Hadiah Yang Harus Ramlan Tebus

Nurma tak henti menangis, badannya panas. Sudah hampir empat hari ini ia demam, batuk dan bersin-bersin. Ramlan menggendongnya, menenangkannya dan memberinya obat yang ada di warung. Hingga habis dua lembar obat penurun panas selama itu, tapi demam Nurma tak kunjung reda. Dimintanya pada Nuri anak sulungnya untuk mengambilkan handuk kecil dan mencelupnya dalam air dingin untuk mengompres kening Nurma. Hingga malam berganti pagi, mata Ramlan belum didatangi kantuk. Telaten ia menjaga Nurma sepenuh kasihnya. Ketika Nurma tertidur dalam pelukannya, perlahan ia ambil handphone di meja kecil samping tempat tidurnya.

“Sudah empat  hari Nurma demam, Is. Aku belum membawanya ke dokter. Persediaan uang kita menipis. Nuri baru kubelikan sepeda, aku tak tega melihatnya berjalan jauh menuju sekolah,” dikirimnya pesan singkat itu pada Isni, perempuan yang sangat ia kasihi, yang telah mempersembahkan dua bidadari kecil untuknya. Satu jam menunggu, baru kemudian datang balasan.

“Bawa ke dokter, Mas. Pinjam dulu pada Emak buat bayarnya. Minggu depan aku kirim. Berhematlah Mas, jangan beli barang-barang yang tak perlu,” begitu pesan Isni dari Semenanjung Arabia sana. Di kota mana tepatnya tempat Isni bekerja, Ramlan tak tahu pasti.

“Aku sudah berusaha hemat, Is. Hanya beli sepeda, kupikir itu sangat perlu buat Nuri. Musim kemarau seperti ini kasihan jika Nuri harus jalan kaki sejauh itu, lagipula aku khawatir Nuri malu pada teman-temannya karena hanya Nuri saja yang tak bersepeda,” Ramlan beralasan.

“Ya terserah Mas sajalah, tapi uangku tolong belikan hal-hal yang perlu-perlu saja,” balas Isni.

“Uangku!” Duh, sebuah palu besar serasa menghantam dadanya ketika membaca kalimat Isni. Selalu begitu dan begitu. Isni selalu saja menyebut “Uangku”. Betapa Ramlan ingin marah, ingin berteriak, tapi rasanya akan sia-sia saja.

“Iya itu uangmu Is, bukan uangku, bukan uang kita. Itu hasil keringatmu. Tapi tahukah engkau Is, betapa harga diriku sebagai lelaki serasa kau banting ke jurang yang paling dasar. Bukankah aku tak pernah memintamu untuk bekerja mencari uang jauh-jauh hingga ke negeri orang? Rasanya kurang apa penghasilanku sebagai buruh bordir di kampung kita. Cukup untuk makan kita berempat. Ah, andai engkau bisa sabar Is. Tentu engkau tak usah pergi jauh,” tapi kalimat itu hanya ia gumamkan dalam hati. Diam-diam matanya menghangat dan menganak sungai.

“Bapak menangis?” tiba-tiba suara Nuri di sampingnya. Bergegas Ramlan usap airmatanya, ia tak mau ketahuan menangis, ia tak mau Nuri menjadi cengeng pula.

“Ah, enggak kok. Bapak tadi menguap banyak-banyak, jadinya airmata Bapak keluar deh. Lho, Nuri kok gak tidur?” Ramlan mengalihkan perhatian Nuri.

“Idih, Bapak gak dengar ayam berkokok ya? Ini sudah hampir adzan Subuh, Pak. Masak Nuri tidur terus. Nuri seduhkan kopi ya Pak? Gulanya yang banyak?” tanya Nuri. Ramlan tersenyum haru melihat gadis kecilnya.

“Ah, gak usah Nak. Bapak baru tadi minum kopi,” jawab Ramlan.

“Oh kalau begitu, susu coklat ya Pak? Atau teh manis?” tawar Nuri.

“Gak usah, Nuri. Ayolah bikin untukmu sendiri, biar nanti berangkat sekolah kamu kuat mengayuh sepeda barumu. Sekarang tidak telat lagi ‘kan tiba di sekolah?” tanya Ramlan.

