Aku memohon izinmu untuk menceritakan serpihan kenangan kita yang melintas begitu saja dalam benakku. Sekarang langit sore terlihat berawan hitam sebagaimana saat terakhir kali kau ajarkan hukum idgham padaku. Ada yang berdengung, ada yang nyaris hilang. Selintas.

Mim Nun Iya tasi je'er miy dibaca Miy

Mim ya tasi je'er dua miy dibaca

Nurma tak henti menangis, badannya panas. Sudah hampir empat hari ini ia demam, batuk dan bersin-bersin. Ramlan menggendongnya, menenangkannya dan memberinya obat yang ada di warung. Hingga habis dua lembar obat penurun panas selama itu, tapi demam Nurma tak kunjung reda. Dimintanya pada Nuri anak sulungnya untuk mengambilkan handuk kecil

Firdaus mematut diri di depan kaca, melihat betapa tak berguna dirinya saat ini. Untuk berjalan saja ia harus bertumpu pada tongkat kayu yang terkapit di tangan kirinya. Belum lekang dalam pikirannya kejadian beberapa bulan silam yang membuat ia harus kehilangan kaki sebelah kirinya. Saat itu, ia sedang dalam perjalanan pulang

Tanah pekuburan masih basah. Rupanya malam hujan datang menghujam sunyi. Menyisakan embun yang bergelayut manja di ujung-ujung daun kamboja. Wanginya menguar sampai ke bulu hidung, bercampur dengan aroma khas tanah sesudah hujan. Menenangkan. Begitu pula mungkin yang dirasakan jasad-jasad di mari. Memilih tempat ini sebagai penginapan terakhir. Sempat aku berpikir,

Day, hari-hari seperti satu buat Ami. Monoton. Hampa. Terkadang Ami malu sama teman-teman. Ami tak seperti mereka, katanya. No higheels. No trendy. Seluruhku dekil dan penuh daki. Ami juga tak punya kekasih tambatan hati, seperti mereka temen-temen Ami. Ami suka rendah diri karena mereka menjuluki Ami, si jilbaber yang kuper.   

Banner Kanan 1

Facebook Page