Ada Cinta di Balik A, Ba, Ta, dan Tsa

Aku memohon izinmu untuk menceritakan serpihan kenangan kita yang melintas begitu saja dalam benakku. Sekarang langit sore terlihat berawan hitam sebagaimana saat terakhir kali kau ajarkan hukum idgham padaku. Ada yang berdengung, ada yang nyaris hilang. Selintas.

Mim Nun Iya tasi je'er miy dibaca Miy

Mim ya tasi je'er dua miy dibaca Miy

Nun dan tanwinnya seakan hilang, Namun

Tanpanya, maka idgham tiada*

Awan hitam ini telah lama ditunggu beserta bunyi gugur yang diikuti hujan. Diantara terpaan angin dan bunyi sendu puji-pujian, mengantarkan aku ke kedalaman ingatan tentangmu atau tentang orang-orang yang sama sepertimu.

Aku masih ingat kejadian yang telah melenyapkan petuah, senda gurau, dan.. pelajaran tajwid berikutnya. Hukum idzhar, katamu. Ya, waktu aku seumuran anak Play Group, tepatnya ketika pertama kali menginjakkan kaki di sebuah masjid yang berlantai dua, disana Kakak (kau menolak ku sebut pak ustad. Cukup kakak saja biar kau terlihat seperti remaja, katamu sambil tersenyum) mengajariku huruf A, Ba, Ta, Tsa hingga lulus iqra satu, lalu iqra dua, tiga, dan enam--aku tersenyum, karena pernah bertanya padamu kapan diajari iqra tujuh.

Tempat itu adalah tempat yang selalu ditunggu-tunggu untuk dikunjungi. Bentuknya seperti lapangan, agak memanjang, berlantai kayu yang di plitur dengan warna coklat, dan bergelantung enam lampu berbentuk bulat sebesar buah kelapa, serta dua kipas angin yang besa-besar seperti baling-baling helikopter. Ada enam guru yang semuanya baik padaku; tiga kakak laki-laki dan tiga kakak perempuan. Dan diantara semuanya, kaulah yang paling baik.

Aku selalu bermain kucing-kucingan, petak umpet, atau menerbangkan kapal-kapalan dari kertas sebelum belajar dimulai--selalu setelah selesai shalat magrib.  Saat itu, pasti kau baru pulang dari kampus, pergi mandi dengan kolor serta kaus pink bergambar becak yang sering kami tertawakan. Setiap kali kutanyakan kenapa kakak kesiangan, jawabannya pasti kemacetan atau karena menunggu dosen seharian untuk dimintai tanda tangannya. Pikirku, dosen itu lebih terkenal dari artis-artis. Hanya saja aku tak mengerti seperti apa ketenarannya.

Saat shalat magrib tiba, aku tak bisa diam. Maaf… Entahlah, saat itu diam adalah hal yang menjemukan. Kadang aku lebih suka berlari-lari disaat semua orang mematung, atau mendorong pantat teman saat dia rukuk. pastilah anak perempuan yang dibelakang akan saling bersahutan memperingatkan. Anehnya kau tak pernah memarahiku. Kau hanya tersenyum manis dan berkata dengan lembut ditelinga kananku : “Nanti shalatnya yang bagus ya?”

Hal yang menyenangkan ini berlanjut hingga aku menjadi murid sekolah dasar. Memang, selalu ada kesenangan yang sulit dihentikan ketika berlari-lari mengejar kapal-kapalan yang terbang, memukul-mukul bangku, atau bolak-balik ke kamar kecil, hanya untuk membuka keran, mendengar air yang menyemproti ubin, lalu menutupnya kembali.

Suatu kali kakak mencubit pinggangku hingga berwarna kebiruan karena lagi-lagi ketahuan telah mendorong seorang teman--gerakan mendorongnya mirip pemain bola yang melakukan body chest--ketika shalat. Rasa cubitannya tidak biasa. Kukunya menancap sekali hingga aku sesenggukan.