“Iya deh, Nuri bikin teh susu deh buat Nuri. Enak lho Pak, Nuri pernah dikasih teh susu oleh Nenek. Bapak belum pernah coba ‘kan? Iya Pak, Alhamdulillah Nuri gak telat lagi tiba di sekolah. Nuri jadi gak usah merayu-rayu Pak Penjaga buat bukakan gerbang, atau Nuri gak perlu lagi diam-diam loncat pagar biar bisa masuk kelas. Ini Pak teh susunya, cobain deh, dijamin bakal minta lagi,” ujar Nuri sambil menyodorkan segelas besar berisi seduhan teh celup yang diberi susu.

Ramlan lagi-lagi tersenyum melihat polah Nuri. Ah anak itu memang pandai merayu. Ramlan mengalah, ia minum seteguk, dua teguk. Nuri menatapnya penuh harap agar ayahnya itu menghabiskan minuman yang ia bikin.

“Wah, bener enak ya. Nuri memang pinter deh. Tapi Bapak kenyang nih, lihat…perut Bapak jadi buncit. Kalau kekenyangan, Bapak nanti jadi ngantuk dong di depan mesin bordir. Ini, Nuri habiskan saja ya,” Ramlan menyodorkan lagi gelasnya. Secepat kilat Nuri menghabiskan minuman sisa Ramlan.

“Pak, lihat…Nuri juga buncit,” tawanya berderai hingga hilang ditelan suara gemuruh air keran di kamar mandi.

Berdua mereka berjama’ah sholat Subuh. Berdoa bersama. Setelah itu Ramlan ke dapur, dibukanya lemari es, masih ada telur dan sayuran. Lalu disiapkannya nasi goreng untuk sarapan, sementara Nuri menyapu lantai dan mengepel. Begitu rutin setiap hari. Usai sarapan, Nuri berangkat sekolah dan Ramlan menyalakan mesin bordir, setelah sebelumnya memandikan Nurma dan mengantarnya ke PAUD. Ia bisa tenang bekerja membordir rukuh atau baju koko atau baju kebaya pesanan, sementara Nurma di sekolah. Jam setengah sepuluh ia bergegas menjemput Nurma, lalu mencegat tukang sayur dan memasak lauk untuk makan siang.

Setelah dzuhur tiba ia istirahat sejenak, minum kopi atau sekedar memejamkan mata dan rebahan sambil menunggu Nuri pulang sekolah untuk kemudian makan siang bertiga. Setelah Nuri di rumah, baru Ramlan bisa tenang bekerja hingga Ashar, karena Nurma bisa bermain dengan Nuri tanpa harus ia khawatir Numa pergi ke jalan raya sendirian.

Nurma memang lincah, meleng sedikit saja, bisa-bisa ia sudah berada jauh dari rumah. Pernah suatu ketika Ramlan asyik membordir rukuh pesanan, ia lupa mengunci pintu. Tahu-tahu ada seorang tukang ojek mencarinya dan mengantar Nurma, tukang ojek itu menemukan Nurma dekat jembatan yang jaraknya sepuluh menit jalan kaki dari rumah. Alasannya, Nurma mengejar anak kucing. Berat memang mengasuh dua anak tanpa istri. Ramlan mesti bisa menjadi ayah, sekaligus ibu rumah tangga yang mengurus segala keperluan sendirian.

Hal itu dijalaninya sudah hampir lima tahun. Isni melarangnya bekerja, karena uang kirimannya dirasa cukup. Tapi Ramlan tak mau mengandalkan Isni, ia punya harga diri sebagai kepala rumahtangga. Meski penghasilannya dari membordir tidak besar, tapi ia cukup-cukupkan untuk biaya makan bersama dua anaknya. Uang kiriman Isni ia belikan perabotan, membuat rumah mungil dan sepeda motor, sesuai permintaan Isni. Hingga ia dan anak-anaknya tak lagi harus pindah-pindah rumah kontrakan.

