Follow us:

Karena 'Mesra' Jabar Juara Lahir Batin

Nyentrik, inovatif, berilian, banyak ide dan apapun padanan katan yang akan di sematkan padanya tida lain adalah Ridwan Kamil sosk Gubernur Jawa Barat yang memenangkan kontenstasi Pilgub Jabar pada tahun 2018 ini, dengan gayanya yang khas dapat merangkul semua golongan terutama masyarakat milinial (kekinian), RK panggilan akrab Ridwan Kamil, banyak menyedot perhatian. Salah satu inovasi yang di gagasnya adalah Kredit berbasis Masjid, sebuah cita-cita yang RK jadikan Visi dan Misi Jawa barat Juara Lahir Bathin sebagai jargon dagangannya.

Salah satu yang banyak mendapatkan perhatian penulis adalah istilah “MESRA” Masjid Sejahtera, kata mesra banyak di identikan dengan berbagai hal khususnya prilaku manusia yang suka bersosial, apabila terlihat sepasang laki-laki dan perempuan berjalan berduaan dengan gendengan tangan itu disebut mesra, apabila anak dan orang tuanya sangat akur dan guyub itu disebut mesra dan apapun yang terjadi yang apabila ada hubungan antara dua orang yang saling melakukan “hubungan” yang konsisten maka itu dikatakan mesra, oleh karena itu kata Mesra sangat erat hubungannya dengan nilai positif yang ditampilkan oleh dua orang makhluk hidup didunia dengan landasan “hubungan”.

Kata Mesra “hubungan” dapat menjadi jembatan kebendaan atau prilaku baik bagi yang menghubungkan maupun yang melakukan, akantetapi dalam hal ini yang dimaksud dengan MESRA adalah bentuk kepanjangan sebuah kata ‘Masjid Sejahtera’. Konsepsi inilah yang dirumuskan RK dalam programnya sebagai Gubernur Jawa Barat, konsep tersebut tentu berkaca pada masyarakat Jawa Barat yang merupakan mayoritas muslim dengan jumlah tempat ibadah (masjid) sangat banyak, dengan konsep itupula RK akan mengangkat sisi perekonomian masyarakat Jawa Barat yang berlandaskan pada Masjid sebagai pusat kebudayaan, pendidikan dan tentunya ekonomi.

Agak janggal kedengarannya, bagaimana pula membangun ekonomi dari masjid atau landasan apa yang dipakai RK untuk mengangkat masjid sebagai pendorong kegiatan ekonomi bahkan lebih jauh masjid di cita-citakan sebagai pusat segala bentuk kegiatan yang dibutuhkan oleh masyarakat muslim yang mayoritas di Jawa Barat ini, bukan anggapan yang pesimis ataupun tendensius, sehingga penulis mengangkat tema ini untuk kita diskusikan bersama, terlebih penulis sebagai warga Jawa Barat yang rindu akan kehadiran masjid sebagai pusat peradaban masyarakat bukan masjid hanya di bangun seperti kontenstasi arsitektur tapi jauh dari subtansi isi masjid itu sendiri. Penulis, memperhatikan perkembangan masjid disetiap daerah terus tumbuh bahkan kesadaran orang mendirikan atau membangun masjid sangatlah tinggi, dengan bentuk penyebaran proposal yang dilayangkan pada para agnia, pengusaha atupun siapapun mereka yang penting mulim tidak peduli kaya atau miskin pasti tertarik pada pembangunan masjid. Itu artinya kesadaran masyarakat terhadap masjid perlu mendapatkan perhatian walaupun kegiatan itu tidak berbanding lurus dengan pemanfaatan masjid sebagai tempat ibadah, karena yang terjadi selesai membangun masjid yang menjadi pengisi hannyalah mereka yang telah berumur (lanjut usia).

Membangun ekonomi dari masjid
Pada beberapa kesempatan, penulis menyajikan esay tentang ekonomi masjid yang mengurai tentang bagaimana membangun ekonomi dimulai dari masjid, karena masjid bukan hanya di pandang sebagai pusat kebudayaan tetapi masjid bisa menjadi basis atau asas atau mabda dari ekonomi, masyarakat yang gemar kemesjid dan melakukan segala sesuatu dimulai dari masjid tentu akan berbeda kehidupannya dengan orang-orang yang tidak bahkan janrang ke masjid, hal ini telah banyak di janjikan dalam ajaran islam bahwa Masjid merupakan tempat yang telah di janjikan oleh Allah sebagai tempat segala sesuatu untuk melakukan dan merencanakan kehidupan di dunia ini.

