Pak, Malam Ini Bulan Hanya Separoh!

“Pak, malam ini bulan hanya separuh ya? Kerja Bapak jadi tak terbantu dengan cahaya bulan yang hanya separuh!” Anak lelaki, usia sembilan tahunan, duduk berongkang kaki di bangku reyot depan rumah gubuknya. Di tangannya ada sepotong roti, yang sudah kering basi. Tapi ia begitu lahap menyuapkan roti itu ke mulutnya.

TINJAU CERPEN LAINNYA:
Kunang-Kunang Tanpa Cahaya
Ruwatan Bumi
Sri Panggung Jaipong

Bapaknya, tengah memilih sampah-sampah yang tadi siang dipungutnya. Dipisahkannya antara kertas dan plastik-plastik serta botol dan bekas minuman plastik ke dalam wadah yang berbeda.

“Sudah malam Pak. Bapak pasti penat. Besok saja teruskan pekerjaannya. Kita tidur yo pak?” Anak itu kembali berceloteh di sela-sela suapan-suapan nikmat rotinya.

“Tanggung Nak! Besok sampah-sampah ini sudah harus dijual. Kita kan sudah tidak punya beras satu bijipun. Kalau sekarang tak dibereskan, besok tak akan ditimbang bos. Kamu mau makan apa Nak!” Bapaknya menjawab sambil tak berhenti dari pekerjaannya. Menatap pada anaknyapun tidak.

“Kalau sudah ngantuk, kau tidurlah duluan Cup!” Bapaknya kembali bicara sambil tetap tekun memilah sampah. Ucup, nama anak itu, menggeleng.

“Nggak ah. Ucup tunggu Bapak selesai kerja saja. Tidur sendirian tak enak. Lagipula, Ucup tak perlua bangun pagi sekali Pak. Ucup kan tidak sekolah. Coba kalau Ucup sudah sekolah…” omongan Ucup tak lanjut. Matanya malah menerawang kosong ke angkasa. Seperti memperhatikan sinar sabit sang bulan.

Kali ini Bapaknya menghentikan pekerjaannya. Menoleh kea rah Ucup. Matanya nanap memandang anak semata wayangnya. Ada bilur kelabu pada tatap letih itu.

“Sabar Nak. Kemarin Bapak sudah daftarkan kamu ke Sekolah di seberang jalan itu. Tapi biaya pangkalnya terlalu mahal untuk ukuran kita. Lagipula, kamu belum punya akte lahir Nak. Untuk membuatnya, Bapak mesti mengumpulkan dulu biaya…” Ucapan Bapaknya penuh rasa bersalah.

Ucup menguncang-uncangka kakinya seraya tersenyum kea rah Bapak. Mungkin maksudnya menenangkan hati tua nan ringkih itu.
“Katanya ada biaya apa itu Pak? Murid-murid SD bersekolah gratis. Tak ada SPP. Tapi katanya, pungutan lain masih tetap ada. Bagaimana Ucup bisa sekolah?” omongan bocah sembilan tahun itu selalu lebih tua dari usianya. Ia kerap membuat Bapaknya tercengang dengan kata-katanya. Bapak juga selalu terharu jika anaknya mulai bermimpi tentang cita-citanya.

“Kalau Ucup bersekolah, Ucup akan menjadi pintar Pak. Ucup bisa punya ijazah. Bisa bekerja di pabrik atau perusahaan lainnya. Nanti Ucup mau nabung, mau nyicil rumah buat Bapak. Kita tak akan bangun gubuk di atas tumpukan sampah ini lagi Pak!” celoteh Ucup selalu jika Ia mulai berkhayal dan menginginkan bersekolah. Celoteh bocah kudus di tengah keprihatinan hidup yang kerap membuat Bapaknya trenyuh.

Usia Ucup sudah Sembilan tahun. Harusnya ia sudah duduk di kelas dua atau kelas tiga. Tapi kehidupan yang terlalu compang-camping membuat hidup Ucup dan Bapaknya tak mampu meski hanya sekedar bermimpi. Mimpi yang kadang terlalu melambung untuk ditapakkan dalam kenyataan. Untuk orang-orang seperti mereka, bersekolah adalah hal yang sangat jauh dari jangkauan.

Keberadaan mereka saja begitu terpinggirkan. Luput dari perhatian, bahwa mereka punya hak hidup, sama seperti yang lainnya. Bapak dan Ucup dan orang-orang yang tinggal di gubuk reyot kumuh di atas tanah Tempat Pembuangan Sampah Terakhir ini hanya seperti tikus-tikus got yang lalu lalangnya kelihatan namun tak ada yang mempedulikan.

“Pak, malam ini bulan hanya separuh ya Pak! Terkadang, mendapati bulan bulat yang cahayanya bisa menerangi pekerjaan Bapak saja Ucup sudah senang. Apalagi, kalau Ucup bisa bersekolah ya Pak?” ceracauan Ucup malam itu seperti bisikan saja. Suaranya melemah di ujung. Anak itu terkulai di bangku reyot. Ketiduran menunggu Bapaknya bekerja.

***
Dari halaman ini Pak Ucup memunguti sampah sembari memperhatikan keriuhan suasana di hadapannya.
“Aku ada kartu PJSnya, tapi kok gak dapet panggilan ya?” seorang perempuan sembari menggendong anak rebut mengobrol di antara kerumunan orang, dengan seorang Bapak.

“Lha terus, mau apa kamu kemari kalau tak ada panggilan?” Si Bapak bertanya bingung.
“Aku yo mau menanyakan langsung ke petugasnya. Sebelum ada pembaharuan data aku dapat jeh! Kenapa sekarang tidak?” si Ibu ngotot.

Di sudut lain, seorang lelaki tua pontang-panting mencari KTPnya yang hilang.
“Cari di rumah Pak! Barangkali ketinggalan jeh!” seorang Ibu menepuk pundak si bapak yang kelihatan gugup.
Pak Ucup menggeleng-gelengkan kepala. Lalu kembali asyik memunguti sampah plastik bekas minuman. Lumayan, cukup banyak juga yang menyampah  botol air mineral ini. Nasib baik tak ada saingan pula. Sesekali petugas parkir membantunya memunguti sampah.
“Tidak ikut antri pencairan dana BLSM Pak?” Tukang parkir mencolek pak Ucup. Pak Ucup hanya tersenyum, menggeleng. Bagaimana mau dapat? KTP saja tak punya. KK apalagi. Orang kecil seperti kami siapa yang mau menyentuh dan peduli?

Sekarang, mau mendapat bantuan saja mesti ada surat-surat. Mau pintar saja mesti lengkap administrasi plus duit. Bahkan orang matipun mesti lengkap suratnya. Yang susah tetap saja susah. Bantuan miskin tak menyentuh orang-orang seperti kami. Pak Ucup hanya menggerundel dalam hatinya. Roman wajahnya menyiratkan kepasrahan dan ketakberdayaan. Ya! Mau berbuat apa? Terima saja.

Menjelang sore Pak Ucup baru pulang ke gubuk reyotnya. Setelah menyimpan karung berisi sampah hasil pungutannya, ia bergegas masuk membawa sebungkus nasi buat Ucup. Tapi tak didapatinya anak itu di ruang sempit serbaguna itu. Pak Ucup kembali keluar. Matanya mengitar ke sekeliling. Bocah itu tak tampak di penglihatannya. Kemana Ucup?

Dengan rona cemas wajahnya tengadah   menatap langit yang muram. Malam ini pasti akan  turun hujan. Tak biasanya Ucup main sampai lupa waktu. Hati pak Ucup makin dilanda kecemasan.

“Bapaaakkkk….” Teriakan Ucup jauh dari arah belakangnya membuat tubuh pak Ucup refleks berputar. Ucup berlari ke arahnya. Di tangannya ada secarik kertas yang ia acungkan.

“Ada apa Nak? Darimana saja kamu? Hampir malam baru pulang?” Pak Ucup memburu anaknya yang terengah tiba di hadapannya.Ucup
“Ini Pak…Ucup…Ucup bisa sekolah Pak! Gratis!!” suara tersendat. Diberikannya secarik kertas yang ternyata undangan itu pada Bapak.

Seraya mengucap hamdallah dibukanya surat itu. Pak Ucup membagi tatapnya dari bacaan di kertas undangan itu beralih kea rah Ucup. Mata bocah itu terlihat kejora. Ada rona sukacita yang tergambar jelas di wajah lugunya. Hati Bapak serasa teriris. Pedih.

“Pak, malam ini bulan hanya separuh. Biarpun cahayanya tidak seterang purnama tapi cukuplah untuk menerangi kita ya Pak? Ucup bahagia Bapak bisa dapat rejeki lebih hari ini. Ucup juga senang bisa bersekolah Pak! Meskipun hanya sekolah sore tapi kan gratis Pak. Meskipun Ucup tak bisa jadi Polisi atau Pejabat tak apalah. Bisa menulis dan menggambarkan rumah impian kita, Ucup sudah cukup bahagia. Ya Pak?”

Malam ini Ucup menemani Bapak seperti biasa. Di depan gubuk reyotnya, di atas bangku kayu. Sambil menatap bulan sabit. Tapi kini wajahnya dipenuhi kerlip kejora. Siang tadi, seorang relawan, guru muda yang peduli, datang ke tempat mereka. Mengumpulkan anak-anak di lingkungan kumuh itu, untuk diberinya program belajar Paket A.
***

Ratna Ning, Lahir di Subang Tanggal 19 September.  Mulai menulis sejak remaja, tahun 1994. Pada tahun itu juga tulisan pertamanya dimuat di media massa remaja Pop ‘KawanKu’. Dari tahun 1994 sampai medio tahun 2005 masih aktif menulis dan beberapa tulisannya dimuat di beberapa media massa nasional, daerah dan instansi. Tahun 2013 beberapa antologinya terbit hasil dari event-event di penerbit indie dan nasional. Ratna Ning bisa dihubungi via email : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya..

___________
Dapatkan lintasan berita Subang via:
Follow Twitter: @tintahijaucom
Like Faceboook: Redaksi Tintahijau
Iklan & Promo: 089624350851


Twitter Update

Pedangdut Via Vallen dan Konsistensi Lagu Daerah https://t.co/33mftfbshA
Gubernur Anies: ASN Bukan untuk Dimusuhi tetapi Dibina https://t.co/Rtit2O2yEj
Maju dari Perseorangan, Endang Kosasih Data KTP Dukungan https://t.co/OpkB3dQTWk
Follow TINTAHIJAU.COM on Twitter

Facebook Page