[Opini] Patimban, Pendidikan, dan Persiapan Kita

Patimban sebagai pelabuhan internasional ditargetkan mulai beroperasi pada Maret 2019. Sedangkan, mega proyek Kota Baru Patimban ditargetkan tuntas tahun 2027. Hal ini dapat menjadi berita baik sekaligus berita buruk bagi masyarakat Subang, tergantung bagaimana kesiapan kita menyongsong perubahan besar kabupaten ini. Dikaitkan dengan perdagangan bebas dan pudarnya batas-batas negara, kita harus siap bersaing dengan masyarakat global baik dalam kualitas produk barang domestik maupun kualitas SDM. Terlebih, posisi Subang yang strategis diapit oleh dua gerbang internasional: Patimban dan Kertajati.

Sekolah yang (tak) Dirindukan: Mewujudkan Pendidikan sebagai Hak
Nilai Plus Pasangan Prabowo-Sandiaga Uno
Kepala Daerah Baru Jangan Korup
Agar Zonasi Tak Berbuah Frustasi

Menghadapi hal itu tentu banyak hal yang harus disiapkan baik oleh pemerintah maupun masyarakat Subang sendiri secara pribadi. Namun, dalam hal ini sebagai seorang pendidik saya akan coba fokus kepada "PR" dalam bidang pendidikan untuk menyikapi perubahan yang akan dihadapi. Bagaimanapun, pendidikan memegang peranan yang sangat vital dalam peningkatan SDM sebuah daerah. Di ruang-ruang kelas, secara formal, masyarakat dididik untuk menjadi "manusia seutuhnya" yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kualitas dan kuantitas transaksi pembelajaran di kelas itulah yang akan memberikan dampak luar biasa terhadap kualitas SDM Kabupaten Subang, yang akan menjadi penggerak utama pembangunan.

Berdasarkan data dari BPS tahun 2017, jika melihat rasio jenjang pendidikan yang diselesaikan oleh penduduk Kab. Subang berusia 15 tahun ke atas, sangat wajar jika kita merasa was-was. Mayoritas penduduk di usia tersebut hanya berijazah SD, sebanyak 36,85%. Disusul dengan mereka yang berijazah SMP dan SMA masing-masing sebesar 24,34% dan 20,43%. Bagaimana dengan yang berijazah S1 atau sarjana ke atas? Hanya 4,14% penduduk berusia 15 tahun ke atas yang memiliki kualifikasi pendidikan S1 ke atas.

Bagaimanapun, ijazah atau latar pendidikan masih menjadi faktor penting dalam penerimaan dan penempatan kerja. Umumnya, mereka yang berpendidikan rendah akan ditempatkan di pekerjaan-pekerjaan kasar yang lebih mengandalkan kemampuan otot. Sebaliknya, untuk pekerjaan yang membutuhkan daya nalar yang lebih dominan akan diberikan kepada yang berpendidikan lebih tinggi. Adapun, kasus-kasus tertentu yang menunjukan hal berbeda merupakan pengecualian yang persentasenya sangat kecil. 

Melihat data dari BPS dan dikaitkan dengan fenomena penempatan kerja tersebut, mari kita menilai sendiri, akan menjadi apa penduduk usia produktif kita nanti? Apakah kita akan menempati posisi-posisi penting dan tinggi dalam pembangunan kabupaten ini, ataukah menjadi tenaga teknis atau--maaf--"kacung" dari para pendatang yang lebih mumpuni? Itu baru berbicara masalah daya saing secara formalitas ijazah, belum ke kualitas lulusannya.

Perlu dicatat bahwa kemungkinan arus masuk tenaga kerja dari luar kabupaten bahkan luar negeri sangat mungkin akan semakin tinggi, mengingat potensi strategis Kab. Subang nanti. Bahkan, saat ini kita dapat melihat begitu banyak pendatang yang hadir di tengah-tengah kita. Jika pun kita mau mengecek, siapa sajakah para petinggi perusahaan swasta atau bahkan institusi pemerintah yang merupakan asli orang Subang? Berapa persen? Jadi, akankah kita menjadi "pembantu" di negeri sendiri?

Selain peningkatan partisipasi sekolah masyarakat, hal lain yang harus diperhatikan dalam bidang pendidikan adalah software dari pendidikan itu sendiri, kurikulum. Apakah kurikulum muatan lokal atau mulok yang merupakan wewenang daerah telah mendukung penyiapan SDM kita menuju "Subang Megapolitan"? Apakah atmosfir industri sudah benar-benar masuk ke dalam kurikulum sekolah, khususnya SMK? Sehingga lulusannya benar-benar siap bersaing secara global, mengingat Pelabuhan Patimban nanti merupakan pelabuhan berskala internasional. Terlebih ada perubahan dari daerah agraris menjadi daerah industri.

Dan berbicara tentang "internasional" tentu tak bisa lepas dari kemampuan bahasa asing, khususnya bahasa internasional seperti Inggris dan Mandarin. Seberapa siapkah masyarakat Subang berkomunikasi dan bertransaksi dengan masyarakat global? Tak hanya para masyarakat di level bawah namun juga mereka para pemangku kebijakan. Terlebih, komunikasi merupakan hal penting dalam menjalin hubungan baik secara formal maupun informal, baik personal maupun antar lembaga. Percuma kita punya ide yang luar biasa hebat jika kita tidak dapat menyampaikannya dengan baik.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah pendidikan terhadap masyarakat yang lahan--khususnya sawah--nya dibeli oleh pengembang pelabuhan. Perlu arahan, pendampingan, dan pendidikan baik formal maupun non formal yang tepat terkait perencanaan kehidupan mereka ke depan. Jangan sampai, mereka menjadi Orang Kaya Baru (OKB) yang euphoria dengan uang banyak yang didapat, membeli banyak hal, namun lupa investasi untuk jangka panjang. Hal tersebut, akan mengakibatkan mereka kembali jatuh miskin saat uang yang didapat habis. Hal yang sama juga perlu diberikan kepada para nelayan kecil yang mau tak mau akan terkena dampak dari pembangunan pelabuhan.

Mungkin, banyak hal lain yang menjadi PR kita di dunia pendidikan Kab. Subang dalam menghadapi perubahan besar ini.  Menyongsong pemerintahan yang baru nanti, ada harapan besar agar kita dapat lebih siap menghadapi peluang, tantangan, atau ancaman di masa yang akan datang. Dan ini bukan hanya PR pemerintah tetapi kita sebagai penentu sikap yang akan dijalankan secara pribadi.

Wallahu'alam bi shawab

Fadillah Tri Aulia, S. Pd, Penulis adalah Sekretaris Jaringan Sekolah Islam Terpadu Indonesia Kab. Subang


Ikuti Lintasan Berita via socmed:
Twitter: @TINTAHIJAUcom
Instagram: @TINTAHIJAUcom
FB: REDAKSI TINTAHIJAU


Twitter Update

300 Jendral Siap Menangkan Prabowo-Sandi https://t.co/Cm6lHBwcnp
Pasangan Calon Presiden sudah ada, nomor urut juga sudah. Siapapun jagoannya #2019TetapNgopi Dapatkan Kaos… https://t.co/vmLylspsz5
Kangen lagu romantisnya ARMADA BAND, mau dinyanyikan di depan tercinta? Datang dan nikmati di Cafepedia Jl. Otist… https://t.co/WQB4dEh2Os
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page