Firdaus mematut diri di depan kaca, melihat betapa tak berguna dirinya saat ini. Untuk berjalan saja ia harus bertumpu pada tongkat kayu yang terkapit di tangan kirinya. Belum lekang dalam pikirannya kejadian beberapa bulan silam yang membuat ia harus kehilangan kaki sebelah kirinya. Saat itu, ia sedang dalam perjalanan pulang

Tanah pekuburan masih basah. Rupanya malam hujan datang menghujam sunyi. Menyisakan embun yang bergelayut manja di ujung-ujung daun kamboja. Wanginya menguar sampai ke bulu hidung, bercampur dengan aroma khas tanah sesudah hujan. Menenangkan. Begitu pula mungkin yang dirasakan jasad-jasad di mari. Memilih tempat ini sebagai penginapan terakhir. Sempat aku berpikir,

Day, hari-hari seperti satu buat Ami. Monoton. Hampa. Terkadang Ami malu sama teman-teman. Ami tak seperti mereka, katanya. No higheels. No trendy. Seluruhku dekil dan penuh daki. Ami juga tak punya kekasih tambatan hati, seperti mereka temen-temen Ami. Ami suka rendah diri karena mereka menjuluki Ami, si jilbaber yang kuper.   

"Aku akan pergi Mey, demi masa depan kita. Demi sebuah rumah yang akan kita bangun, lalu akan kita bersihkan berdua di setiap sudutnya. Rumah dari bangunan dua buah hati dan bangunan yang sesungguhnya. Karena Meyra, cinta saja tak cukup. Aku ingin membahagiakanmu!” Pamit Awan, saat bertemu terakhir kali di suatu

Kedatangan laki-laki itu di kampung  Dukuh Sunyi, di rumah Mariyem, di awali dari mimpi-mimpi. Pak RT begitu mempercayainya. Ditularkan sama Bapaknya Mariyem, orangtua lugu yang mata pencaharian sehari-harinya bertani itupun percaya juga.

"Ada sesuatu di diri laki-laki itu. Meski kedatangannya seperti juga dirinya yang misteri, tapi kita percaya Pudin bukan orang