bin Khattab “Hisablah dirimu sendiri sebelum kelak dihisab Tuhanmu!”. Mari kita evaluasi diri kita, diusia kita saat ini di mana hampir semua waktu dan kesempatan, kita gunakan semata-mata untuk bekerja mencari uang dan harta, bahkan sampai ada yang pada tahap menghkhawatirkan karena mengidap penyakit “workholic” alias gila kerja! 8 jam bahkan lebih dalam sehari kita gunakan untuk bekerja, 5-6 jam kita gunakan untuk tidur, 2-4 jam kita gunakan dalam perjalanan. kita habiskan waktu 20 menit untuk sekali makan, maka kita membutuhkan waktu 1 jam per hari.

Jejak Doktrin Agama dan Kolonialisme Dalam Secangkir Kopi

Jika kita gunakan waktu untuk shalat fardhu 10 menit per shalat, maka kita butuh 50 menit. Bagaimana pula waktu untuk ibadah sunnah seperti shalat tahajjud, membaca Al-Qur’an, berzikir dan aktivitas ibadah lainya? Katakanlah untuk semua itu kita gunakan sekitar 1 jam perhari. Maka total waktu yang kita gunakan untuk ibadah fardhu dan sunnah hanya sekitar 110 menit saja. Coba bandingkan dengan waktu yang kita gunakan untuk bekerja, di jalan, tidur dan makan yang mencapai 19 jam. Sementara sisanya yaitu 3 jam lebih 10 menit sering kita gunakan untuk nonton televisi, ngobrol ngalor-ngidul, buang hajat ditolet dan lain-lain.

Melihat data diatas kita segera perlu menata waktu kita, agar waktu yang akan datang bisa lebih baik dari hari ini, dan perlu berpegang pada sabda Nabi SAW “Bekerjalah untuk duniamu seolah-olah engkau akan hidup selamanya dan bekerjalah untuk akhiratmu seolah engkau mati besok!”, Solusi pertama niatkan dalam hati kita ketika memulai bekerja dan memulai melakukan apapun dengan niat semata-mata ibadah kepada Allah, karena semua kegiatan seperti bekerja, belajar, mengajar, olahraga, bahkan makan dan minum kalau diniatkan untuk ibadah maka akan bernilai dan dicatat disisi Allah sebagai ibadah, sesuai sabda Nabi SAW “Sesungguhnya amal tergantung kepada niat”.

Solusi kedua bersegeralah melaksanakan ibadah  seperti shalat fardhu jangan lagi menunda apalagi melalaikannya! karena diantara amal yang paling dicintai Rasulullah SAW adalah menyegerakan shalat ketika tiba waktunya, hal ini juga mendidik kita menjadi individu yang menghargai waktu, bahkan tepat waktu atau “on time”. Sehingga jangka panjang akan melahirkan individu-individu yang tepat waktu dalam menyelesaikan pekerjaan, belajar, proyek dan lain-lain.

Terakhir, agar motivasi untuk menghargai waktu tetap terjaga, kita perhatikan dan laksanakan pesan Nabi SAW “Jagalah lima sebelum datangnya lima, manfaatkan masa mudamu sebelum masa tuamu, gunakan masa sehatmu sebelum masa sakitmu, gunakan masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, gunakan masa senggangmu sebelum masa sempitmu, dan gunakan masa hidupmu sebelum masa matimu (HR Hakim dan Baihaqi).

Wallahu a’lam bissawab.

*H Nasrudin SpdI, SE, MSI, Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Purworejo
 

FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
Twitter: TINTAHIJAUcom
Youtube: TINTAHIJAU Channel


Banner Kanan 1
Banner Kanan 2
Banner Kanan 3

Twitter Update

Gerakkan Ekonomi Desa, Bupati Subang Luncurkan BUMDes Jawara https://t.co/ryjOezfqu3
5 Hari Dikerangkeng, Warga Majalengka Ditemukan Tewas Dengan Tangan Terikat https://t.co/wuksQDRkuU
Agenda Kunjungan Presiden ke Kabupaten Subang Batal https://t.co/0g5s5Z9XIw
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page