[Sastra] Diary Ami

Day, hari-hari seperti satu buat Ami. Monoton. Hampa. Terkadang Ami malu sama teman-teman. Ami tak seperti mereka, katanya. No higheels. No trendy. Seluruhku dekil dan penuh daki. Ami juga tak punya kekasih tambatan hati, seperti mereka temen-temen Ami. Ami suka rendah diri karena mereka menjuluki Ami, si jilbaber yang kuper.   

Ami menutup lembaran merah jambunya. Di bawah pohon Nusa Indah yang tengah berbunga putih dan merah muda, di atas bangku kayu taman samping sekolah, Ami duduk seorang diri menikmati masa istirahatnya. Ya begitulah, hari-harinya di sekolah, jika istirahat atau sebelum masuk jam pelajaran, Ami selalu sibuk seorang diri. Kalau tak mengisi diary di taman sekolah, Ia akan tenggelam di balik buku-buku bacaan favoritnya di perpustakaan sekolah.

BACA CERPEN LAINNYA:
[Sastra] Di Ujung Setia
Janji Untuk Mbak Sati
Pak, Malam Ini Bulan Hanya Separoh!
Kunang-Kunang Tanpa Cahaya

Ami nyaman dengan hidupnya. Dengan kesederhanaannya. Tapi di sisi lain ia merasa terkucil karena dengan sikapnya itu ia seperti membangun dunianya sendiri. Sementara teman-temannya yang lain selalu asyik berkelompok, pergi ke mall, kencan bareng, hange out rame-rame, membuat party-party asyik dengan obrolan sekitar gossip artis, cowok keren dan mode-mode yang lagi trend. Ami tak bisa mengikuti gaya hidup teman-temannya. Jika dipaksakan berkumpul, ia seperti kebo congean yang melongo bego memperhatikan keriuhan teman-temannya.

“Coba sesekali kamu ikut dengan acara-acara kami Mi. Jangan karena berjilbab, kamu jadi kaku bergaul. Najwa berjilbab juga, tapi dia supel abis. Pacarnya saja sering gonta-ganti!” Mayang teman sebangkunya mengajak Ami membuka diri.

Tak salah juga pendapat Mayang. Ami berusaha untuk berbaur bersama teman-temannya. Tapi kemudian  Ami memutuskan untuk mundur. Ami nggak suka pergi tak karuan. Shoping itu butuh biaya banyak. Kumpul-kumpul bikin acara juga mesti larinya bermewah-mewah. Yang paling membuat Ami tak srek, waktu teman-temannya memaksakan kehendaknya mengenai pacaran.

“Hari gini nggak punya pacar Mi? Nggak gaul banget! Padahal banyak yang naksir kamu. Penampilan seperti itu saja cowok suka sama kamu. Apalagi kalau modis kayak kami. Kamu tuh cantik Mi. Wajahmu imut-imut. Aryo saja sampe kelimpungan. Ia sering menitipkan salam sama kamu!” Dini mengompori.

Mulanya Ami tertarik. Ia mengangguk saja waktu dijodohkan sama teman-temannya. Sudah saatnya mungkin membuka diri. Jadwal kencanpun diatur. Ami akan member peluang untuk Aryo pedekate dengannya pada sebuah acara pesta ulangtahun Siwi, teman sekelasnya.

Malam itu, Ami seperti seorang Puteri dari Negeri antah berantah, berada dalam gemerlap pesta yang baginya terasa asing. Ia mengenakan gaun modis meski tetap syar’I, jilbab sutera pink bunga-bunga. Kata teman-teman, Ami Nampak cantik sekali.
Aryo selalu berada di dekatnya dari awal acara hingga selesai. Cowok itu ternyata ramah dan kocak juga. Hal normal jika kemudian ada benih-benih suka di hati Ami.

“Pulangnya nanti Aryo yang anterin Ami ya? Jangan takut, Aryo akan jaga Ami kok!” tawaran Aryo yang begitu baik diiyakan sama Ami. Ami tiba-tiba saja merasa percaya, kalau Aryo adalah cowok special untuknya.

Day, ternyata Ami memang si itik yang akan tetap jadi itik. Bukan tak ingin Ami bergaul seperti mereka. Tapi hati Ami tak mengijinkan. Banyak ketakutan yang jadi penghalang gerak Ami. Ami juga tak akan membuka hati untuk yang namanya pacaran. Peristiwa semalam cukup membuat Ami jera. Ami tak suka Aryo menganggap hal wajar saat memegang tangan Ami waktu mengantar pulang. Katanya itu ia lakukan untuk memberi rasa aman. Ami masih bisa toleran. Tapi waktu ia berusaha mencium Ami, Ami tak terima. Ami malu sama atribut Ami. Terlebih, Ami malu sama Allah. Ami takut sama diri sendiri.

Bukankah banyak kecelakaan terjadi pada mulanya dari hal kecil seperti itu? Setan bisa mudah masuk ke perempuan yang menutup seluruh wajah dan tubuhnya sekalipun, jika hatinya dibiarkan lengah. Ami tak mau seperti itu. Biarlah Ami dicap jomblowati sama teman-teman. Ami tak mau menjajaki hati dengan yang namanya pacaran. Biarlah suatu saat nanti jika tiba dan pantas waktunya, Ami hanya akan melakukan taaruf saja untuk menuju hubungan yang halal.

Ami menutup diarynya, malam itu dengan wajah sembab. Hari-hari kembali dilaluinya dengan sepi. Teman-temannya asyik dengan gaya gaulnya, Ami semakin kaku dan tak bisa mengikuti gaya mereka. Tak apalah, asal ia tak menutup silaturhmi dengan teman-teman dan siapapun yang ia kenal.

“Mi, Mayang terancam tak bisa ikut Ujian Nasional. Ia ketahuan…” Tesa memberitahu Ami tentang teman sebangkunya yang beberapa hari ini tak masuk.

“Kenapa Sa? Mayang sakit?” wajah Ami begitu cemas mendengar kabar mengejutkan dari Mayang yang tiba-tiba raib tanpa kabar ke sekolah.

Tesa menggeleng. Wajahnya sendu menatap Ami.
“Dia…accident Mi. Ketahuan tiga bulan!” terang Tesa pelan.
“Innalillahi…”
Ami setengah menjerit. Hatinya menangis. Miris.
***

* Buat Anakku yang beranjak remaja, Nisa Audia Oktarina. Hati-hati jaga hati, Nak!
 


Ratna Ning

Nama pena sekaligus nama di akun FBnya, lahir di Subang tanggal 19 September. Mulai menulis sejak tahun 1994. Beberapa karyanya sempat dimuat di beberapa Media Massa. Pada akhir tahun 2000 Buku Kumpulan Cerpennya sendiri di terbitkan oleh Surya Media Agency Semarang. Buku-buku kumpulan cerpen dan puisinya pernah terbit bareng dengan teman-teman penulis perempuan di facebook baik dari event maupun yang diterbitkan bersama. Diantaranya : Buku Antologi Move On, Antologi Bintang Kecil, Antologi Puisi Seruni, Antologi Ini Aku Ini Hidupku dan ada beberapa lagi. Menjadi pemenang terbaik 1 di event Realisme Sosialis yang diadakan Ar-rahman Press.
Twitter : ratnaning6
Blog     : ratnaning597.blogspot.com
No. Hp : 087726550820
Email : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.




___________
Dapatkan lintasan berita Subang via:
Follow Twitter: @tintahijaucom
Like Faceboook: Redaksi Tintahijau
Iklan & Promo: 089624350851


Facebook Page