Sebenarnya dalam kontrak awal Isni bekerja hanya untuk dua tahun saja. Tapi setelah dua tahun itu Isni tak kunjung kembali. Ia bahkan mengabarkan jika kontraknya diperpanjang hingga pas lima tahun. Awalnya Ramlan meradang, keberatan. Tapi Isni mengemukakan berbagai alasan yang begitu menyudutkannya. Dan Ramlan mengalah, karena memang ia tak bisa memenuhi segala keinginan Isni. Selama rumahtangga, ia memang belum pernah membelikan Isni baju-baju bagus, apalagi perhiasan. Bahkan tiap penghujung bulan Isni selalu diajaknya berpikir darimana dapat uang untuk membayar kontrakan. Terkadang Ramlan kecewa pada dirinya sendiri, yang tak mempunyai keterampilan apapun selain membordir dan selembar ijazah SMA.

Ia selalu tak berdaya menghadapi kalimat-kalimat Isni yang pedas dalam menuntut kebutuhan hidup, bahkan minta dipulangkan pada orangtuanya ketika Ramlan tak mampu membayar biaya Isni melahirkan Nurma. Bukan ia tak bisa tegas ataupun melawan, tapi karena rasa cintanya yang terlalu besar pada Isni hingga ia lebih memilih diam dan mengalah. Iapun tak kuasa melarang dan berbuat apa-apa ketika diam-diam Isni mendaftarkan dirinya untuk menjadi TKW ke Arab Saudi pada sebuah Agen Pencari Tenaga Kerja. Ia hanya pasrah pada nasib, ketika harus ikhlas menjalani hari-hari panjang mengurus dan membesarkan dua anaknya tanpa Isni, tanpa siapapun. Tak jarang hasrat kelelakiannya menggebu jika malam-malam yang dingin dan sepi menyergapnya.

Pernah terlintas dalam benaknya untuk pergi ke lokalisasi, sekedar menyewa seekor kupu-kupu malam untuk pemuas napsunya, melepas hasrat kelelakiannya. Tak ia pungkiri, ia butuh itu. Toh tak akan ada yang tahu ke mana ia pergi malam-malam untuk satu atau dua jam, misalnya. Uang untuk sewa pun ada meski itu uang Isni. Tapi otak warasnya masih berfungsi normal. Ia bayangkan Isni di sana bekerja membanting tulang dengan menanggung segala resiko ataupun mara bahaya, sama-sama menanggung kerinduan, lalu mengirimkan uang padanya, pantaskah jika ia balas dengan pengkhianatan? Meski mungkin Ramlan melakukannya tidak dengan hati, tidak tiap hari, tapi menikmati malam dalam pelukan perempuan lain, bukankah itu pengkhianatan? Meski kelak Isni maklum atau tidak mengetahuinya sama sekali, tapi hati kecil Ramlan menolak.

“Aku lelaki yang cukup tahu diri dan berusaha untuk setia, apapun yang terjadi. Masalah hasrat, bisa kualihkan dengan membordir sampai larut malam, atau mengaji,” begitu selalu bisik hatinya.                                                                         

***

Handphone berulang-ulang berbunyi ketika Ramlan sedang melap tubuh Nurma. Demamnya reda setelah dua kali dibawa ke dokter. Tapi Ramlan belum berani memandikannya. Bergegas ia ambil handphone, tapi panggilan keburu berhenti. Dilihatnya panggilan tak terjawab, Isni. Ia bermaksud menelepon balik, tapi diingatnya ia belum isi pulsa, tak akan cukup untuk interlokal ke Arab. Tak lama handphone berbunyi lagi, SMS.

“Mas, aku pulang bulan depan. Jemput aku di bandara ya. Aku sudah suruh temanku yang pulang duluan untuk membeli mobil. Mungkin lusa mobil itu tiba di rumah kita. Itu hadiah untukmu Mas, hadiah ulang tahunmu, juga hadiah untuk pengorbananmu selama kutinggalkan. Ajak anak-anak dan Emak untuk menjemputku. Minta Mas Bun untuk menyetir jika Mas belum bisa, atau ada waktu sebulan buatmu kursus nyetir mobil. Pakai uangku untuk membayarnya.”

Ramlan termenung, antara percaya dan tidak. Antara setuju dan tidak tentang mobil itu. Isni memberikannya hadiah mobil? Mesti semewah itukah hadiah yang diberikan untuk pengorbanannya selama ini? Bukankah sudah semestinya ia berkorban untuk istri dan anak-anaknya, tanpa diberi hadiahpun ia ikhlas? Begitu besarkah gaji Isni sehingga ia mampu membeli apapun yang ia mau? Rumah, perabot, sawah, kebun, motor, dan sekarang mobil? Segera ia kabarkan berita rencana kepulangan Isni, pada anak-anaknya, pada Emak dan Mas Bun kakak sulung Isni.

Dan benar saja, esoknya seseorang mencari Ramlan dengan membawa sebuah mobil keren warna hitam. Setelah menandatangani surat-surat dan sedikit basa basi, orang itupun pamit. Tetangga berdatangan melihat mobil baru Ramlan. Emak menangis terharu ketika Mas Bun mengajaknya keliling kampung dengan mobil itu. Nuri tersenyum bahagia, dan Nurma menjadi sangat sibuk menghalangi tangan teman-temannya yang ingin menyentuh mobil barunya.  Ramlan tak dapat melukiskan perasaannya, sebuah senyum selalu tersungging di wajahnya yang selama ini selalu digayuti awan mendung. Setiap sore sebelum maghrib, dengan tekun ia belajar nyetir pada Mas Bun. Ia ingin ia sendiri yang menyetir mobilnya ketika menjemput Isni nanti.                                                                       

***

Gelisah dan harap-harap cemas mereka menunggu pesawat Qatar Airlines mendarat. Entah sudah berapa botol air mineral lewat di tenggorokan Ramlan. Emak dan Mas Bun duduk terkantuk-kantuk. Nuri dan Nurma tak henti berceloteh, membahas segala macam rencana yang akan dilakukan bersama Mamanya nanti jika sudah berkumpul kembali. Terdengar announcer mengumumkan bahwa pesawat akan segera mendarat. Ramlan makin gelisah, haru dan bahagia.

Tak lama muncul di hadapan mereka seorang perempuan bergamis hitam, bercadar yang di belakangnya diikuti seorang kuli mendorong kereta barang sarat muatan. Bayi lelaki mungil tertidur dalam dekapan wanita bergamis itu. Ramlan memandangnya heran, wanita itu menghampiri dan merangkulnya.

“Mas, apa kabar? Maafkan aku Mas,” wanita itu membenamkan wajahnya di dada Ramlan dan menangis lalu membuka cadarnya. Isni! Ramlan merangkulnya penuh rindu. Mereka berpelukan, bertangisan. Hingga bayi dalam gendongan Isni terbangun.

“Is, anak siapa ini?” tanya Ramlan.

Belum lagi Isni menjawab, anak itu merengek,”Ummi, mimi…mimi…!” dan Isni menyusui bayi lelaki berwajah Arab itu. Seketika halilintar serasa menyambar Ramlan hingga hatinya hangus dan membuatnya terlempar kekedalaman entah.

 

Tentang Penulis

Bune Upik, nama pena dari Yeyet Herayati.  Lahir di Kota Banjar Patroman Juni 1970.  Kini tinggal di Kota Tasikmalaya. Pernah kuliah di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Siliwangi Tasikmalaya.

Disela kesibukannya sebagai pengajar di Pendidikan Kesetaraan PKBM GEMA, Ketua Pelaksana Harian LPNFI QURROTA A’YUN ini Ia juga jadi Penggiat Sastra dan Teater, Ia tetap menyempatkan waktunya untuk  menulis. Tulisannya banyak dimuat di Majalah Sunda “Kalawarta Sundamedia”. 

Beberapa fiksimininya pernah dimuat di Koran Galamedia dan Fiksimini Bahasa Indonesia di Media Massa Transmedia.  Antologi Cerpen dan Sajak Sunda “Gerentes” adalah buku pertamanya bersama tiga orang Penulis Perempuan Sunda. Antologinya yang lain adalah Antologi Bintang Kecil.

 
Follow Us:
Twitter @tintahijaucom
FB: Redaksi Tintahijau


Banner Kanan 1

Facebook Page