Follow us:

'Menelanjangi Kemolekan Mojang Patimban'

Sejak 2014 saya meramu keunikan Patimban dalam riset proposal. Dosen pembimbing saat di ITB sejak awal sering saya mintakan pandangannya, beliau seperti merasakan dan seolah melihat keunikan Patimban adalah sosok perempuan yang memiliki daya pikat. Diskusi berakhir dengan penajaman rencana penelitian.

Tak kurang dari 6 professor tertarik akan kemasan Patimban, detail-detail Patimban telah panjang lebar didiskusikan. Tarik-menarik alur penelitian bahkan tak terasa sampai 6 bulan prosesnya.

Ada peluang kemolekan Patimban ditelanjangi dan dieksplorasi di Berlin, di Eindhoven, di Erfurt dan di Kyoto. Sejak Patimban menjadi topik PhD, maka semuanya bukan sekedar proses berkuliah dan bertatap muka dosen dan mahasiswa.

PhD adalah dinamika nyata membedah kasus dan menyandingkannya dengan bingkai teori dan metodologi. PhD adalah proses panjang dua manusia, doktorand dan doktorvatter, promovendus dan promotor. PhD adalah hijrahnya keluarga memasuki dunia baru, mustahil melaluinya terpaut jarak dan waktu.

Setelah menimbang banyak hal tarik ulur tema riset saat berkorespondensi akhirnya Mojang Patimban mengisi setiap sudut di Institut für Landnutzung und Governance (Institute for Land Use and Governance) di Leibniz Zentrum für Agrarlandschaft Forschung (Leibniz Centre for Agricultultiral Landscape Research) Müncheberg, Jerman.

Cerita Patimban selalu memberi impresi baru dan berbeda bahkan sampai ke 3 benua 4 negara. Respon para kolega selalu sama, Patimban adalah tempat baru menggali ilmu.

Patimban masih rupawan, sama seperti Jade Wesserport di Niedersachsen Jerman. Keduanya menjadi sebuah pilihan yang tiba-tiba muncul tanpa gembar gembor media, sedikit keluar dari tradisi perencanaan sebuah megaproyek. Keputusan yang cepat dan minim kerumitan karena investasi bergerak masif mendahului proses normatif.

Kalau Jade Weser Port dilandasi kebutuhan sandarnya megacargo dari China yang masuk Eropa dan tak didukung Hamburg dan Bremen, maka Patimban dilirik kelompok industrialis Jepang yang melihat kebutuhannya tak terpenuhi di Tanjung Priok. Kesamaan Mojang Patimban dan Gadis Jade hampir identik, keduanya menjadi Deepwater Seaport pertama di Eropa dan di Indonesia, pelabuhan yang memiliki platform penghubung daratan menuju loading-dock terminal.

Keduanya sedikit menguasai lahan daratan dan keduanya memiliki keunikan tata ruang. Terpenting yang membuat semua yakin akan Patimban dan Jade Weser Port adalah, keduanya menjadi motor pertumbuhan kawasan baru, menggerakan ekonomi lokal dalam skala sangat besar dan memberi bangkitan ekonomi luar biasa bagi Subang dan Wilhelmshaven, Jawa Barat dan Lower Saxony, DAHSYAT!  

Tuntas sudah mengenali Mojang Patimban lebih intim, diskusi dan mendengar suara warga setempat, petani, pemilik lahan, pelaku wisata dan buruh penggarap lahan, nelayan serta pemerhati lingkungan telah memberikan gagasan dan pemikirannya akan masalah kini dan masa depan Patimban. Saatnya kembali mendekap Gadis Jade yang telah menunggu dalam dinginnya musim gugur.

Kemana setelah ini cerita Patimban mengalir? kita nikmati kisah perjalanan berikutnya...

Roni Susman, Penulis adalah Warga Subang yang Kuliah di Technische Universitat Berlin, Jerman

FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
Twitter: TINTAHIJAUcom


Twitter Update

Tim Futsal Putri Univ. Majalengka Juara 1 Open Futsal Turnamen Wil 3 Cirebon dan Priangan https://t.co/cftWqKlKs7
Surprise! Ini Penampakan Wisma Karya Subang Saat Malam Hari https://t.co/y81mjDemrC
Dua Ruang SMPN Ambruk, DPRD Majalengka: Segera Ajukan Bantuan https://t.co/jH9ejRFyom
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page