 “Sekarang bukan waktunya lagi kamu bermain,” katamu.

Aku pulang kerumah dan berusaha menyembunyikan bekas cubitan itu. Begitu masuk rumah, aku masuk kamar dan pura-pura tidur. Ibu selalu mencium keningku ketika dia mau tidur. saat itulah aku meringis ketika ia membenarkan selimut, tangannya tak sengaja memegang pinggangku. Aku tak tahan untuk tidak menangis lagi.

Aku takut ia tahu. Kau pernah cerita tentang masa kecilmu saat di hukum gurumu karena bolos mengaji. Katanya dicambuk pakai rotan hingga telapak kaki memerah. Lalu kau mengadu ke ibumu agar guru itu dimarahi. Namun alih-alih memarahi guru, justru Ibu balik memarahi dan memuji kedisiplinannya. Nah dari situlah aku takut jika ibuku tahu.

***

Tiba-tiba Ibu melarangku mengaji. Katanya libur saja semalam. Heran. Ya sudah, semalam itu aku habiskan saja menonton Si Boy hingga terlelap tanpa ingat tugas sekolah.

Dugaanku benar. Keesokan hari disekolah, teman-teman sepengajian menghampiriku lalu bercerita bahwa kemarin malam semua anak dipulangkan.

Malam-malam berikutnya adalah malam yang tak menyenangkan. Aku berusaha diam--hanya memainkan borderan hurup arab pada baju koko putih kusam milikku. Itu saja.

Pada malam berikutnya, begitu shalat berjamaah isya, tepatnya dirakaat kedua, Ucok berbisik mengajakku ke kamar mandi. Aku malah senang karena sedari tadi sudah seperti cacing kepanasan diam berdiri. Apalagi bacaan imam melandai-landai seperti di slow motion pada cuplikan sebuah gol. Aku mundur dari barisan pertama, kedua hingga ke barisan perempuan. Lalu aku menyelinap kebelakang menuju tangga. Tangga yang terbuat dari besi merupakan kesenangan buatku karena selalu berbunyi “dung!” saat ujung kaki kuhentakkan keras-keras. Kita cekikikkan. Aku masih ingat saat Ucok tertawa, ingusnya keluar masuk hampir menyentuh dua tempat gigi depannya yang telah tumbang.

Aku mengajaknya untuk memutar; pergi kebawah dari pintu satu kepintu kedua dilantai atas, lalu kembali lagi. Pintu yang berkaca serta bergambar hurup arab itu berdebam saat kami menutupnya sambil berlari. Tanpa menghiraukan mereka yang tengah duduk, kami melintas. Selalu ada teman berbisik “Ssst!” sambil melirik ke arah kami.

Kejadiannya begitu cepat. Aku tak tahu apakah terpeleset atau ada yang mendorong sehingga aku jatuh diantara lubang pagar menuju tempat berwudhu. Katanya aku jatuh dengan posisi kepala kebawah membentur ubin--tempat menyimpan barang saat wudhu--lalu membentur keran dan terakhir membentur lantai. Persisnya tiga kali benturan. Saat itu aku tak tahu apa-apa. Temanku yang syok berusaha membuatku berdiri dan mencuci darah yang mengalir dari hidung dan mulut. Sayup-sayup kudengar suara “Allahu Akbar” lima kali, tubuhku sempoyongan.

Setengah sadar, aku sudah berada dipangkuan kakak. Kulihat dalam keremangan mukanya pucat. Dia menggendongku ke ruang sekertariat yang ada di depan sisi kanan Masjid. Dia membaringkan aku diatas kasur kecil diantara lemari berisi buku dan meja dengan komputer yang masih menyala. Dia pun memeriksa keadaanku sambil terus menerus mengelapi darah yang keluar dengan kapas dan obat merah.

