[Sastra] Meniti Jalan Taqdir

Firdaus mematut diri di depan kaca, melihat betapa tak berguna dirinya saat ini. Untuk berjalan saja ia harus bertumpu pada tongkat kayu yang terkapit di tangan kirinya. Belum lekang dalam pikirannya kejadian beberapa bulan silam yang membuat ia harus kehilangan kaki sebelah kirinya. Saat itu, ia sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah dengan mengendarai sepeda. Jalanan yang sesak dengan pengendara yang melajukan kendaraannnya dengan berbagai kecepatan serta beberapa pengendara yang melanggar peraturan lalulintas membuat Firdaus mengalami kecelakaan.

Kejadian itu terjadi sangat cepat hingga akhirnya ia mendapati dirinya tersadar di rumah sakit dengan luka di kepala dan kaki yang telah di amputasi. Hutang kepada beberapa tetangga untuk membayar biaya rumah sakitpun belum lunas hingga saat ini. Ayahnya hanya seorang pemulung dan ibunya yang hanya seorang buruh cuci membuat keluarga yang memiliki 4 orang anak itu hidup kurang dari kecukupan. Penghasilan kedua orang tua Firdaus hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Firdaus memukuli kaki kirinya dan mencari dirinya sendiri.

"Aku sudah tidak berguna, untuk apa lagi aku hidup di dunia ini?" kata Firdaus sambil terus menyesali kejadian yang telah menimpa dirinya.

Sudah beberapa bulan ini Firdaus larut dalam keterpurukan, dia belum bisa menerima kondisinya saat ini. Dia merasa sangat tak berguna, apalagi saat ini ayahnya tengah sakit keras sehingga hanya ibunya lah yang mencari uang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan membayar hutang-hutang keluarganya kepada tetangga. Padahal, di dalam lubuk hatinya Firdaus ingin sekali membantu orang tuanya, namun apa daya kondisinya saat ini justru membuat Firdaus semakin terpuruk.

Waktu berjalan, beberapa hari kemudian Firdaus teringat dengan perkataan sosok idolanya, yaitu Imam Maliki.
"Aku tidak suka menyebutkan penyakitku karena khawatir aku akan selalu mengadu kepada Allah."

Kata-kata Imam  Maliki tersebut menyelusup ke relung hatinya. Betapa Firdaus malu pada dirinya sendiri karena selama ini ia selalu mengadu dan mengeluh kepada Allah SWT akan apa yang terjadi padanya. Perlahan mulutnya mengucapkan istigfar berkali-kali, lalu ia pun mengambil al-Qur'an untuk dibaca dan ditadaburi. Lembar demi lembar ia baca dengan tartil. Matanya nanar ketika membaca arti dari suatu surat, namun tak lama kemudian senyuman terkembang di wajahnya.

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah 'keadaan' suatu kaum sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka" (QS. AR-Ra'd : 11)

Ia memandang sepedanya yang tergeletak di pojok rumah yang hanya memiliki beberapa ruangan. Sebuah sepeda tua yang ia beli dengan uang tabungannya sejak SD dan tak pernah rusak, hanya bannya saja yang terkadang kempes atau bocor. Namun akibat kecelakaan tempo hari, sepeda itu kini mengalami kerusakan kecil. Firdaus yang semangatnya bangkit kembali karena membaca arti surat tadi segera bangkit dan memperbaiki sepedanya yang rusak. Setelah sepedanya selesai diperbaiki, Ia pun mencoba kembali mengendarai sepedanya meski kini kakinya tak utuh lagi. Menyingkirkan trauma yang sempat hinggap di dirinya beberapa bulan yang lalu. Berhari-hari ia mencoba beradaptasi dengan kondisinya saat ini, ia terus belajar mengendarai sepeda dengan satu kaki dan akhirnya ia pun berhasil.

Kumandang azan mengalun indah bersama kegelapan yang masih menyelimuti bumi, membangunkan Firdaus dari tidurnya. Ia pun segera beranjak dari tempat tidurnya yang hanya sebuah papan beralaskan tikar untuk mengambil air wudhu dan menunaikan ibadah sholat subuh.

Mentari beranjak dari peraduannya, menandakan awal dari segala aktifitas akan dimulai. Hari ini adalah hari pertama Firdaus masuk sekolah setelah kecelakaan yang menimpanya. Ia bergegas pergi dengan menaiki sepedanya, menempuh jarak belasan kilometer untuk sampai di sekolah SMP Negri 8 yang menjadi tempat ia menimba ilmu. Hanya beberapa orang di kampungnya yang sekolah di sekolah Negeri karena jarak sekolah itu sangat jauh dan hanya orang punya saja yang sekolah di sana. Firdaus adalah salah satu orang yang beruntung karena bisa bersekolah di sana dengan beasiswa murid berprestasi yang diterimanya.
"Aduh... Kasian banget anak pemulung kakinya ilang satu," ucap Danang, salah seorang teman Firdaus yang mengolok-olok Firdaus sesaat setelah ia tiba di sekolahnya.

Firdaus memilih untuk diam saja karena ia tau jika ia menanggapi perkataan Danang, maka Danang akan lebih bersemangat untuk mengolok-olok Firdaus dengan kata-kata yang lebih buruk lagi.

Saat istirahat tiba, Firdaus menyibukkan dirinya dengan membaca buku pelajaran karena tidak setiap hari ia mendapatkan uang jajan dari orang tuanya. Seminggu sekali ia hanya diberikan uang jajan lima ribu rupiah. Itupun ia gunakan untuk ditabung dan membeli peralatan sekolah, bukan untuk jajan seperti anak-anak pada umumnya.

Lantunan surat yasin sayup terdengar saat Firdaus sampai di depan rumahnya. Bendera kuning terlihat berkibar di samping pohon yang berada di depan  rumah.Betapa kaget Firdaus saat mendapati Ayahnya telah terbujur kaku di depan para tetangga yang membacakan surat yasin.

"Ya.. Allah, belum cukupkah kau mengambil satu kakiku? Hingga kini kau mengambil Ayahku," Firdaus bertanya-tanya dalam hati. Butiran bening yang mendesak di sudut matanya tak dapat ia tahan lagi.

"Sabar ya, Nak? Ibu turut berduka cita," ucap seorang Ibu kepada Firdaus dan keluarganya, disusul ucapan-ucapan lain yang serupa dari para tamu yang datang.

Malam pun datang, sepi menyelimuti rumah Firdaus yang tak mempunyai barang elektronik satupun, hanya beberapa buah lampu lima watt yang menerangi rumah. Semua adik Firdaus telah tertidur pulas, tinggal Firdaus yang masih terjaga dan Ibunya yang sibuk membereskan barang rongsokan yang telah dikumpulkannya untuk dijual ke pengepul.

"Bu, kenapa sih Allah memberikan cobaan yang berat kepada kita? Satu kakiku hilang akibat kecelakaan tempo hari dan karena hal itu keluarga kita mempunyai hutang kepada tetangga yang belum dapat kita lunasi hingga sekarang, Allah juga mengambil Ayah dari kita, padahal aku masih butuh Ayah Bu. Lihat hidup kita sekarang, makan tiga kali sehari aja jarang," ucap Firdaus pada Ibunya.

"Nak, kamu harusnya  bersyukur karena Allah cuma mengambil satu kakimu, bukan keduanya. Ingat Daus, Allah tidak akan membebani atau memberi cobaan kepada hamba-Nya melebihi kemampuan hamba-Nya. Jika Dia memberi cobaan kepada kita, itu berarti Dia ingin tau seberapa kita takwa dan cinta kepada-Nya."

Firdaus mengangguk-angguk perlahan, kemudian beranjak dari tempat duduknya dan pergi tidur. Kini beberapa tanya yang terselip di hatinya telah terjawab.

Egi dan Bahru yang masih SD memilih untuk memulung bahan rongsokan setelah pulang sekolah, sementara Dirjo menjadi penyemir sepatu dan Firdaus menjadi penjual koran keliling yang dilakukannya setiap pagi sambil berangkat sekolah dan setelah pulang sekolah. Mereka tidak pernah malu bekerja seperti itu meski teman-teman sekolah mereka sering mencemooh mereka, yang terpenting bagi mereka adalah mereka bisa membantu perekonomian keluarga tanpa harus menjadi pengemis atau peminta-minta karena sejak dulu Ayah mereka mengajarkan bahwa "tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah". Lebih dari itu, merekapun rajin beribadah dan senantiasa berdoa kepada Allah agar dimudahkan dalam segala urusan. Meski mereka bekerja, tapi mereka tidak pernah lalai dalam mengerjakan sholat lima waktu.

Beberapa bulan berlalu, akhirnya perekonomian keluarga Firdaus pun mulai membaik, hutang keluarga mereka sedikit demi sedikit bisa terbayar hingga lunas.

"Man jadda wa jadda" siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan berhasil, itulah kalimat yang selalu diyakini Firdaus dan adik-adiknya hingga mereka selalu bersemangat dalam bekerja. Ibu mereka yang dulu bekerja sebagai buruh cuci pun telah berhenti bekerja atas saran Firdaus yang tidak tega melihat Ibunya yang telah lanjut usia masih terus begelut dengan pekerjaannya yang berat itu. Di sisi lain, Firdaus dan adik-adiknya masih terus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan menabung untuk masa depan mereka.

Bertahun-tahun berlalu. Setelah Firdaus lulus SMA, ia pun mendirikan sebuah rumah makan dari uang tabungan ia dan adik-adiknya. Keluarganyalah yang mengelola sendiri rumah makan itu dengan kesungguhan dan sepenuh hati hingga dapat berkembang menjadi sebuah restoran yang ramai dikunjungi banyak orang setiap harinya.

Keluarga Firdaus pun kini hidup serba kecukupan, asa yang mereka rajut dengan kerja keras kini telah menjadi nyata.
 
***
 

Nurmasari, lahir pada tanggal 7 juni 1997. Juara beberapa event di group Komunitas Bisa Menulis, puisinya masuk 100 puisi terbaik yang dijadikan E-Book berjudul samudera kata pujangga dan termaktub di www.cahayapena.com , karya-karyanya mendapatkan 3 sertifikat dari group aliran puisi baru dan termaktub di http://eventaliranpuisibaru.blogspot.com/ serta 2 cerita mininya telah tergabung dalam buku antologi bintang kecil berjudul Beloved Family. Ia mempunyai nama pena "Cahaya Magrib" dalam berpuisi.


____________
Dapatkan lintasan berita lainnya via:
Follow Twitter: @tintahijaucom
Like Faceboook: Redaksi Tintahijau


Facebook Page