[Sastra] Di Ujung Setia

"Aku akan pergi Mey, demi masa depan kita. Demi sebuah rumah yang akan kita bangun, lalu akan kita bersihkan berdua di setiap sudutnya. Rumah dari bangunan dua buah hati dan bangunan yang sesungguhnya. Karena Meyra, cinta saja tak cukup. Aku ingin membahagiakanmu!” Pamit Awan, saat bertemu terakhir kali di suatu senja, di suatu tempat yang paling bersejarah.

BACA CERPEN LAINNYA:
Janji Untuk Mbak Sati
Pak, Malam Ini Bulan Hanya Separoh!
Kunang-Kunang Tanpa Cahaya

Meyra hanya diam. Matanya basah. Kalau saja ia dapat mencegah. Ahh, sesungguhnya Awan tak harus pergi jauh untuk bisa membuatnya bahagia. Ia tak butuh rumah mewah, tak silau dengan emas permata dan lembaran-lembaran rupiah. Bagi Meyra, berada dekat dengan Awan, meski hidup dalam kebersahajaan, itu sudah cukup. Kelembutannya, cara Awan menyayanginya, perhatian-perhatian kecilnya yang terasa begitu berarti dan menenangkan yang Meyra rasakan selama ini, tlah cukup memberinya naungan dan perlindungan. Ia bahagia meski kehidupan mereka kelak cukup apa adanya.

Tapi melihat keputusan Awan yang sepertinya sudah bulat, Meyra tak bisa berbuat apa-apa selain mengangguk menyetujuinya. Janji-janji manis Awan, bentuk cinta tulusnya yang ia rasakan selama ini dan…sebentuk cincin pengikat yang ia sematkan di jari manis Meyra sesaat sebelum berangkat adalah pengikat kesetiaannya satu sama lain. Meyra menyimpan keyakinan sepenuh hatinya, jika Awan akan kembali dan menyuntingnya. Seperti janji yang Ia ucapkan, pun sebelum berangkat.
"Jaga dirimu baik-baik. Jaga hatimu untukku ya Mey! Aku akan meneleponmu setiap saat!” katanya.

Hari-haripun berjalan sejak kepergian Awan. Jujur, ada sebagian jiwanya yang hilang, melayang entah kemana semenjak kekasihnya pergi. Mey merasakan kehampaan dan ketakberdayaan. Baru ia rasakan bahwa dirinya selain mencintai Awan, pun sudah merasakan ketergantungan pada cowok itu.

Meyra teringat Awan yang selalu memanjakannya. Ketika Meyra sakit, walau hanya demam kecil saja, Awan begitu ketat membawanya berobat. Melayaninya seharian. Membuatkan bubur dan menyuapinya. Sampai obatpun Awan bukakan dan suapkan satu-satu ke mulutnya. Lantas ingatannya terus melanglang ke saat-saat indah ketika menikmati hari-hari panjangnya. Jalan-jalan dengan Awan ke tempat-tempat yang Meyra suka. Menembus dinginnya kabut pegunungan dan kebun teh. Menyusuri jalan aspal yang berkelok dan menanjak. Saat Meyra mengantuk dan tertidur di belakangnya, Awan dengan sigap melambatkan laju motornya.

Sebelah tangannya merangkul ke belakang. Melindungi pinggang Mey tanpa berusaha membangunkannya. Ahh..banyak sekali kenangan indah yang mengikat kesetiaan Meyra untuk tetap menunggunya dengan segenap cinta. Ia percaya, Awan lelaki berhati lurus yang akan berpegang teguh pada cinta dan janjinya.

Sebulan berlalu, telepon Awan masih sering Meyra terima. Menginjak bulan kedua, ketiga hingga hitungan enam purnama, Awan mulai jarang menghubunginya. Jika dihubungi, ia akan berdalih sibuk menjelajahi wilayah dinasnya. Sedang didampingi bos atau alasan lainnya yang sesungguhnya masuk akal. Meyra masih berusaha sabar.

Hingga satu tahun berlalu dalam penantian dan setianya. Awan makin tenggelam entah dalam kesibukan atau tlah melupakan Meyra. Meski mulai diliputi tanda tanya dan keraguan, namun Meyra masih percaya pada janji mereka dan tetap pada kesetiannya. Meski banyak yang hadir untuk mengisi hari-harinya, hati Meyra tak bergeming. Kenangan indah dan cinta Awan telah mengikat hatinya begitu kuat untuk tetap pada penantiannya. Ia yakin, suatu saat Awan akan pulang dan mereka akan mengekalkan janji-janjinya dalam sebuah ikatan halal.

"Sudah setahun lebih Awan pergi Mey. Dulu dia janji akan pulang sesaat jika hari raya. Tapi hari raya sudah lewat, Awan malah mengurungkan niatnya pulang. Kamu tak merasa curiga atau khawatir ada sesuatu yang telah terjadi disana dengan Awanmu, Mey?" Mama mengingatkan Meyra tentang Awan.

"Awan kan sudah ngomong alasannya Ma. Dia sibuk pas hari raya itu makanya tak pulang. Mau gimana lagi? Tapi kan Awan janji, tahun baru ini mau pulang!” Meyra membelanya.

Ketika hari baru itu tiba, Mey gelisah dalam penantiannya. Awan makin sulit dihubungi. Jika terhubung, ia akan cepat-cepat menyudahi pembicaraan dengan berbagai alasan. Meyra sangat kesal dibuatnya. Bahkan akhirnya, handphone Awan tak aktif untuk beberapa lama.

"Awan, kenapa memutuskan kontak dengan Mey? Ada apa? Apa Mey melakukan kesalahan sama Awan?” hati-hati Mey bertanya dalam sambungan teleponnya.

Disana hanya diam. Tak ada suara untuk beberapa saat. Awan seperti enggan menjawab.
"Awan…jawablah! Bicaralah ada apa? Asal Awan tahu, meskipun lama Awan tak menghubungi Mey, tapi Mey tetep setia sama Awan. Mey tetap menunggu Awan. Sekarang kita sudah bisa berkomunikasi lagi. Awan…bicaralah. Ada apa? Apa Awan sakit?”

Lamaa..Mey menunggu suara di seberang sana. Hening. Tapi akhirnya…klikk! Telepon ditutup dari sana. Meyra terkesiap. Belum habis kejutnya, dering handphone terdengar dari nada smsnya. Mey sigap membukanya.

"Maaf Mey! Awan…sudah menikah! Setelah hari raya kemarin!”
Gelap tiba-tiba. Serasa ada petir yang menyambar pendengaran Mey hingga ia mati rasa. Tubuhnya serasa melayang. Hampa.

Di ujung setia ini Meyra berusaha mengkaramkan sejuta perasaannya. Benci, cinta dan segala kenangan yang masih lekat yang terasa kontras melirihkan rasa sakit dan rindunya. Mencoba menyadari satu kekhilafan tentang keyakinannya yang teramat melambung akan janji manis Awan. Ternyata rencana Tuhan seindah-indahnya dan sepasti-pastinya rencana. Di ujung setia ini, Meyra menyudahi penantiannya. Membuka lembar-lembar yang berisi kepasrahan pada jodoh yang dikirimkan Tuhan. Seorang lelaki bersahaja yang romansanya mungkin tak seindah yang pernah terjadi dengan Awan. Tapi Meyra tahu jika cintanya adalah cinta yang disertai ridho Tuhan. Karena Ia ada dan mau mendampingi hari-harinya dengan suatu kepastian.***

Ratna Ning,

Lahir di Subang Tanggal 19 September.  Mulai menulis sejak remaja, tahun 1994. Pada tahun itu juga tulisan pertamanya dimuat di media massa remaja Pop ‘KawanKu’. Dari tahun 1994 sampai medio tahun 2005 masih aktif menulis dan beberapa tulisannya dimuat di beberapa media massa nasional, daerah dan instansi. Tahun 2013 beberapa antologinya terbit hasil dari event-event di penerbit indie dan nasional. Ratna Ning bisa dihubungi via email : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya..
_______
Dapatkan lintasan berita Subang via:
Follow Twitter: @tintahijaucom
Like Faceboook: Redaksi Tintahijau


Facebook Page