Ruwatan Bumi

Sudah dua hari Bah Sarja mondar-mandir ke kantor desa. Dengan pakaian kebangsaan yang lekat dengan mitos dirinya. Celana dan baju komprang hitam, mengenakan iket sunda. Bah Sarja yang dikenal sebagai ulu-ulu(1) desa adalah tetua adat yang punya pengaruh besar di desa Cikeruh. Ia juga dikenal sebagai dukun kampung yang kerap dipanggil jika orang-orang mengadakan syukuran akan memanen padi atau memulai bertani. Wajar saja jika semua orang di desa Cikeruh takjim padanya. Meskipun begitu, Bah Sarja bukannya seorang yang kolot dan ortodoks. Ia seorang yang fleksibel dan bijaksana. Terbukti ia bisa dekat dengan siapa saja. Bahkan dengan para pemuda kampungpun, ia bisa dekat dan akrab.

TINJAU CERPEN LAINNYA:

Sri Panggung Jaipong

“Belum selesai rapatnya Bah?” Sarcim, tetangganya bertanya ketika Abah Sarja duduk-duduk minum kopi di warung biasa, pagi hari sebelum memulai aktifitasnya.

“Belum. Susahnya para ulama mencapai kesepakatan. Mereka terus menentang acara ruwatan yang sudah bertahun-tahun menjadi tradisi di desa kita. Heran juga, kenapa baru sekarang mereka mempermasalahkan dan menentangnya? Kenapa tak dari dulu?”  jawab Bah Sarja dengan suara khasnya yang berat penuh tekanan namun lembut hampir-hampir tak terdengar.

“Itu gara-gara ada ustadh baru di kampung kita Bah. Dia yang membawa ajaran baru untuk menentang adat budaya yang katanya tak ada dalam syariat…” Warji ikut bersuara dengan mulut yang juga sibuk mengunyah goreng pisang.

“Ahh, kita tak perlu mendebatkan sesuatu yang belum jelas Jang. Nanti malah akan menimbulkan masalah baru saja. Sebenarnya inti masalahnya sudah terbuka, hanya saja tinggal menemukan kesepakatan antara kaum ulama dan tetua adat, agar pihak pemerintahan bisa cepat memutuskan…”Bah Sarja menepis hujatan Warji dengan sikap bijak.

“Trus, kenapa masih alot saja kesepakatannya Bah?” Odin yang sedari tadi hanya duduk diam sambil menyeruput kopi sekarang angkat bicara.

“Itulah! Pihak ulama ingin meniadakan acara ruwatan itu, karena dianggapnya hanya mubazir saja dan menuntun ke arah syirik. Sedangkan para tetua adat tetap ingin melaksanakannya karena acara itu sudah diadakan di desa kita sejak dulu. Sebenarnya sih memang itu hanya untuk ungkapan rasa syukur dan permintaan kita untuk mengharap rejeki menjelang musim bercocok tanam ini…”

“Iya Bah! Dengan meruwat bumi kita memohon keselamatan dan keberkahan. Musim cocok tanam sudah tiba, tapi hujan belum turun juga. Biasanya dengan acara ruwatan, kita memanggil hujan juga. Meminta kesuburan pada bumi…”Odin menimpali lagi.

“Pada Allah Din! Jangan salah!” Bah Sarja terkekeh sambil menepuk bahu Odin.

Hari ini hari ketiga, musyawarah di desa antara para ulama, tetua desa dan semua unsur aparat perangkat desa diadakan demi membicarakan acara ruwatan ini. Biasanya musyawarah hanya dilakukan sekali pertemuan, meliputi kesepakatan waktu penyelenggaraan dan pembentukan panitya pelaksana kegiatan ruwatan. Tapi kali ini musyawarah terasa alot dan selalu mengarah pada perdebatan.

“Ustadh Ma’mun mempermasalahkan acara potong kambingnya. Katanya musrik karena kepala kambing dikuburkan. Kalau terus diadakan, para anak cucu kita akan mewarisi budaya yang memelihara kemusrikan. Begitu katanya!” percakapan tentang acara ruwatan itu menjadi gossip baru yang beredar hangat di sekitar kampung.

Acara ruwatan itu memang selalu diselenggarakan rutin setiap tahun. Biasanya diadakan setiap penghujung musim kemarau, untuk menyambut turun hujan dan musim tanam. Atau setelah musim panen tiba sebagai ungkapan rasa syukur.

 

Budaya yang telah berlangsung rutin dan turun temurun. Bahkan sepertinya menjadi hajat wajib tahunan di kampung itu. Tradisi yang sudah melekat dan tidak bisa dihapus begitu saja.

Tapi tahun ini berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Penyelenggaraan acara ruwatan mulai menjadi issue hangat di tempat orang berkumpul atau di warung-warung karena acara musyawarah yang alot dan tak kunjung mndapatkan kebulatan sepakat.

“Para alim ulama tetap ingin menutup tradisi ini supaya tidak diadakan lagi di desa kita. Mereka tidak mau diajak berkompromi dengan para tetua. Aparat pemerintah jadi susah menyatukan kata sepakat. Itulah kenapa musyawarah jadi alot sampai hari ini!”

“Waah kalau begitu ceritanya, kita sebagai masyarakat harus memberI dukungan. Tidak bisa kalau tradisi ruwatan yang sudah berlangsung turun temurun di desa kita harus dihilangkan. Itu sudah menjadi adat dan kebiasaan. Nanti para leluhur bisa murka kalau acara ruwatan dihilangkan. Lagipula apa salahnya kita mensyukuri akan hasil bumi kita setahun sekali? Agamapun mengajarkan agar kita senantiasa bersyukur dengan apa yang sudah kita nikmati. Ini tidak bisa dibiarkan. Ayo kita datangi kantor desa!” tiba-tiba Umar mengajak orang-orang yang sedang membicarakan hal ruwatan untuk berdemo ke Kantor Desa.

“Saya pikir Umar benar. Kalau para tetua dan pengurus pemerintahan tidak bisa mengambil kata sepakat, sebaiknya kita sebagai warga ikut mendorong agar cepat diambil keputusan!” Sadi ikut bersemangat memanasi warga lainnya.

“Kalau begitu ayo kita pergi!” Seru yang lainnya disambut dengan jawaban saling bersahutan.

Mereka yang berada di tempat itu langsung bersiap-siap, saling mengajak dan menjemput warga lainnya. Sepakat mendatangi kantor desa, menyerbu para tetua dan pengurus yang sedang mengadakan rapat.

Pagi yang hiruk pikuk. Di masing-masing balai RT orang laki-laki berkumpul. Membuat dan mendadani dongdang (2). Menghiasinya dengan berbagai makanan dan hasil bumi. Di bagian dalam dongdang disimpan nasi tumpeng, bakakak(3) dan sesajen(4). Di bagian luar, di dinding dan atap dongdang dihiasi dengan buah-buahan, sayuran dan berbagai makanan mentah ataupun yang sudah siap makan. Semua ditempel, digantung dan dihias semenarik dan seunik mungkin. Kacang panjang disusun berderet-deret menutupi atap dongdang. Ketimun, terong, nangka muda, hingga kelapa digantungkan disana. Semua hasil bumi yang ada dan ditanam para petani hingga makanan olahan yang menjadi cirri khas daerah menjadi penghias dongdang. Semua itu hasil patungan sumbangan dari warga RT masing-masing untuk kemudian diarak keliling kampung bersama dengan dongdang-dongdang dari wilayah yang lain.

Di depan rumah, gang-gang dan di sepanjang pinggiran jalan, dibentangkan hiasan semacam janur yang memanjang dan dibuatkan gantungan-gantungan dari batang dan daun kelapa. Diujungnya digantungkan pula berbagai macam hasil bumi, beras, uang, semua barang yang sesuai dengan kemampuan dan usaha si mpunya rumah. Tukang warung menggantungkan sebagian dagangan dan jajanan, uang, sabun sampai kopi, minyak goreng, buah-buahan tak ada yang ketinggalan. Yang hampir ada di setiap rumah adalah kelapa, ubi kayu, lepat(5), ketupat tantang angin(6) dan hasil bumi lain yang mudah didapat di kampung Cikeruh.

Suasana jadi meriah oleh rupa hiasan yang digantungkan, tak putus dari rumah ke rumah dan di sepanjang jalan. Warga yang sudah terbiasa dengan tradisi ruwatan ini memang begitu antusias dan menyambut dengan sukacita acara syukuran khas daerah itu. Semua menyumbang dan saling memberi. Yang kaya memberikan sebagian buah gantungannya untuk memeriahkan kaca-kaca(7) depan rumah si miskin agar sama meriahnya.

Anak-anak berlarian riang dari pagi mula. Mereka ramai melihat isi hiasan dari satu rumah ke rumah lainnya. Menandai apa yang menarik yang nanti akan siap-siap mereka perebutkan tatkala gendang mulai ditabuh dan arak-arakan berjalan keliling kampung.

“Mak Noh banyak gantungan duitnya, aku mau diam disini saja!”

“Buah sawen(8) Bi Teti ada apel sama anggurnya. Buat Adit satu yang Bi?” Adit, bocah lima tahun itu tertawa-tawa menunjuk gantungan buah di depan rumah Bi Teti.

“Husss…nggak boleh Dit. Tunggu nanti tetua yang mengambil dulu buah sawennya, baru boleh diambil sama siapa saja!” Bi Teti menepis.

“Waahhh…kalau nunggu Bah Sarja ngambil atau Ki Ocid dulu yang ngambil, kita nggak kebagian dong Bi…” Adit merengek. Semua yang disana tertawa.

Ultraviolet masih hangat tatkala gamelan terdengar mulai ditabuh dari arah Balai Desa yang berada di tengah-tengah wilayah kampung Cikeruh. Masyarakat yang sudah siap-siap mulai berkerumun di tiap pertigaan. Anak-anak membawa kantong keresek besar, berlarian riang, sebagian tak sabar memburu rombongan arak-arakan.

Ustadh Yusuf keluar dari pagar rumahnya dengan wajah sumringah. Beliau adalah ulama yang fleksibel dan tak banyak bicara. Ia berbaur dengan yang lainnya yang sudah berkumpul di depan rumahnya. Kebetulan rumah ustadh ada di sisi kanan gang pertigaan jalan.

“waahh, hiasan ustadh buah-buahan bagus semua. Di petik darimana Tadh?” Pendi mencandai Ustadh Yusuf sambil memiringkan wajahnya dan berdecak kagum. Bagaimana tidak, di depan rumah Ustadh Yusuf, digantungkan hiasan yang berisi buah-buahan seperti apel merah, anggur, lengkeng, jeruk, pear sampai penuh sesak.

“Dipetik dari pasar Pen…”Jawab ustadh sambil tertawa.

“Saya mau pear Pak ustadh!” Adit yang terkenal berani dan nakal nyeletuk begitu melihat buah kesukaannya.

“Husss…belum boleh Adit. Arak-arakan belum lewat. Belum sah pula. Tunggu nanti!” Pendi menepis.

“Ambil saja Dit. Itu khan ada lima gantung. Kamu ambil satu, nggak apa-apa. Ini kan hiasan pak Ustadh. Jadi Pak Ustadh bisa memberikan izin. Ambil saja!” jawab ustadh Yusuf dengan suaranya yang lembut.

Adit kegirangan. Ia tak mempedulikan tatap tajam Pendi. Berlari manaiki tembok, meraih buah pear dalam gantungan. Menjambretnya satu.

“Nggak apa Pen. Kan semua yang digantungkan ini untuk kita sedekahkan. Sebagai rasa syukur akan hasil bumi yang kita tanam. Saya meskipun tidak bertanam semua ini, tapi karena niat saya beramal. Biar jadi barokah. Setahun sekali kan?” ustadh Yusuf masih tersenyum. Pendi melengos.

Tapi sejurus kemudian,

“Pak Ustadh kok santai-santai saja disini?” Pendi bertanya lagi, seperti diingatkan pada sesuatu.

“Lho, memangnya saya mesti gimana?”

“Nggak pergi ke Balai Desa Tadh? Kesepakatan kemarin kan ruwatan boleh dilaksanakan asalkan acara potong kambingnya dilaksanakan bersama para ulama, tetua dan aparatur desa. Yang dijaga adalah ritual penguburan Kepala Kambing yang menjadi pertentangan kan?”

“Ahh, biarkan saja itu menjadi wewenang ustadh Ma’mun. Saya jadi masyarakat yang menonton saja…” 

“Ustadh takut terjadi perang sodara ya? Ustadh Ma’mun itu sama kerasnya dengan Bah Kodir, tetua desa. Kemarin saja mereka berdua ini yang saling teguh mempertahankan sikap…” Pendi mulai berargumentasi.

Ustadh Yusuf hanya menanggapinya dengan senyum saja. Hingga pembicaraan itu menemukan kebuntuan. Ustadh muda itu hanya berbicara dalam hatinya saja. Tidak ingin memperpanjang dengan membenarkan atau menyalahkan siapa. Meskipun kekerasan sikap Ustadh Ma’mun dia benarkan juga karena dasarnya kuat dan sahih. Tapi itulah, memang susah menghilangkan adat kebiasaan yang sudah mendarah daging dan menjadi tradisi, apalagi tradisi budaya. Ada perangkat yang memelihara dan memperkuatnya untuk tetap dirawat, berlangsung dan tidak punah. Meskipun secara agama tradisi itu bertentangan dengan syariat.

Arak-arakan dongdang yang diiringi gamelan khas berupa bebunyian terompet, dua beduk besar dan gendang bergerak mengelilingi desa melalui jalan-jalan kampung, masuk ke gang-gang besar. Untuk kemudian berhenti di titik perjalanan semula. Di Balai Desa. Disana sudah dibuatkan panggung besar yang diatas panggung dan seluruh tenda sudah digantungkan berbagai macam hasil bumi dan berbagai makanan. Gamelan naik ke panggung dan bersambung di tabuh disana.

Asap kemenyan mengepul pekat. Baunya menyesaki area tempat berlangsungnya acara ruwatan. Ibu-ibu PKK sudah sibuk di bagiannya masing-masing. Tumpeng dan nasi wuduk di susun berderet-deret di tengah-tengah tenda, di depan panggung. Semua hasil dan isi dari sumbangan dongdang-dongdang yang tadi diarak. Di luar, anak-anak dan semua orang yang ikut mengarak tertawa riang membuka hasil dari memunguti gantungan-gantungan hiasan. Sambil menonton yang ngibing di depan panggung dengan tabuhan khas yaitu gembyung(9).

Di belakang balai desa, sudah berkumpul para tetua, ulama dan pihak aparat pemerintah desa untuk memulai acara potong kambing sebagai ritual untuk hajatan ruwatan nanti. Ibu-ibu sama sibuknya, membuat sayur dan mempersiapkan bumbu untuk memasak daging kambing yang akan segera dipotong.

Ustadh Ma’mun dan Bah Kodir yang jadi ujung tombak acara potong kambing, saling diam meski masing-masing mempersiapkan alat dan bekerja sama melaksanakan acara pemotongan.

Setelah melafadkan doa ustadh Mamun mulai mengksekusi sang kambing. Seiring sekaratnya si kambing, darah mengucur, para lelaki sibuk membantu jalannya pemotongan. Kepala dipisahkan, kemudian kaki, kulit kambing dan isi perutnya. Memisahkan daging dari tulang dan memotong-memotongnya. Semua bahu membahu hingga acara pemotongan selesai. Ibu-ibu mengangkat daging dan tulang yang siap dimasak. Bah Sarja memisahkan kulit kambing untuk dijemur dan dijadikan kulit beduk.

Ustadh Ma’mun yang sudah selesai dengan tugasnya, kasak-kusuk mencari-cari sesuatu. Disingkapnya terpal bekas hamparan daging kambing. Dibukanya karung goni yang dipakai memisahkan kulit kambing. Matanya tertumbuk pada isi perut yang masih teronggok di keranjang bambu, belum dibersihkan.

Tiba-tiba ustadh Ma’mun berteriak seperti kena sengat.

“KEPALA KAMBING TIDAK ADA!!” teriaknya lantang dan sengit. Biji matanya melotot seperi ingin keluar semua.

“Bah Kodir! Mana Bah Kodir!:” kepanikan ustadh Ma’mun menular pada yang lainnya yang masih berada disana. Upas Ujang, Hansip Beni, semua sibuk mencari kepala kambing yang raib dan…Bah Kodir.

“Ada apa ini?” yang dicari muncul dari dapur dengan menenteng bambu yang sudah diraut menjadi tusukan-tusukan sate. “Ada apa mencariku hah? Abah sedang membuat tusukan sate permintaan ibu-ibu. Ada apa?”

“Abah jangan beralibi. Abah kan yang mengambil kepala kambing itu untuk dikuburkan? Abah melanggar perjanjian. Ayo sini kembalikan kepala kambingnya. Itu musyrik Bah! Bukankah sudah saya bilang? Saya tak melarang, saya mengijinkan acara ruwatan ini. Asalkan janga ada ritual penguburan kepala kambing itu. Apa susahnya kita masak dan kita makan sama-sama. Tidak mubazirkan?” Ustadh Ma’mun langsung menyerang dengan tuduhan telak.

Tentu saja Abah Kodir yang tak merasa, jadi berang. Ia kembali naik pitam.

“Heeii Ustadh, jangan sembarangan menuduh. Engkau tahu hukum fitnah itu seperti apa hah? Saya tidak merasa melakukan yang ustadh tuduhkan!”

“Lalu kemana kepala kambing itu kalau tak diambil orang? Tak akan ia menghilang diambil sendiri oleh karuhun(10)?” Ustadh Mamun bernada sinis.

Suasana mulai panas dan tak karuan. Hampir saja terjadi baku hantam kalau tak diamankan. Ustadh Ma’mun dibawa pergi meninggalkan tempat itu oleh Hansip Beni. Sementara Bah Kodir dilemahkan Kepala Desa.

Semua sibuk mencari kepala kambing yang hilang. Semua jadi ribut membicarakan kepala kambing yang raib. Sibuk menerka-nerka reka peristiwa dan siapa yang mengambil kepala kambing itu. Asumsi-asumsi bermunculan dan saling mengarah. Ada yang menuduh ustadh yang menyembunyikan, untuk dimakannya sendiri. Ada yang menuduh direkayasa Bah Kodir dan kemudian ia menguburkannya sendiri karena setia pada tradisi.

Jauh dari tempat itu, di tengah kebun bambu, seseorang berlari menenteng plastik hitam. Di belakangnya, seekor anjing menyalak sambil tak kalah berlari mengejar orang itu. Nafas orang itu terengah-engah. Matanya berair. Dengan tangis yang membanjir, ia buang plastik itu jauh ke semak. Si Anjing berhenti mengejar, membawa larinya memburu bungkusan yang dibuang.

“Anjing sialan. Musnah sudah harapanku ingin memberikan emak kepala kambing yang ia idamkan!” orang itu jatuh bersedeku, di atas hamparan daun bambu. Menangis!

 

***

 

Catatan kaki :

Ulu-ulu: Petugas pengairan irigasi di kampung

Dongdang: semacam tempat dibuat dari bambu dan dipikul oleh empat orang.

Bakakak: Ayam bakar

Sesajen: racikan khusus yang dibuat sebagai pelengkap ritual

Lepat: semacam lontong dari beras yang dicampur kelapa atau kacang

Tangtang angin: Ketupat kecil panjang dari daun kelapa yang isinya ketan

Kaca-kaca: Hiasan di depan rumah dari bambu atau pohon kelapa

Buah sawen: makanan yang digantungkan sebagai persembahan ritual

Gembyung: kesenian adat yang terdiri dari terompet, goong dan kendang

Karuhun: para leluhur daerah setempat

 

Biodata Penulis:

Ratna Ning lahir di Subang. Mulai menulis tahun 1994. Beberapa tulisannya pernah dimuat di berbagai media remaja, tabloid dan surat kabar harian. Beberapa bukunya telah terbit baik berupa puisi, cerpen dan beberapa buku menulis bareng penulis perempuan di Indie.

Cerpen Ruwatan Bumi ini adalah salah satu cerpen yang diikutsertakan dalam Lomba menulis dan mendapat Terbaik II sebagai cerpen yang bertema tentang kearifan local.

 

_____________

Dapatkan lintasan berita Subang via:

Follow Twitter: @tintahijaucom

Like Faceboook: Redaksi Tintahijau

Iklan & Promo: 089624350851


Twitter Update

Cabuli Bocah Ingusan, Warga Palasah Majalengka ini Numpang di Rumah Teman https://t.co/3ciankwfWx
Pipin Chikal, Bidan Subang dengan Segudang Prestasi di Sirkuit https://t.co/GlLZhrdxXb
Jejak Seni Gembyung di Tengah Gempuran Musik Modern https://t.co/W41rm8gCiH
Follow TINTAHIJAU.COM on Twitter

Facebook Page