FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Menuju Bermedia Sosial yang Rahmatan Lil Alamin

Media Sosial tumbuh dan berkembang di masyarakat seiring dengan perkembangan denyut perubahan dimana masyarakat itu berkembang, perkembangan ini merupakan keniscayaan pada zaman sekarang, perkembangan manusia selalu dapat disaksikan dan bahkan dipelajari selain itu perkembangan manusia dapat diukur sajauh perubahan manusia itu sendiri. Kehadiran media social menjadi ukuran, betapa maju dan berkembangnya peradaban manusia yang jauh melampoi zamannya.

Berbagai pengalaman perubahan telah disaksikan dari masa ke masa, mulai dari cara orang melakukan sesuatu sampai cara bagaimana orang memperlakukan sesuatu, sebagai contoh adalah perubahan cara berkomunikasi, dulu kita berbicara harus selalu bertatap muka tetapi pada saat sekarang komunikasi antar manusia cukup melalui alat komunikasi yang di sebut handphone atau lebih pamilier disebut dengan HP, kondisi ini melanda hampir di semua orang, bahkan kejadian tersebut tidak hanya dapat dilakukan se-negara melainkan antar negara di belahan dunia, sehingga bisa menjangkau wilayah georafis yang tak pandang suku, agama, ras dan bahkan etnis sekalipun.

Beralih dari handphone tidak hanya dapat dinikmati dalam berkomunikasi lisan, jauh lebih dari itu alat tersebut bisa menjangkau seluruh aktifitas manusia mulai dari suara, tulisan, gambar dan bahkan seluruh aktifitas manusia dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi semuanya bisa diakses dengan alat itu yang pada hari ini disebut sebagai media social atau alat bersosial. Dampak dari itu, dunia terasa dalam genggaman, informasi dapat kita terima dengan cepat tanpa batasan sekalipun dan bahkan orang-orang rela menghabiskan waktunya hanya untuk menyelami media social, banyak orang tidak lagi peduli pada orang disekelilingnya.

Penggunaan media sosial dari hari ke hari terus meningkat, telebih pada masa sekarang ini yang dihadapkan pada panasnya tensi politik kita, penggunaan media social sepertinya tidaklagi terkendali. Dalam negara demokrasi yang semua pendapat dijamin oleh Undang-undang, maka penggunaan media social menjadi alat utama dalam menyampaikan pendapatnya, tak peduli apakah pendapatnya baik atau pun buruk yang jelas mereka bisa menyampaikannya dengan cepat melalui media social.

Arus lain dalam media sosial juga kerap menjadi arena caci-maki antar kelompok yang berbeda pandangan politik, dan sejenisnya. Tak jarang media sosial disesaki debat kusir saling menjatuhkan, ghibah (gosip), fitnah, berita bohong (hoax), hingga rasa permusuhan yang mereka tonjolkan. Perilaku semua itu dilakukan atas dasar gandrungnya mereka pada media social. Kegiatan tersebut kerap memberikan nilai mudarat, sebagai orang yang beragama dan yang tahu atas tuntunan agama bagaimana kita bersikap dan bertindak sebagai makhluk social, dalam Islam, seorang muslim adalah orang yang mampu menjamin saudaranya dari malapetaka tangan dan lisannya, “almuslimu man salimal muslimuna min lisanihi wayadihi” artinya “Seorang Muslim adalah orang yang tidak melukai saudara Muslim lainnya baik dengan lisan dan tangannya.   

Alat Komunikasi
Abu Hamid bin Muhammad al-Ghazali yang dikenal sebagai Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa lisan manusia terdiri dari dua jenis, yakni lidah yang berada di dalam mulut dan lidah berupa qalam (pena) atau bahkan jenis kedua ini bisa dilakukan aktifitasnya melalui tangan dan jari dalam bentuk tulisan. Tulisan memiliki fungsi yang mirip dengan pembicaraan, orang bermaksud menyampaikan sesuatu bisa dilakukan dengan bicara dan bisa dilakukan atas tulisan. Maka qalam dalam konteks hari ini bisa diidentikkan dengan media sosial yang memiliki peran yang sama, yakni memproduksi tulisan yang pengaruhnya bisa negatif maupun positif.

