Follow us:

[Opini] Aku membaca maka aku Ada

Meskipun seumpanya saudara bukan keluaran universitas, jangan berkecil hati. Bacalah buku, bacalah buku, bacalah buku sebanyak mungkin untuk upgrade saudara punya diri.(IR soekarno)

Pernyatan ini tertera didalam buku soekarno yang berjudul Revolusi belum selesai halaman 171. seorang Soekarno memberikan sebuah acuan kepada bangsa indonesia agar tidak memiliki rasa pesimis terhadap peningkatan kualitas kecerdasan ketika tidak mampu mengenyam pendidikan di universitas. Kita mungkin akhir-akhir ini pernah mendengar seorang menteri kelautan yang bernama susi pudjiastuti, namanya begitu cetar saat dia di angkat menjadi menteri keulautan meski hanya lahir dari rahim sekolah menengah pertama.

Ada satu rutinitas yang tak bisa dilepaskan ketika usianya masih muda ialah membiasakan dengan membaca buku. Di usianya yang masih tebilang muda saat itu ia sudah berani bersentuhan dengan buku-buku filsafat terutama buku jean paul sastre mengenai gagasan eksistensialisme yang berujung pada kebebasan demokrasi dan hal-hal yang berbau pada isu kemanusiaan.

Memiliki relasi dengan kisah ini, saya mempunyai catatan kecil sekaligus keresahan tersendiri ketika menggulirkan lapak buku di alun-alun subang terutama mengenai kesadaran literasi disana. Masyarakat subang terkhusus kalangan muda rasanya masih belum begitu tertarik dengan kegiatan membaca buku. Setiap kali menggelar lapak buku, kami bisa menghitung jumlah pengunjung yang datang ke lapak dari jam setengah empat sampai jam sembilan malam. Ini menandakan bahwa, masyarakat kita masih belum begitu tertarik maupun sadar akan urgensi membaca buku.

Jika ditinjau dari sisi sejarah terkadang Kemajuan sebuah bangsa dapat dilihat dari tingkat kemampuan literasi masyarakatnya. Senarai sejarah sudah banyak menunjukan peradaban-peradaban yang dulu maju di pengaruhi oleh adanya buku bacaan. Sebagai contoh saya mengambil peradaban bangsa mesir, dalam lingkaran sejarah mesir dulu memilki romantisme literasi yang sangat indah, bangsa yang terkenal dengan sebutan  negeri piramida dulu mempunyai perpustakan yang amat besar bernama perpustakan alexandria, perpustakan yang menampung sekitar 500.000 buku dan manuskrip itu mampu mengubah tatanan dunia hingga sekarang dengan bukti teori hellenisme mampu disebar ke seluruh dunia via timur tengah menuju eoupa membangun dunia dalam corak berpikir naturalisme dan idealisme karena di perpustakan alexadria dahulu kala  mengkoleksi buku-buku aristoles yang sering di salin ulang dan disebar luaskan ke penjuru dunia.

Dalam buku sejarah pendidikan karangan djumhur dan danasuparta Masyarakat mesir kala itu sudah mampu rajin membaca buku mengenai pujian-pujian kepada dewa-dewa setidaknya ada 42 buku pokok yang wajib di baca oleh masyarakat mesir hingga pantas mereka memiliki perdaban tinggi dan masyarakat yang tahu akan harga diri.

Setelah kita sekilas menelusuri literasi bangsa mesir, maka kita menjumpai beberapa kegiatan penting yang mengandung kesan dan pesan, menyirat amanah dan berhikmah serta mendorong gairah untuk menggugah semangat literasi bersama. Meski secara jarak waktu mesir dengan jaman kita menghirup udara jauh tetapi terdapat nilai-nilai yang harus tetap di pertahankan.

Dewasa ini masyarakat subang hendaknya harus lebih giat lagi dalam  membaca buku, mengingat merebaknya anak-anak muda yang lepas sekolah hanya sampai lulusan smp memberikan coreng hitam bahwa pendidikan subang masih jauh dikatakan sempurna. Di samping ini subang akan menghadapi pelabuhan internasional di patimban yang tidak menutup kemungkinan terjadinya persaingan antara warga pribumi setempat dengan warga negara asing. Maka hendak di bawa kemana kota subang kedepanya ? ketika masyarakat subang sendiri sudah tidak mampu bersaing dengan warga negara asing yang notabene mempunyai skill dan kemampuan. Masyarakat subang harus mampu mempunyai kesadaran pentingnya meningkatkan sumber daya manusia agar kedepanya tidak menjadi budak atau tamu di kandangnya sendiri.

Pendeknya, kita berharap besar dengan mengunakan gerakan literasi di kota subang mampu mendobrak (konstruktif) mengubah masyarakat yang beku,statis dan mandek menjadi masyarakat yang memiliki arah, gaya hidup, pandangan budaya dan nasib sendiri.

Semua itu haruslah diawali oleh diri kita sendiri, dengan buku bacaan mudah-mudahan bisa menjadi manusia yang tercerahkan, maksudnya ialah orang yang sadar akan kesadaran kemanusiaanya (human condition) di masanya, serta setting kesejarahanya dan kemasyarakatanya sehingga terbentuk kesadaran tanggung jawab sosial.

Sedemikian adanya,sedemikian baiknya.

Anja Hawari Fasya, Aktifis Pelajar Islam Indonesia & Pengelola Taman Baca Rumah Ilmu



Dapatkan kilasan berita lainnya via:
Twitter: @TINTAHIJAUcom
Instagram: @TINTAHIJAUcom
FB: REDAKSI TINTAHIJAU


Twitter Update

Seniman Asal Belanda dan Korea ikut Galang Dana Lombok https://t.co/lMSKD9RBui
Masyarakat Majalengka menggelar Pawai Obor di Jalan KH Abdul Halim, Majalengka guna menyambut Hari Raya Idul Adha 1… https://t.co/QSK0RmDbD7
Kini, Subang Punya Pabrik Batik Sendiri aja https://t.co/7PVEVVG5Zw
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page