FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

     

     

     

LIPI Rekomendasikan Cara Pengelolaan Daging Kurban Selama Pandemi

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia merekomendasikan pengelolaan daging kurban yang aman pascapenyembelihan pada masa pandemi. Hal tersebut sesuai dengan Surat Edaran Kementerian Pertanian RI Edaran tentang Pelaksanaan Kurban aman di masa Pandemi Covid-19.

Kepala Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Satriyo Krido Wahono dalam Webinar Ngaji Teknologi Penanganan Produk Kurban di Masa Pandemi mengatakan, manajemen pengelolaan hewan kurban harus memperhatikan beberapa aspek, seperti aspek ilahiyyah (ibadah dan taqarrub) dan insaniyaah (kemanusiaan, sosial, dan ekonomi).

BACA JUGA:
Belajar dari Do'a-do'a Nabi Musa Saat Hadapi Cobaan Berat
Memaknai Kesungguhan Tobat Nabi Yunus, Ketika Hidup Dalam Perut Ikan Paus
Sesungguhnya Kesederhanaan Itu Adalah Bagian dari Iman
7 Website yang Dapat Memudahkan Kamu Berkurban Secara Online

“Aspek kesejahteraan hewan menjadi isu yang juga diperhatikan, untuk menghasilkan produk daging kurban yang berkualitas dan sesuai dengan syariat,” ujar Satriyo, Jumat 19 Juni 2020.

Satriyo juga mengatakan, aspek keamanan pangan yang berpedoman pada jargon ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal) harus tetap diperhatikan. Aspek itu harus mulai diperhatikan dari mulai pemeliharaan hewan kurban, penjualan, pengiriman, penyembelihan, hingga pembagian kepada masyarakat.

Peneliti domba Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam LIPI, Awistaros Angger Sakti mengatakan, dalam membeli hewan kurban, ia mengimbau agar masyarakat juga bisa meminimalkan kontak secara langsung. Ini sesuai dengan aturan baru dalam adaptasi kenormalan baru.

“Terdapat alternatif untuk memininimalkan kontak secara lansgung dengan membeli hewan kurban secara daring dengan mengetahui data gigi, foto hewan kurban secara fisik, dan bobot badan digital. Disarankan juga agar calon pembeli hewan kurban telah mengenal penjual,” ujar Awistaros Angger.

Peneliti Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam LIPI, Andi Febrisiantosa mengatakan, teknologi preservarsi daging bisa digunakan untuk mengatasi kerusakan daging agar tidak mudah membusuk, dan aman dikonsumsi masyarakat.

Menurut Andi, sebagian besar daging mengandung protein dan bahan-bahan organik yang sifatnya mudah rusak sehingga perlu perhatian khusus.

Kerusakan pada daging pascapenyembelihan dapat disebabkan tiga faktor yakni pertama faktor biologis (akibat mikrobiologi). Kedua faktor oksidasi (zat kimia), terakhir karena faktor dehidrasi dan enzimatik.

Terdapat tujuh teknologi preservasi daging yaitu cold storage, dehydrating, salting and curing, smoking and cooking, canning, irradiation, dan standardization, blending and emulsification.

Setelah dilakukan preservasi, daging dikemas dengan memeperhatikan aspek pengemasan yakni kemasan harus melindungi dari perubahan fisik, kimiawi, dan biologis serta efisien agar masyarakat yang akan mengonsumsi daging kurban tetap terlindungi.

“Pengemasan daging kurban terlebih dahulu dengan memanfaatkan teknologi sebelum didistribusikan adalah cara yang aman guna melindungi produk dan konsumen dari paparan penyakit,” ungkap Andi Febrisiantosa.

Sumber: Pikiran-Rakyat.com | Foto: Ilustrasi

FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom
E-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.


TRENDING TOPIC

TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Update Covid-19 Karawang, Tambah 3 Orang, 1 Meninggal di Purworejo https://t.co/Zf5uMdNo8s
Ridwan Kamil: Awal Tahun Depan Warga Jabar Bisa Dapatkan Vaksin Covid-19 https://t.co/GxNQF6SFzs
81 Orang Sembuh, Kasus Positif Covid-19 di Subang Tersisa 1 Orang https://t.co/dKm8GMXDzx
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter