Follow us:

Majalengka di Era Revolusi Industri 4.0

Sebagai masyarakat Sunda, kita tentu mengenal sebuah pepatah dari karuhun Sunda yaitu “Robah mangsa, ilang jaman, ganti taun” pepatah tersebut apabila kita terjemahkan ke dalam sebuah kalimat yang lebih sederhana, memiliki arti bahwa kehidupan di dunia ini selalu berubah, seiring dengan berubahnya waktu. Tidak ada yang tetap (statis) dalam kehidupan manusia di dunia, seperti halnya yang dikemukakan oleh seorang ahli filsafat Yunani kuno yaitu Herakleitos, bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini berubah, kecuali perubahan itu sendiri yang tidak akan berubah.

Ketika semua hal yang ada di dunia ini berubah, demikian halnya dengan pola ekonomi manusia. Menurut Davies (2015) perubahan pola industri ekonomi atau biasa disebut revolusi industri di dunia sudah mengalami beberapa kali perubahan pola, diantaranya:

  1. Revolusi Industri 1.0, terjadi pada abad ke-18, merubah pola industri dari yang awalnya mengandalkan murni tenaga manusia kemudian mulai beralih menggunakan tenaga mesin uap;
  2. Revolusi Industri 2.0, terjadi pada abad ke-19, adalah awal dari penemuan dan pengembangan mesin produksi bertenaga listrik (elektrik) ditemukan;
  3. Revolusi Industri 3.0, terjadi pada abad ke-20, dimana mesin produksi telah menggunakan sistem komputerisasi dan memungkinkan untuk bekerja secara otomatis, mengikuti program pada komputer;
  4. Revolusi Industri 4.0, terjadi pada era sekarang ini, pada revolusi industri 4.0 ini manusia di dunia sudah berfikir untuk memanfaatkan teknolog informasi (internet of things)

Saat ini peradaban ekonomi dunia sudah memasuki era revolusi industri 4.0, termasuk Indonesia diantaranya. Kementerian Perindustrian Republik Indonesia sudah meluncurkan sebuah roadmap yang berjudul Making Indonesia 4.0, Roadmap tersebut adalah sebuah simbol bahwa Indonesia telah masuk memasuki era revolusi industri 4.0, selain sebagai simbol roadmap tersebut juga sebagai "peta" yang dapat digunakan oleh seluruh masyarakat Indonesia khususnya pelaku industri (baca: ekonomi) dalam menghadapi peluang serta tantangan di era revolusi industri 4.0

Karakteristik revolusi industri 4.0 adalah pemanfaatan teknologi informasi (internet of things) dalam berbagai bentuk peristiwa ekonomi. Misalnya saja, jika dahulu seseorang ingin memesan ojek dengan cara menghampiri pangkalan ojek atau dengan cara berteriak memanggil tukang ojek. Hari ini calon penumpang ojek dengan tukang ojek saling tertaut atau saling berhubungan melalui aplikasi pada smartphone masing-masing, melalui koneksi internet.

Contoh lainnya adalah pada transaksi jual beli, jika dahulu orang melakukan transaksi jual beli suatu produk dengan cara langsung (konvensional), tapi kini banyak orang yang sudah melakukan transaksi jual beli melalui online. Salah satu perusahaan e-commerce swasta yang beralamat shopback.co.id baru-baru ini melakukan survei di Indonesia, mengenai pola belanja masyarakat Indonesia saat ini. Hasilnya sungguh mengejutkan, sebanyak 70,2% responden mengaku bahwa keberadaan toko online mempengaruhi perilaku belanja masyarakat, sehingga responden mengaku lebih sering belanja melalui toko online dibanding toko offline.

Apa kabar Kabupaten Majalengka?
Sejarah peradaban manusia dengan tegas menceritakan bahwa peralihan era industri, selalu saja berdampak pada seleksi alam, yang menciptakan dua kemungkinan yaitu bertahan atau terbuang. Kabupaten Majalengka adalah sebuah kabupaten di Indonesia, yang memiliki jumlah populasi penduduk yang cukup banyak, data BPS tahun 2017 menyebutkan bahwa penduduk Kabupaten Majalengka berjumlah 1.193.725 orang, dengan jumlah angkatan kerja yang berpendidikan tertinggi Sekolah Dasar (SD) sebanyak 325.325 orang, dari total jumlah angkatan kerja 569.252 orang. Seperti yang kita ketahui bahwa angkatan kerja dengan pendidikan tertinggi Sekolah Dasar (SD), biasanya lebih cenderung memanfaatkan kemampuan psikomotor (fisik) daripada kognitif dalam bekerja.

Pertanyaan saya adalah, apakah revolusi industri 4.0 masih "ramah" terhadap angkatan kerja yang masih cenderung memanfaatkan kemampuan psikomotor (fisik) dalam bekerja? Apabila tidak ramah, pertanyaan saya yang kedua, apakah angkatan kerja di kabupaten Majalengka yang masih cenderung memanfaatkan kemampuan psikomotor (fisik) sudah siap menghadapi revolusi industri 4.0? []


*Gelar S. Ramdhani, Penulis adalah Blogger aktif di gelarsramdhani.com


Ikuti Lintasan Berita via socmed:
Twitter: @TINTAHIJAUcom
Instagram: @TINTAHIJAUcom
FB: REDAKSI TINTAHIJAU
Line: TINTAHIJAUcom


Twitter Update

Akhir Desember, Festival Kampungan Akan Gebrak Majalengka https://t.co/BCiEDNwMZk
Sebelum Ambruk, SMPN 2 Bantarujeg Sudah Kirim Surat Bantuan https://t.co/S3TpGyEpym
Gedung DPMD Majalengka Dirusak Massa, Polisi Kantongi 7 Nama Pelaku https://t.co/AWVM0TJOR2
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page