Kita tahu bahwa Rasulullah Muhammad SAW memulai dakwahnya untuk mengegakan Agama Allah dimulai dari masjid, pada saat peristiwa Isra dan Mi’raj, Rasulullah memulai melangkahkan kaki dari masjid dengan memulai shalat sunah dua rakaat dan begitupun saat singgah beliau lakukan di masjid dan memlakukan shalat sunnah yang dikenal dengan shalat ahiyatul masjid, memulai dari masjid bukan merupakan perintah tetapi tentu melebihi perintah yang melainkan dari kebiasaan Rasulullah apabila akan melakukan atau merencaakan sesuatu tentang kehidupannya.

Konsepsi MESRA yang di gagas Gubernur Jawa Barat terpilih RK dan UU, membuka harapan baru bagi keberlangsungan masjid dan juga keberlangsungan budaya Jawa Barat yang mayoritas muslim untuk selalu rukun, sopan dan santun serta masyarakat yang mempunyai kepeduliah social yang sangat tinggi yang telah terbentuk sejak zaman lalu dan dipupuk ulang pada zaman sekarang apalagi dimasukan menjadi bagian gerak kerja dari Gubernur Jawa Barat untuk lima tahun kedepan. Konsepsi ini digambarkan oleh RK sebagai berikut:

Penjelasan RK yang di unggah dalam laman fb-nya tanggal 8 Oktober 2018 pukul 13.18, RK menjelaskan bahwa, “MULAI BULAN DEPAN, warga Jawa Barat yang miskin/pra-sejahtera, berkesusahan, terjerat utang ke rentenir dan butuh modal usaha cukup datang ke Masjid. Tanpa Bunga berbunga. Tanpa Agunan. KREDIT BJB MESRA akan rilis bulan depan. Warga cukup datang ke masjid di desa atau kampungnya dan disetujui oleh pengurus DKM via smartphone. Sisanya Bank BJB yang akan tindaklanjuti. Pinjaman untuk 1 tahun. HAL SERUPA juga sedang disiapkan untuk penganut agama lainnya melalui rumah ibadahnya masing-masing. DULU HIDUPNYA susah dan jarang ibadah, setelah program ini menjadi warga yang lebih religius dan lebih Sejahtera. Financial Inclusive by West Java Government. #JABARJUARALAHIRBATIN.”

Konsepsi ekonomi yang di bangun dari masjid menjadi dan tempat ibadah lain menjadi landasan pembangunan Jawa Barat menuju JUARA LAHIR BATIN yang sering menjadi jargon disetiap kesempatan yang terus di gelorakan oleh RK. Adabanyak hal yang harus warga Jawa Barat persiapkan untuk menyambut gagasan besar seperti ini, karena masjid dan tempat Ibadan yang dipilih, maka tentu hal utama dan pertama bagaimana kesiapan para pengelola atau pengurus masjid dan tempat ibadah itu dalam melayani gagasan ini.

Masjid sejahtera ataupun rumah ibadah lainnya sejahtera menjadi dambaan penganutnya, tempat ibadah sejahtera akan banyak menghadirkan manfaat bagi penganutnya, karena rumah ibadah adalah rumah kebanyakan orang maka rumah ibadah akan banyak dimiliki oleh banyak orang pula dan program yang dikembangkannyapun akan menjadi santapan semua jamaah dari tempat ibadah itu, oleh karena itu ummat diajak menjadi penganut yang militant yang bias membangun bukan hanya dirinya tetapi tempat ibadahnya sehingga menjadi MESRA yang dapat memberikan manfaat bagi Jemaah yang lain.

