FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Kenali Tandanya Jika Bayi Bahagia





Sebagai orangtua biasanya kita sudah bisa mengenali tanda (dan suara) bayi yang tidak bahagia. Misalnya saja lewat tangisannya yang keras. Sebaliknya, tanda-tanda si kecil bahagia lebih sulit diketahui.

Apalagi, bayi baru menunjukkan tanda bahagia yang umum, seperti tersenyum, sampai ia berusia sebulan.

BERITA TERKAIT:



Cara Memilih Stroller (Kereta Bayi) Yang Cocok untuk Bayi Kamu
Peneliti Ungkap Komunikasi Antara Ibu dan Bayi di Rahimnya


Tanpa perlu menebak-nebak, sebenarnya ada beberapa tanda bayi merasa bahagia di awal kehidupannya.

- Baru lahir
Melihat wajah dan mendengar suara ibu dapat menenangkan bayi. Walau begitu, jangan berharap ia akan memandang Anda dengan mata berbinar-binar. Besar kemungkinan hanya akan menatap wajah ibunya dengan pandangan datar.

“Saat baru lahir, kemampuan bayi untuk menunjukkan emosi positifnya hanya berupa menatap wajah orangtuanya dengan damai. Cara bayi berkomunikasi hanyalah menangis atau diam. Saat ia menatap wajah kita, ia sebenarnya mengatakan bahwa hidupnya bahagia,” kata pendiri Baby Signs Inc, Linda Credolo Ph.D.

- Usia 0-3 bulan
Ketika bayi menyesuaikan tubuhnya dengan lengan orang yang menggedongnya dan tidak melengkungkan badannya, itu adalah tanda ia merasa nyaman.

Di usia ini, sumber kebahagiaan bayi adalah jika kebutuhan dasarnya terpenuhi: Orangtua merespon tangisannya, memberinya makan, mengganti popoknya, dan menidurkannya.

- Usia 1-3 bulan
Ketika bayi berusia 4-10 minggu, ia mulai tersenyum secara spontan sebagai reaksi pada sesuatu yang dilakukan orangtuanya padanya. Sebelumnya bayi hanya tersenyum ketika ada hal-hal internal yang membuatnya nyaman, misalnya buang gas, atau refleks tersenyum (saat tidur).

- Usia 3-6 bulan
Senyumannya berkembang menjadi tawa,, terutama karena sentuhan dan stimulasi dari ibunya. Misalnya saat ibunya menggosokkan ujung hidungnya ke hidungnya, atau menggelitik telapak kakinya.

- Usia 4-7 bulan
Pada awalnya, “ucapan” adalah seri dari suara konsonan yang dirangkai bersama. Bayi belajar suara-suara itu dari mendengarkan intonasi suara orang di sekitarnya.

“Ketika bayi mengeluarkan nada-nada tinggi, mereka sedang menunjukkan ketertarikan pada sesuatu atau rasa senangnya berinteraksi dengan ibunya,” kata peneliti kognisi dan komunikasi bayi, Athena Vouloumanos.

Sumber: Kompas | Foto: Pexels



FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom



TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Bukan Hanya Kecupan Manis, Ternyata Ada 10 Fakta Unik Tentang Ciuman https://t.co/6IDiMSg2wV
Sekda Subang: PMI Garda Terdepan Urusan Kemanusiaan https://t.co/0RfqdyeJjz
Go Digital, UMKM Harus Siap Lonjakan Permintaan https://t.co/yJInVDevcG
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter