Aku Ingin Pulang....

Baru dua bulan Aku di sini. Bersama dengan ratusan “black Urband” dari bangsa tercinta. Mereka tinggal berdampingan dengan orang asli atau pribumi. Ironisnya, di saat berita di tivi gembar-gembor tentang penangkapan TKW gelap serta pemerintah ranah jiran yang begitu santer mengadakan operasi ke setiap tempat, namun orang-orang Indonesia di tempat ini dengan berbagai masalah yang menyangkut ijin tinggal dan bekerja, kelihatannya adem ayem saja, duduk tenang dan bekerja, bahkan ada yang bebas ngelayap ke tempat-tempat hiburan.

TINJAU CERPEN LAINNYA:
Pak, Malam Ini Bulan Hanya Separoh!
Kunang-Kunang Tanpa Cahaya
Ruwatan Bumi


“Heeeii Kak, Bang Amar tadi call Aku. Dia ngajak karaokean di pub dekat pangsapuri sana. Kita berangkat yok?” Ira, anak dara asal Medan yang kabur dari kedai karena tak dibayar agensi yang mengontraknya, lalu ditampung oleh keluarga melayu untuk menjaga anak-anaknya, mengajakku.

Terpulang lagi kenangan saat di kampung. Dulu aku sering sekali pergi enjoy dengan teman sepekerjaan, sekedar refreshing ke tempat karaokean. Tapi kenangan selintas itu cepat-cepat kutepis. Tidak! Aku disini tidak punya apa-apa. Tidak punya siapa-siapa. Aku gelap, kosong. Jika nanti tertangkap Polis, apa yang bisa kuperbuat? Tuhan, Aku tak mau neko-neko. Aku hanya ingin pulang. Menjumpai kembali wajah-wajah tercinta.  Mak dan anak semata wayangku.

Ira memang degil. Dia seperti tak begitu memikirkan resiko apapun meskipun Ia tak punya permit. Disini Ia berkumpul dengan saudara-saudara semarganya, sesama orang Medan yang banyak bekerja di kedai atau rumahan. Kerja bebas bukan dibawa agensi yang setiap saat selalu membatasi gerak.

“Kita ini gelap, Aning. Kita mesti kena jaga sikap. Aku dah delapan tahun lebih hidup disini. Dari dulu sampe sekarang sama macam Awak, tak ada permit. Tapi satu kalipun Aku belum pernah kena tangkap. Aku kerja baik-baik. Minta perlindungan orangpun dengan orang baik-baik. Aku dulu menikah dengan laki-laki Melayu. Dia baik, Aning. Nak uruskan ijin tinggalku.

Sayang, dia meninggal terlalu cepat. Setelah itu, aku kerja berpindah tempat. Seluruh Malaysia Barat ini pernah Aku singgahi sepertinya. Tapi Aku tak pernah buat pasal. Aku malah melihat kelakuan kaum dan bangsaku. Banyak perempuan Indonesia yang mencari duit dengan menghalalkan segala macam cara. Hidup kosongpun masih nak buat pasal. Yang pacaran sama Chinalah, Bangla, India. Awak dengar khan? Banyak perempuan Indonesia yang hamil tanpa jelas siapa Bapaknya. Sudah macam tu, bayinya kena jual pula. Macam-macam ulah mereka ni, aku muak Aning. Kenapa kaum dan bangsa kita tak bisa jaga maruah? Padahal mereka pergi dari kampung halamannya dengan bersusah payah, nak jihad buat keluarga. Cari duit di negeri orang untuk menghidupi keluarganya. Tapi tak sedikit pula, sesampainya di sini malah terjerumus oleh rayuan surgawi yang disuguhkan negeri jiran!” kak Nur, perempuan asal Aceh yang memberiku pekerjaan dan mengontrakan satu kamar di rumah plat yang juga Ia sewa dari seorang China, setiap hari selalu menasehatiku. Nasehat yang lama-lama kudengar seperti ceracauan.

Lantas menjadi semacam curahan hati. Ia berasal dari Aceh. Datang ke negeri  ini delapan tahun lalu, waktu itu Ia masih gadis belia.

“Aku keturunan Dien, Aning. Keluargaku keluarga terhormat. Aku datang kesini bukan niat kerja sangat, tapi seolah pelarian. Aku jenuh dengan lingkunganku. Pergaulan dengan mafia-mafia. Aku pengedar, pemakai juga. Aku lari ketika temanku tertangkap. Aku sempat jadi DPO Kepolisian. Itu makanya aku menghilangkan diri. Lima tahun sengaja lost contact dengan Mak dan Bapak. Ketika tiga tahun lalu kuberanikan diri menghubungi kakakku, Ia bilang, Mak dan Bapak sudah meninggal!” bergetar suara Kak Nur ketika menceritakan bagian itu. Airmatanya keluar menyusuri lembah pipinya yang cekung.

“Aku…sebenarnya  ingin pulang, Aning. Aku rindu rumah dan setiap kenangan yang pernah ada. Tapi itulah…Aku tak berani. Aku tak bisa membayangkan ketika Aku pulang tak kujumpai Mak dan Bapakku. Aku masih belum percaya kalau mereka pergi tanpa Aku tahu. Anak macam apa Aku Aning? Aku merasa berdosa. Itu makanya aku selalu menunda-nunda niat pulang!” Lalu tangisnya yang sedu sedan pecah seperti orang yang teramat sangat kesakitan.

Kulanggamkan istighfar dalam hati. Aku mengerti problema dan kesedihan Kak Nur. Bahkan disini, kujumpai seribu satu cerita yang melatar-belakangi kisah para Black Urband. Mereka bertahan, seperti betah di negeri orang. Seolah tak ingat pulang. Tapi sesungguhnya Aku tahu jauh di hati kecil mereka, mereka rindu pulang. Sebagian tak bisa pulang karena terjerat oleh ulahnya sendiri. Menikah siri, kena tangkap Polisi, yang frustasi bahkan pengemis dan orang gila asal Indonesia di sinipun banyak.

Aku bergedik. Aku ingin pulang Ya Rabb! Aku tak ingin hilang dalam terang. **



_____________
Dapatkan lintasan berita Subang via:

Follow Twitter: @tintahijaucom
Like Faceboook: Redaksi Tintahijau
Iklan & Promo: 089624350851


Facebook Page

Twitter Update

Warga Subang Jadi Korban Penipuan Komplotan yang Mengaku dari Mabes Polri https://t.co/hpL8KsGFr9
Hari ini KPK Jadwalkan Periksa Setya Novanto https://t.co/jfQ8KamYTn
Sebut Majalengka Darurat Teroris, Kiyai Maman Dinilai Lebay https://t.co/KA47QlYIlh
Follow TINTAHIJAU.COM on Twitter