MESRA Kebutuhan Dasar Masyarakat Jawa Barat
Gambaran konsepsi besar yang di gagas RK sebagai Guernur Jawa Barat tidak lama lagi akan menjawab kebutuhan dasar masyarakat Jawa Barat yang notebene mayoritas muslim. Bangunan ekonomi menjadi kebutuhan dasar masyarakat Jawa Barat, bagaimana pemimpin menghadirkan landasan kesejateraan yang dapat di nikmati langsung oleh warganya. Problem ekonomi masyarakat di hadapkan pada berbaga permasalahan dasar, kebutuhan yang mendesak dan ketidak mampuan mengolah sumber daya alam menjadi problem laten yang terus tumbuh dari satu generasi ke generasi yang lain, dalam menindaklanjuti hal ini dibutuhkan konsep dan strategi yang jitu supaya bisa dilaksanakan oleh masyarakat apalagi konsep dan trategi itu dikembangkan dengan nilai-nilai budaya dasar masyarakat secara social maupun spiritual.

Kemunculan MESRA menjadi pangkal masyarakat dalam mewujudkan kesejahteraan masjid dan penghuninya, masyarakat Jawa Barat dipaksa untuk menjadi bagian dari tempat ibadahnya masing-masing tidak terkecuali masjid, apabila ekonomi ingin tumbuh, apabila kesejahteraan ingin meningkat dan apabila usaha ingin maju maka jawabannya adalah lakukan pendekatan dengan masjid, maka kita akan menuju MESRA dan tercapai JUARA LAHIR BATIN. Menurut Sidi Gajalba (2001) bahwa masjid mempunyai delapan fungsi yatu:

  1. Masjid adalah pangkal tolak muslim dalam usaha atau pekerjaan sehari hari, setelah Shalat subuh mereka menuju kelapangan pekerjaan atau usaha masing-masing. Jadi masjid merupakan pangkal tolak dari pekerjaan atau kegiatan muslim dalam kehidupan atau kesatuan sosialnya.
  2. Masjid adalah penutup dari pekerjaan atau kegiatan social muslim sehari-hari. Sebelum menuju tempat tidur, ia melakukan shalat Isya. Semua cita dan amalan hari itu ditarik dan dikontrol dalam diri masjid.
  3. Muslim yang rata-rata sekali lima jam berhimpun dalam masjid, membentuk ikatan antara sesamanya. Ikatan itu membentu kesatuan social antara mereka, yaitu kesatuan social muslim. Disekitar masjid, dalam mana dilakukan shalat sehari-hari tersusunlah Gemeinschaft. Kesatuan social muslim yang kecil adalah segolongan orang yang memakai masjid salat sehari-hari sebagai pusat kehidupan sosialnya.
  4. Kesatuan soail muslim yang lebih besar lingkungannya, memakai masjid jami sebagai pusat kehidupannya.
  5. Kesatuan social sedunia muslim mengambil masjidil haram, pusat seluruh masjid, sebagai pusat kehiduapn sehari hari.
  6. Kedudukan dan tempat social wanita diluar masjid (dalam masyarakat) sejajar atau analog dengan kedudukan dan tempat wanita didalam masjid.
  7. Masjid dengan nyata menjalankan fungsi social perantara wakaf, yang dihubungkan dengan dia.
  8. Prinsip tugas social masjid yang digariskan oleh nabi dalam masyarakat yang belum berkembang, berlaku pada zaman sesudah itu sampai sekarang dan juga berlaku dalam masa datang.

Dari konsep inilah tentunya masjid dapat dijadikan sebagai pusat pembangunan ekonomi sebagai mana dimaksud dalam berbagai wacana bahwa memnagun ekonomi masyarakat muslim harus dimulai dari masjid.

Keridit MESRA
Keredit Mesra, menjadi tema pokok dalam tulisan ini, bangunan kredit ini akan di fokuskan apda masyarakat Jawa Barat yang terlilit rentenir atau lintah darat dan miskin pra sejahtera dengan tujuan utama masyarakat Jawa Barat dapat lebih religious dan lebih sejahtera lahir dan batin.

Sebagai formula dasar keredit mesra harus memperhatikan berbagai aspek yatu:
Aspek Budaya
Yang dimaksud dalam aspek ini adalah masyarakat Jawa Barat sebagai masyarakat yang berbudaya mempunyai nalar social yang kuat terhadap keberadaan masjid yang hanya dipakai untuk tempat ibadah tidak akan dikaitkan dengan berbagai kegiatan selain ibadah, sebagai contoh ketika masjid dipakai untuk sarana penyampaian visi dan misi kepala daerah atau pemimpin daerah itu tertolak dengan jargon bahwa masjid tidak bisa dipakai untuk sarana politik dan masjid haya bisa di pakai untuk menumbuhkan kecintaan kita kepada sang Haliq Tuhan Maha Pencipta alam semesta.

Aspek Sosial
Pada aspek ini, masjid biasa di urus oleh orang-orang yang mempunyai nilai dan tatanan ekonomi dan pengetahuan keagamaan yang mempuni, dalam hal ketua DKM yang ada adalah seorang kyai yang mempunai kepercayaan dan reputasi baik di tengah-tengah masyarakat, kenapa hal ini dilakukan, ini dikarenakan bahwa tatanan social masyarakat lebih mempunyai nilai penghormatan yang lebih terhadap sosok orang yang mempunyai kemapanan dalam bidang ekonomi dan agama ataupun sebaliknya, aspek ini harus dipertimbangkan secara matang dalam mewujudkan konsepsi MESRA.

Aspek keberlangsungan atau manajemen
Aspek ini mengukur kelembagaan dari tempat ibadah (masjid), organisasi DKM yang berada di daerah-daerah tidak mempunyai tata organisasi yang modern dan bahkan jauh dari kesan organisasi modern, hal ini akan memperlambat tercapainya caita-cita tersebut. Penataan organisasi merupakan agenda yang paling utama sebelum di luncurkannya konsep MESRA yang akan menaungi masyarakat yang terjerat renntenir dan pra sejahtera. Selain itu aspek keberlangsungan atau kelembagaan ini akan menjadi pembatas bagi masyarakat yang tidak terbiasa melakukan aktifitas di masjid, apakah dengan yang lima waktu atupun yang lainnya, sehingga landasan ini harus dipikirkan dengan jelas agar masyarakat dapat dengan baik menerima dan melaksanakan kesejahteraan ini melalui masjid dan pribadinya.

Aspek agama
Aspek agama adalah aspek yang paling dominan, dengan pertimbangan aspek ini ada banyak tek-tek suci yang dapat dibaca oleh kita tetapi sepertinya membatasi kegiatan kita di dalam masjid, padahal ada banyak pula tek suci yang memberikan peluang untuk semua dilakukan dimulai dari masjid. maka landasan QS. 62:10 yang artinya “… Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak banyak agar kamu beruntung…” harus menjadi ruh bagi setiap muslim untuk menjalankan kegiatan ekonominya, apabila kegiatan ekonomi dumulai dari masjid maka hasilnya akan lebih menguntungkan, oleh karena itu bangunan ekonomi masjid adalah pondasi kesejahteraan ummat Islam yang ditawarkan Allah SWT pada kita untuk dilaksanakannya.

Ada banyak petunjuk yang Allah sampaikan dalam al-Qur’an dalam membangun ekonomi, mulai dari cara manusia mengamalkannya, menuntunnya sampai pada bagian praktik dari ekonomi tersebut seperti halnya pada jual beli, untung-rugi, kredit dan sebagainya. Perhatikan beberapa firman Allah SWT:

Siapakan yang ingin memberi qard (keredit) kepada Allah dengan keredit yang baik, maka Allah akan melipatgandakan (qard itu) untuknya, dan dia akan memperoleh ganjaran yang banyak (QS. 57:11).

Dan sukakah Aku tunjukan sesuatu perniagaan yang menyelamatkan kamu dari siksa yang sedih?, (yatitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya (QS. 61:10-11). Wallahua’lam.


E. Mulya Syamsul, Penulis adalah Dosen FAI Universitas Majalengka


Twitter Update

Tim Futsal Putri Univ. Majalengka Juara 1 Open Futsal Turnamen Wil 3 Cirebon dan Priangan https://t.co/cftWqKlKs7
Surprise! Ini Penampakan Wisma Karya Subang Saat Malam Hari https://t.co/y81mjDemrC
Dua Ruang SMPN Ambruk, DPRD Majalengka: Segera Ajukan Bantuan https://t.co/jH9ejRFyom
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page