[Sastra] Ziarah di Pagi Buta

Tanah pekuburan masih basah. Rupanya malam hujan datang menghujam sunyi. Menyisakan embun yang bergelayut manja di ujung-ujung daun kamboja. Wanginya menguar sampai ke bulu hidung, bercampur dengan aroma khas tanah sesudah hujan. Menenangkan. Begitu pula mungkin yang dirasakan jasad-jasad di mari. Memilih tempat ini sebagai penginapan terakhir. Sempat aku berpikir, kenapa tidak memilih disemayamkan di hotel berbintang lima saja? Bukankah itu bisa jadi tempat peristirahatan yang sangat nyaman. Tetapi aku tak pernah menemukan jawabannya hingga kini. Manusia tak bernyawa bisa apa selain menuruti mereka yang hidup.

Angin lembut menyapu wajahku. Suara jangkrik entah dari mana seolah memainkan orkestra di pagi hari. Mendadak dadaku terasa sesak. Bagaimana bila penghuni tanah terbangun dari tidurnya? Ah, tidak mungkin. Aku menepis segala pikiran buruk yang melintas. Buru-buru teringat pada tujuan awal untuk menabur bunga dan berdoa, lantas pulang.

BACA CERPEN LAINNYA:
[Sastra] Diary Ami
[Sastra] Di Ujung Setia
Janji Untuk Mbak Sati


Saepudin bin Etom, nama itu tertera jelas pada nisan di bawah pohon rambutan. Aku mendesis menyebut nama Tuhan, sebelum merapalkan dedoa. Samar-samar dari kejauhan terdengar isak tangis seorang perempuan. Barangkali peziarah yang lain, pikirku. Lanjut saja berdoa, memohon agar semua dosa almarhum diampuni. Tunggu! Aku mencium bau amis dan suara tangis semakin menjadi, membuat hati tersayat-sayat bagi siapa pun yang mendengarnya.

"Kenapa kau tidak berdoa untuk aku juga?" terdengar sebuah tanya menuntut.

Aku menatap liar sekitar. Dari jarak tiga belas meter tampak seorang perempuan duduk menjeplak di makam baru, tertanda payung kain putih di atasnya. Aku menjerit dalam diam. Ia tidak jelas rupanya. Tetes demi tetes darah keluar dari pakaiannya.

"Kenapa kau tidak mendoakanku juga." Kali ini lirih ia berkata, seolah mengiba.

Bukan menuruti apa maunya, aku malah sedang berpikir agar bisa pulang cepat tanpa melewati makamnya. Haruskah aku berputar melintasi makam yang jauh lebih banyak? Kedengarannya lebih bagus daripada harus bersinggungan dengannya.

Kemudian air menggenang di sekitarnya, membuat sungai kecil. Aku mengutuk diri yang datang ke kuburan sepagi ini. Mengusap butir peluh di dahi tiada guna. Tak akan ada yang peduli, tak ada orang di mari, kalau ada pun aku tak yakin ia manusia.

"A-pa begitu sulit untuk memanjatkan doa? Bukankah kau telah melakukannya untuk Pak Tua itu? Lihatlah ia tengah makan dengan lahapnya sekarang."
Kata-katanya seakan berloncatan dalam gendang telingaku, membuatku merasa linu.

"Apa maumu, hah?" aku menantangnya dengan nada pongah.

"Sulit sekali bicara dengan manusia sepertimu. Aku meminta kau mendoakanku dengan setulus hati."

Aku berkacak pinggang. Tak terima dengan perintahnya. Sementara orang-orang di luar sana berdoa untuk mendapat uang sangu, ia malah mau yang gratisan. Sifat matreku tak lepas walau dilanda takut. Memangnya siapa dia main suruh-suruh?

Aku mengumpulkan keberanian untuk akhirnya bertanya, "Kapan terakhir kali ada yang mendoakanmu?"

"Tujuh hari pertama setelah kematianku."

Aku mendecak ragu. Payung kain putih itu seharusnya sudah rubuh sekarang. Arwah ini tengah menipu rupanya.
Ia mendesah kecewa, "Hanya anak-anak shaleh dan shalehah yang diterima doanya. Banyak orang berkumpul pun tak jadi jaminan."
"Kau yakin aku termasuk anak shaleh?" cecarku bangga.

"Kelihatannya begitu...." Terdengar nadanya semakin pasrah. Lelah dengan pertanyaan yang berjejalan.
Tak kuasa melihat ia begitu. Luluh juga aku dibuatnya, lalu merapalkan doa khusus untuknya. Tak peduli dibayar atau tidak. Yang penting segera angkat kaki dari sini.
Cahaya menerabas sekujur tubuhnya. Kemudian splash ia menghilang. Ucapan terima kasih menggema di langit-langit.
Baru saja aku mengayunkan kaki, tangis demi tangis bermunculan mencipta nada. Berebut didoakan. Jika satu mungkin aku sanggup menghadapinya, kalau sebanyak ini mana mungkin.

Aku menatap ngeri sekeliling. Berharap kemampuan arwah tadi: menghilang, terwarisi padaku. Walau nyanyian sendu mereka menyayat hati. Aku terus berlari dan berlari. Abai dengan sedu sedan yang membumbung hingga ke atas langit. Bergumul mencipta awan nan pekat, seolah ada yang sengaja mencelupkan tinta hitam.
Napasku menderu. Lelah dengan semua ini. Rasanya energiku terkuras habis, sampai aku tidak bisa merasakan kakiku menginjak tanah. Sebuah lolongan panjang terdengar memilukan dari kejauhan. Saat itu pula aku tergelincir dan terbangun di antara para arwah yang meminta pertolongan. Aku masih berharap ini hanya mimpi.
Kalijati, 23 Agustus 2017



Juliana Fadhilah, penulis adalah warga Kalijati Barat yang sedang kuliah di UPI Bandung


Facebook Page