Follow us:

Langkah Strategis Menyandingkan Pendidikan dan Kebudayaan

Berkebudayaan adalah sebuah kegembiraan; itulah hakekatnya. Namun tanpa disertai “sikap toleransi”, baik dalam ruang sosial, ekonomi, politik, terlebih lagi dalam berebut ruang kekuasaan, selalu akan menghasilkan berbagai anarkisme. Itulah lebih kurang bunyi “adagium” yang menjadi penutup rangkaian proses panjang berbagai kegiatan pra-kongres hingga acara penutup Kongres Kebudayaan Indonesia (KKI), 5 – 9 Desember 2018, yang saya hadiri.

Lima hari berturut-turut, berbagai sudut ruang (indoor maupun outdoor), dari halaman hingga lapisan ruang lantai bertingkat) gedung Kemendikbud RI, disulap menjadi arena untuk menghadirkan berbagai ekspresi kebudayaan; dari “gastronomi, mural dan puisi himgga film, animasi, musik dan kaligrafi, serta debat dan orasi. Kesemuanya cukup memperkaya imajinasi untuk menguatkan bahwa, kebudayaan tidak semata “kata-kata, diksi, dan teks bacaan”, namun sebuah relasional kompleks yang membutuhkan perangkat dan peringkat “kecerdasan” dalam memahaminya.

Tonggak momentum kebudayaan yang digaungkan Presiden RI, saat menutup gelaran Kongres Kebudayaan 2018 di atas, sepertinya membawa angin segar bagi kelangsungan aktifitas kebudayaan kedepan. Selanjutnya tinggal bagaimana Pemerintah Daerah mampu memahami dan menyikapi secara bijak momentum ini.

Kebudayaan bukan semata diintepretasikan sebgai kontestasi panggung kreasi, namun lebih jauh kebudayaan harus berorientasi pada pencapaian tatanan pondasi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, yang harus terinternalisasikan kepada generasi penyinambung kebudayaannya

Berangkat dari sebuah pemikiran bahwa, ada sesuatu yang lepas dari tatanan hidup berbasis kultural yang selama ini menjadi pondasi langkah urang Sunda, sehingga menyebabkan kita menjalani kehidupan dengan cara “leungeun sacabak-cabakna, inggis ka linduan gedag kaanginan lantaran panon satempo-tempona, ceuli sadenge-dengena” karena alpa terhadap dimensi etik, yang berpangkal pada akal budi sebagaimana diwariskan para leluhur.

Dengan segera akan diluncurkannya Data Pokok Kebudayaan (Dapobud), yang saling melengkapi dengan Data Pokok Pendidikan (Dapodik), jelaslah hal ini merefleksikan, dengan siapa seharusnya Kebudayaan disandingkan. Bersyukur Pemerintah Kabupaten Subang terlebih dahulu sudah menangkap momentum ini dengan menyandingkan Pendidikan dan Kebudayaan sebagai lembaga strategis.

Dalam perspektif saya, menyandingkan kebudayaan dalam ranah pendidikan, sungguh merupakan langkah progresif yang layak diapresiasi. Karena dari langkah strategis itulah, sinergitas dua kekuatan lembaga ini mampu bisa mewujudkan esensi dan internalisasi nilai-nilai kebudayaan melalui proses pendidikan. Disamping itu pula, jelas sasaran yang akan dijadikan penguatan ketahanan budaya, yaitu generasi pendidikan yang akan menyinambungkan kebudayaannya. Langkah strategis ini layaknya perlu didukung dan dispresiasi oleh berbagai pihak, untuk tetap menjaga pemahaman dan marwah “dua sejoli” ini.

Bersyukur isu strategis ini telah secara elegan diakomodir oleh pihak pemerintah melalui langkah strategis yang sangat serasi dengan spirit Nawacita, Resntra Kemendikbud, Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan No 5 Tahun 2017, serta Program strategis Gubernur Jawa Barat dengan Jabar Masaginya.

Upaya sinergitas antara Pendidikan dan Kebudayaan sebagai langkah strategis dalam mengemban amanah undang-undang, adalah dengan amanat pasal 7 Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan, yang menyebutkan, “Pemerintah pusat dan/atau Pemerintah Daerah melakukan pengarusutamaan kebudayaan melalui pendidikan untuk mencapai tujuan pemajuan kebudayaan".

Oleh karenanya, bersama kita jaga dan kawal, langkah progresif Pemerintah Daerah Kabupaten Subang dalam pengelolaan budaya masyarakatnya, dengan langkah strategis menyandingkan Pendidikan dan Kebudayaan sebagai pasangan harmonis dan spektakuler saat ini. Dan mari kita jaga dan kawal pula, keharmonisan pasangan ini dari “PELAKOR”  dan orang-orang yang berpikiran sempit dan temporer, tentang pondasi orientasi kebudayaan. Hindari pemahaman dan pemikiran bahwa kebudayaan merupakan barang dagangan, semata hanya dieksploitasi sebagai tampilan semu temporer.

Maju terus Perndidikan dan Kebudayaan…

 
Nandang Kusnandar, Penulis adalah Ethnomusicologi & Pengamat Budaya



FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
Twitter: TINTAHIJAUcom



Banner Kanan 1

Twitter Update

Belasan Pot Bunga di Alun-alun Subang Dirusak Orang Tak Dikenal https://t.co/jRPYlaiiLa
Pemkab Majalengka Lelang 5 Jabatan Strategis https://t.co/5mEimHI8Y0
Di luar Ekspektasi, Warga Subang: Debat Capres Seperti Cerdas Cermat https://t.co/KHiXSwzuDq
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page