Berbicara atau menulis yang baik adalah tuntutan dari agama, agama melarang kita mencaci maki, memfitnah, mengatain orang dengan hal yang buruk, membuat permusuhan, meninggalkan rasa dendam dan hal-hal lain yang bersifat buruk. Oleh karena itu Islam mengingatkan pada ummatnya “salamatul insan fi hifdzil lisan” selamatnya manusia tergantung pada ucapannya atau tulisannya.

Berprilaku dalam media social tidak hanya menjaga tulisan atau ucapansaja melainkan pemanfaatan waktu yang tidak terkontrol mejadi masalah besar manusia zaman sekarang. Mereka dapat berjam-jam menghabiskan waktu hanya untuk kebutuhan media social, mereka terkadang lupa bertegur sapa dengan sesame, mereka menjadi orang yang individualis seolah tidak mementingkan orang lain, mereka dapat pula terjerumus pada kegiatan-kegiatan mubazir bahkan maksiat.

Kemunculan media social seakan menjadi tuan bagi manusia, manusia menjadi budak bahkan manusia seolah tidak ada artinya kalau tidak menyentuh media social. Penyadaran atas itu semua mejadi lebih penting, peran agama harus dikedepankan bahkan pemerintah harus hadir dalam merespon itu semua, sehingga media social dapat dimanfaatkan dengan nilai-nilai yang positif yang bisa mendorong manusia keaarah lebih baik dan maju baik secara social maupun dalam aspek ilmu pengetahuan.

Media sebagai Jalan
Pandangan media social memberikan dampak negative tentu tidak, banyak nilai positif yang dihasilkan dari media social bahkan media social dapat dikatakan sebagai jalan (wasîlah), media sosial juga merupakan perantara bagi banyak sekali hal baik. Melalui media sosial, seseorang dengan mudah bersilaturahim dengan orang lain yang di dunia nyata terkendala jarak geografis. Media sosial punya fungsi mempersatukan yang semula terpisah, memberi ruang komunikasi yang semula tanpa kabar.

Nilai positif lain, media sosial adalah menjadi alat yang bagus untuk mendistribusikan pesan kebaikan secara luas dengan mudah. Banyak mubaligh menyampaikan pesannya di media social, dalam bentuk tulisan, tanya jawab masalah seputar kehidupan, dan bahkan Vidio. Kita dengan mudah mengakses dan membagikan informasi atau wawasan bermanfaat lain, hingga menjadikan media sosial sebagai media syiar yang memberi pendidikan kepada publik tentang nilai-nilai Islam yang mencerahkan, rahmatan lil ‘alamin.

Surat al Maidah ayat 35 menyebutkan "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan carilah wasîlah yang mendekatkan diri kepada-Nya dan berjihadlah pada jalan-Nya supaya kalian mendapat keberuntungan". Wasîlah dalam konteks ini bisa kita perluas pengertiannya mencakup berbagai jalan, mekanisme, atau sarana yang bermanfaat bagi kebaikan, terutama untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah subhânahu wata‘alâ.

Fungsi positif media sosial tersebut bisa maksimal kita realisasikan ketika kitalah yang benar-benar menguasai media sosial, bukan dikuasai. Media social menjadi elemen sekunder bagi aktivitas kebaikan dan pendekatan kita pada Sang Maha Pencipta Allah SWT, bukan sebaliknya media social mendorong kita untuk terperosok pada perbuatan sia-sia, atau bahkan merugikan. Wallahu’alam.

* E. Mulya Syamsul, Penulis adalah Dosen FAI Universitas Majalengka

 


FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
Twitter: TINTAHIJAUcom
YouTube: TINTAHIJAU Channel









TINTAHIJAU CHANNEL
Banner Kanan 1

Twitter Update

Jarak Kelahiran Terlalu Dekat Punya Dampak Buruk Bagi Anak https://t.co/NVqCdl9kKK
Ekslusive! TPA Panembong Subang Terbakar Hebat https://t.co/duS8OF2zZ8 https://t.co/BLSi65mbWP
UU SDA Disahkan, PKS: Kedaulatan Rakyat Atas Air https://t.co/FOsioBB9Bw
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page