[Opini] Money Politic, Cirlik dan Pilkades Kita

Kurang dari sepuluh hari lagi, tepatnya 5 Desember 2018 nanti, kita warga desa khususnya di 165 desa se Kabupaten Subang, lebih khusus lagi Desa Karangsari, akan memilih siapa kepala desa yang dinilai pantas memimpin.

Sekitar 2.500 an warga desa yang punya hak pilih akan mencoblos antara Senopati Satu, Dasim Sumantri SE atau calon yang baru, Dodi Irawan. Masing masing calon kepala desa tentu sudah bersosialisasi baik secara langsung maupun tidak langsung melalui tim sukses, saksi atau para simpatisan. Berbagai cara tentu sudah dilakukan masing masing cakades untuk meraih hati warga desa. Itu tentu sah sah saja selama tidak ada aturan dan norma yang dilanggar.

Namun proses demokrasi yang tengah berjalan di tingkat paling kecil, paling bawah, di negara kita ini juga tidak luput dari praktek yang masih kurang sehat. Kita kerap mendengar calon kepala desa harus menyiapkan modal uang yang fantastis demi pemenangan sebagai kepala desa. Sudah tidak sedikit cerita yang beredar, kalau tidak punya modal tidak usah nyalon kepala desa. Begitu juga tingkat pemilihan yang lebih tinggi. Seperti calon anggota legislatif, calon bupati, gubernur bahkan sampai presiden. Hal ini masih menjadi PR kita bersama.

Yang pasti, jika calon kades harus mengeluarkan uang sekian banyaknya, banyak pertanyaan yang muncul kemudian. Darimanakah asal uang yang dikeluarkan calon kades? Lalu kenapa sampai sebegitu beraninya calon kades menghabiskan uang selama pencalonan? Apakah nanti setelah jadi, akan fokus bekerja untuk rakyat atau sebaliknya? Dan masih banyak lagi lainnya.

Jawaban jawaban dari pertanyaan di atas bisa jadi relatif. Tengantung siapa dan apa kepentingannya. Bagi saya, darimanapun sumber uangnya, menebar uang dengan tujuan untuk menang, itu pembodohan bagi rakyat. Asumsi yang muncul juga kemudian adalah, cakades sudah berhitung, katakan seandainya, ucap cakades, "saya habis sekitar Rp 500 juta sampai Rp 1 milyar, itu masih rasional karena saya masih ada potensi keuntungan yang bersumber dari Dana Desa dan semacamnya,".

Kalau demikian adanya, berarti pesta demokrasi yang kita lakukan masih sebatas seremonial. Pesta hura hura, pesta menggerogoti uang calon kades. Pesta yang hanya kesenangan semu sementara. Karena setelah pesta pilkades usai, siapapun yang terpilih, saya pastikan sebagian atau mungkin keseluruhan hak kita sebagai rakyat akan hilang. Cakades juga sudah merasa membeli suara rakyatnya dengan cirlik, saweran, atau serangan fajar yang sudah ditebarkan selama pencalonan.

Idealnya, kita harus kritis dengan situasi tersebut. Yang saya yakini hingga kini, money politic tidak akan pernah membuat pembangunan desa kita maksimal. Yang paling banyak mengeluarkan uang itulah yang paling berhasrat untuk berkuasa. Ingat, berkuasa, bukan mengabdi. Berkuasa bisa berarti merasa menguasai seluruh anggaran dan aset desa untuk kepentingan pribadi atau golongan.

Jika ditanya satu persatu, semua warga pasti sepakat, ingin pemimpin, dalam hal ini kepala desa yang jujur, adil dan amanah. Maka dari itu, mari awali dengan proses yang sehat, proses pilkades yang mengedepankan fastabiqul khairot, berlomba dalam kebaikan. Saling adu visi misi, adu rancangan program, adu kreativitas membangun desa. Tidak perlu saling menjelekkan, apalagi berseteru antar sesama kubu calon kades. Pada hakikatnya, kita semua warga satu desa, sesama rekan, teman bahkan saudara.

Sekali lagi, kita pasti sepakat, tidak mau memiliki pemimpin yang justru tersangkut kasus hukum, seperti yang terjadi di Desa Wanajaya dan Cinangsi yang ditahan polisi. Sudah cukup dua desa itu saja jangan terulang di desa lain. Apalagi Desa Karangsari yang kaya raya dengan potensi. Selamat memilih. Semoga Allah SWT memberikan jalan. Amiin


Ahmad Ripai, Warga Desa tingal di Pagaden

 


FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIAJUcom
Twitter: TINTAHIJAUcom


Banner Kanan 3
Banner Kanan 2
Banner Kanan 1

Twitter Update

Peringati Hari Puisi, Budayawan Majalengka Gelar Macasukma https://t.co/CIyFGeOnY2
DPD PKS Subang: Kami Wakafkan Agus Masykur untuk Benahi Subang https://t.co/HyqZ6fcPTv
Ada yang Beda, Ini Penampakan Taman di Sisi Jalan Alun-alun Subang https://t.co/rRWfnWNV91
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page