[Opini] Bobodoran Abah Duleh

Seingat saya, Abah Duleh adalah ikon pelawak tradisional Majalengka yang hingga saat ini belum tergantikan. Materi lawakannya banyak ditiru pelawak-pelawak lain. Hampir semua pelawak Majalengka pada dekade berikutnya menyadur mentah-mentah materi lawakan Abah Duleh. Ketenarannya mampu menembus luar wilayah Majalengka. Jika saja Abah Duleh pandai berbahasa Indonesia, tentu dia menjadi pelawak nasional.

Bagi orang yang sering menonton bobodoran Abah Duleh, mereka akan menyimpulkan bahwa materi lawakan Abah Duleh dari panggung ke panggung terkesan monoton, dengan pola teknik muncul yang itu-itu juga. Mestinya hal demikian menjadi membosankan. Tetapi pada kenyataannya tidak. Materi dan teknik muncul yang ‘itu-itu juga’ justru menjadi senjata ampuh untuk membuat penonton tertawa terpingkal-pingkal. Bahkan sebelum materi ditampilkan, melihat wajahnya saja orang sudah mulai tertawa. Abah Duleh mémang memiliki karakter wajah yang lugu sekaligus lucu.

Magnet Abah Duleh saya kira sungguh luar biasa, hingga penonton, siapa pun, tidak cacah tidak menak, menyukai lawakannya. Padahal materi yang dibawakan biasa-biasa saja, dengan bahasa yang sederhana, mudah dipahami orang, dan bahasa tubuh yang sederhana pula. Perawakannya yang ‘lintuh’ tidak cukup memberinya ruang untuk bergerak lincah, tetapi dengan gerak sedikit saja orang tak bisa menahan tawa. Kemampuannya menembak dialog pancingan – walaupun seperti sudah terpola – mencerminkan betapa sesungguhnya Abah Duleh adalah seorang yang memiliki intelektualitas tinggi.

Daya tarik Abah Duleh tidak hanya ada pada dirinya sendiri, namun melekat juga pada materi lawakannya. Ini menjadi alasan kenapa lawakan Abah Duleh banyak ditiru orang, bahkan sebagian di antaranya ditiru oleh para pelawak nasional. Artinya, materi lawakan Abah Duleh menjadi jaminan kuat untuk mengundang tawa, siapa pun yang membawakannya. Alasan lainnya adalah karena materi lawakan Abah Duleh mudah ditiru dan mudah dipelajari. Hingga anak-anak atau para pelawak pemula dengan mudah pula meniru lawakannya. Tentu saja, kualitas tampilannya akan berbeda dengan jika lawakan itu dibawakan sendiri oleh Abah Duleh.

Materi lawakan Abah Duleh, selain dibuat sendiri, ada pula yang dibuatkan orang lain. Sebutlah Edi Jubaedi, seorang penanggung jawab bidang kesenian di Pabrik Gula Kadipaten pada tahun 1970-an, yang kreatif membuatkan sejumlah materi lawakan untuknya. Bersama Edi Jubaedi, Abah Duleh bergabung dengan Reog Pabrik Gula Kadipaten, dan pada saat itulah dia mendapatkan pengalaman dan pengetahuan cukup dari Edi, tentang bagaimana membawakan suatu lawakan, baik individu maupun kelompok.

Terlepas dari seberapa bagus materi yang dibuatkan oleh Edi Jubaedi untuk Abah Duleh, kiranya kekuatan karakter melawak Abah Duleh sendiri mémang pantas diperhitungkan. Selain memiliki mimik muka yang lucu, ia juga memiliki intelektualitas tinggi. Pada waktu-waktu tertentu ia mampu melepaskan diri dari materi rutin – yang menurut beberapa kalangan seperti sebuah hafalan – dan tampil menurut situasi yang dihadapi. Bagaimana para pejabat Pemerintah Kabupaten Majalengka tertawa terpingkal-pingkal saat mendapat sentilan-sentilan lucu dan segar dari Abah Duleh. Lantas, pada saat yang lain ia mampu membuat ruangan PGRI Kabupaten Majalengka yang dipenuhi para guru peserta workshop menjadi gemuruh karena lawakannya yang bermaterikan tentang kehidupan guru. Artinya, ia bukan hanya pandai melawak di tingkat kalangan bawah, tetapi juga mampu merangsek ke tingkat menengah dan atas.

Ketika di televisi banjir pelawak muda dan berkualitas, serta beberapa materi lawakannya digunakan orang secara nasional, ditambah dengan berkurangnya minat masyarakat menanggap kesenian tradisional, frekuensi Abah Duleh melawak di panggung pun berkurang. Abah Duleh mencoba mengadu nasib dengan memasuki wilayah dakwah. Abah Duleh menjelma menjadi seorang da’i. Beberapa kali panggung dakwah dilakoninya dengan – tentunya – mengandalkan daya tariknya sebagai pelawak. Materi dakwahnya pun banyak dibumbui materi lawakan.

Abah Duleh, kini hanya tinggal kenangan. Ia meninggal beberapa tahun silam dengan meninggalkan sejuta kenangan. Orang Majalengka, bahkan orang Jawa Barat yang pernah terhibur olehnya merasakan kehilangan sangat. Pantas dia menjadi maestro sebagai pelawak pelopor di Majalengka. Sebab,  dari sejumlah pelawak yang ada di Majalengka, belum seorang pun mampu menandingi kepiawaiannya membuat kelucuan, baik dengan materi terpola maupun spontan.***

Oleh: Asikin Hidayat, Penulis adalah Ketua Dekkma Kab. Majalengka

FOLLOS SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
Twitter: TINTAHIJAUcom


Banner Kanan 3
Banner Kanan 2
Banner Kanan 1

Twitter Update

Peringati Hari Puisi, Budayawan Majalengka Gelar Macasukma https://t.co/CIyFGeOnY2
DPD PKS Subang: Kami Wakafkan Agus Masykur untuk Benahi Subang https://t.co/HyqZ6fcPTv
Ada yang Beda, Ini Penampakan Taman di Sisi Jalan Alun-alun Subang https://t.co/rRWfnWNV91
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page