Guru Dalam Tapak Tilas Sejarah Perjuangan Bangsa

Guru, sosok yang layak digugu dan ditiru. Ucapan, perbuatan dan tingkah lakunya, selalu menjadi contoh dan suri tauladan tidak hanya untuk murid-murid yang belajar di dalam kelas, tetapi, juga menjadi panutan dan pusat segala informasi (pengetahuan) bagi masyarakat luas.

Suatu komunitas masyarakat yang berada di luar kelas. Masyarakat, sedikit atau banyak, bergantung sepenuhnya kepada mereka yang disebut dengan guru.

Secara sosial, guru mewakili satu kelompok masyarakat ideal. Hampir tidak ada masalah yang tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat, tanpa peran serta guru untuk menyelesaikannya.

Guru karena itu, sering ditahbiskan sebagai  peletak dasar peradaban.
Mereka bergaul bersama dalam lingkup kehidupan sehari-hari dan solutif dalam memecahkan masalah umat.

Sebetatapun rumitnya posisi masalah yang dihadapi masyarakat, guru selalu berdiri tegar untuk memecahkan masalah umat tadi. Karena itu, sosok ini sering di publish sebagai kelompok yang bukan hanya ditahbiskan sebagai wujud serba bisa, tetapi, juga ditahbiskan sebagai pusat solusi atas problem yang muncul di lingkup kehidupan masyarakat luas.

Dalam posisi demikian, guru memiliki peran yang demikian penting dan menjadi penentu atas segala dinamika masyarakat. Itulah mengapa UU Nomor 14 tahun 2003 tentang Guru dan Dosen, menyebut bahwa guru, harus memiliki kompetensi sosial dan kepribadian. Selain tentu, ia dituntut memiliki kompetensi lain, yakni kompetensi profesional dan komptensi pedagogik.

Apresiasi terhadap Guru
Berangkat dari nalar seperti ini, menjadi dapat difahami mengapa Franklin Delano Roosevelt  (1982-1945 M) yang menjadi Presiden selama empat periode (1933-1945 M) di Amerika Serikat, harus menyatakan suatu penghormatan terhadap mereka yang mengambil posisi sebagai guru. Guru dianggapnya sebagai penentu masa depan Amerika.

Senjata boleh kalah, tetapi, guru tidak boleh kehilangan arah. Mereka adalah kompas kehidupan suatu bangsa.
Salah satu yang terkenal atas penghormtan guru dimaksud, Franklin, beberapa saat setelah Pengeboman Pearl Harbor  yang dilakukan angkatan Laut Jepang, terhadap Armada Pasifik  yang berlabuh di Pangkalan AL Pearl Harbor, Hawai, pukul 0.7.38 di hari Minggu kelabu Desember 1941 ini, segera bertanya kepada seluruh stafnya dengan mempertanyakan ada berapa sisa guru di Hawai. Ia tidak mempertanyakan berapa banyak tentara yang mati, dan berapa banyak juga tentara yang masih hidup. Ia mempertanyakan berapa banyak guru yang masih tersisa.

Hal yang sama berlaku ketika Perdana Menteri Jepang menyaksikan bagaimana Amerika membalas kekalahan mereka di Pearl Harbor dalam bentuk serangan bom atom di Hirosima dan Nagasaki Jepang pada 6 Agustus 1945. Perdana Menteri Jepang, Naikaku Sōri Daijin, mempertanyakan ada berapa sisa guru yang tidak membusuk atau tidak menjadi mayat di Hirosima dan Nagasaki. Ia tidak mempersoalkan tanah Hirosima dan Nagasaki menjadi lepuhan tanah yang tidak berguna. Ia justru mempertanyakan berapa banyak guru tersisa.

Kedua pemimpin negara maju itu yakin, berapapun kerusakan material dan alam rusak hebat, sepanjang masih ada guru, maka, peradaban manusia di bumi, khususnya di negeri mereka sendiri, masih dapat dilanjutkan. Peradaban dan ilmu pengetahuan hanya mungkin dapat ditransformasi oleh mereka yang memiliki profesi guru.

Betapa mulianya guru di hadapan mereka.
Dalam literatur sejarah masyarakat dunia, hampir tidak ada satu keterangan yang mengabaikan peran guru dalam membangun peradaban negaranya. Karena itu dalam terminologi Islam, kata guru umumnya dinamakan Mu’alim, mua’dib dan murabbi. Merekalah yang memiliki sejumlah ilmu pengetahuan, mampu beradaftasi secara sosial dan memiliki sikap budi yang layak digugu dan ditiru. Bagaimana dengan guru di negeri kita?

Peringatan Hari Guru
Di Indonesia, persoalan guru terus dilakukan transformasi, khususnya setelah reformasi bergulir. Era ini bukan saja berhasil mengubah wajah guru dari pengabdi menjadi profesi, tetapi, juga penghormatan finansial atas apa yang dilakukan mereka.

Sistem meritokrasi untuk kepentingan merekapun relatif lebih terjamin dibandingkan dengan lima dasawarsa sebelumnya.
Berbagai UU dan Peraturan Pemerintah yang melindungi profesi guru, terus terbarukan mengiringi sejumlah perubahan kebangsaan Indonesia.

Di letak inilah, guru memiliki harapan sekaligus masa depan yang relatif baik dibandingkan periode-periode sebelumnya. Itu kata kunci penting, mengapa pada akhirnya, profesi guru mulai dilirik banyak kalangan, termasuk oleh mereka yang disebut kaum milenial.

Di masa lalu, apa yang disebut dengan profesi guru, umumnya hanya dilirik kaum tua dan mereka yang berada di pedesaan. Hal ini terlihat dari beberapa hasil penelitian yang menyebut bahwa lulusan SLTA yang masuk ke fakultas-fakultas pendidikan, rata-rata adalah mereka yang berlatar desa dengan tingkat IQ kelas tiga dibandingkan dengan anak-anak yang masuk ke profesi lain.

Hari ini, hasil penelitian itu, tampaknya akan mulai goyah. Fakta bahwa banyak alumni SLTA yang justru masuk menjadi calon guru.
Meski demikian, catatan atas nasib mereka, memang masih perlu peningkatan. Mengapa? Sebab berbagai narasi perbaikan tentang nasib guru, sebagaimana dijelaskan di atas, selama ini hanya mengarah kepada mereka yang “kebetulan” menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Mereka yang menjadi guru, namun tidak menjadi ASN, perbaikan-perbaikan itu, tampaknya masih perlu acuan penting dan karenanya perlu penangan khusus.

Untuk itu, moment atas apa yang disebut sebagai Hari Guru Nasional yang jatuh pada tanggal 25 Nopember, semoga bukan hanya menjadi alat seremoni untuk mengenang mereka dalam kancah pendidikan, terlebih jika dipakai untuk kepentingan politik, tetapi, juga usaha yang terus perlu dimaksimalkan, mengingat  nasib mereka yang bukan ASN masih ckup banyak.
Selamat HariGuru Nasional.


Dr. H. Yayat Hidayat, MA, Penulis adalah Kepala Kementrian Agama Kab. Majalengka



FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIAJUcom
Twitter: TINTAHIJAUcom


Banner Kanan 3
Banner Kanan 2
Banner Kanan 1

Twitter Update

Peringati Hari Puisi, Budayawan Majalengka Gelar Macasukma https://t.co/CIyFGeOnY2
DPD PKS Subang: Kami Wakafkan Agus Masykur untuk Benahi Subang https://t.co/HyqZ6fcPTv
Ada yang Beda, Ini Penampakan Taman di Sisi Jalan Alun-alun Subang https://t.co/rRWfnWNV91
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page