“Jatuh dari mana?” Tanya orang-orang

“Saya tidak tahu Pak, tiba-tiba saja Ucok memanggil saya supaya kekamar mandi “

“Yanda jatuh dari tangga ke tempat wudhu” Jawab Ilham

“Innalillahi!” sahut mereka. Ada yang mengelus dada, memalingkan muka, dan menyalakan rokok.

Semua anak turun kebawah, merongrong seperti semut. Mencoba masuk keruangan yang terasa sempit oleh kerumunan.

Mereka datang. Meskipun kepalaku pusing dan rasa nyut-nyutan dibagian bibir tak terperikan, aku masih bisa memandang kakak yang baju koko hijaunya telah berwarna merah darah, peci hitamnya bergeser tak karuan, dan merasakan deru nafasnya yang dalam.

“Kakang!” jerit Ibuku sambil merangkul dan menciumi pipiku. Melihatnya, aku seperti anak yang akan mati saja.

Dugaanku benar lagi. Kakak yang duduk disampingku, diseret keluar oleh Ayah.

“Inti tanggung jawabmu. Kamu memang tidak becus jadi guru!”

“Iya. Maaf saya teledor. Saya nungguin bapak dan ibu datang, sekarang mari kita bawa ke Rumah Sakit”

“Kenapa harus menunggu saya segala? Ini nyawa taruhannya!” Lengannya masih mencengkram bajumu yang kini telah lecet bergaris-garis kusut. Ayah menunduk dengan muka yang tak aku kenal--mata melotot tajam memerah bersamaan dengan mukanya yang berjenggot tipis. Kakak yang lebih pendek terlihat pasrah namun kulihat dia setenang suara keran air yang sering ku mainkan.

Aku dalam pangkuan ibu dibawanya kerumah sakit. Semua guru laki-laki ikut menemani. Saat diperiksa dokter, hasilnya cukup membuatku linglung; bibir delapan jahitan, tulang sikut dan kepala bagian belakang retak. Itu artinya harus dilakukan operasi. Terlebih karena aku terus menerus muntah.

Habis tiga bulan, aku diperbolehkan mengaji lagi. Sekarang Ibu ikut menemaniku ke masjid layaknya bodyguard. Mulai dari shalat, duduk belajar menulis dan membaca, hingga selesai, diriku tak lepas dari pandangannya. Padahal sebelumnya ia tak begitu. Bahkan aku mau mengaji atau tidak pun ia tak hiraukan. Namun saat ini suasananya baru. Tak ada satupun guru yang aku kenal. Saat aku bertanya kemana para guru yang dulu terutama Kakak. Katanya mereka diberhentikan atas permintaan ayahku. Dengan terpaksa semua guru lama digantikan.

Sekarang aku sudah bisa membaca dan menulis huruf arab, mengerti fiqih dasar kebersihan, doa shalat dan wiridnya, hafal surat An-Nas hingga Al-Insyirah dan bisa doa sehari-hari. Semua ilmu aku dapat dari kakak. Dimanakah Kakak sekarang? Kau tak mungkin bisa cegah aku yang tengah bahagia dengan lelucon tololku. Aku merasakan apa yang engkau wariskan, namun Ibu dan Ayahku… aku tak tahu seperti apa kisah mengajinya semasa kecil.

Iya seperti yang dulu kau ajarkan tentang hukum Idgham dalam ilmu tajwid.

Mim Nun Iya tasi je'er miy dibaca Miy

Mim ya tasi je'er dua miy dibaca Miy

Nun dan tanwinnya seakan hilang, Namun

Tanpanya, maka idgham tiada*

 

Oktober 2017

03:50 Sawahkurung

*Metode ngahejah dalam pembelajaran baca Al-Quran

 

Biodata:

Saya Jajo Sarwa, alumni Sastra Inggris Universitas Islam Sunan Gunung Djati. Mencintai buku seperti halnya mencintai Ibu. Senang menulis dan memelihara kucing.


Follow Us:
Twitter @tintahijaucom
FB: Redaksi Tintahijau


Banner Kanan 1

Facebook Page