Follow us:

OPINI: Pesta (Demokrasi) dan Drama Politik

Sebuah mobil terus merayap dalam kebisingan dan padatnya jalan. Sesekali dia menyalip,menderu dalam tanjakan sambil menghembuskan asap hitam. Mobil itu seakan gengsi harus mengakui nuraninya bahwa kelelahan tengah dia rasakan. Dalam perspektif kekuasaan, kecendrungan ini mulai terasa, nilai, etika, budaya, dipaksa masuk.

Jika kita amati design marketing politik dari para aktor politik, maka Pragmatisme kepentingan politik akan begitu terlihat. Dalam marketing politik dimaksud, politik tidak lagi ditentukan oleh arus bawah, tetapi ditentukan oleh rekayasa investor politik. Investor politik ini berperan sebagai aktor intelektual politik.

Pada drama politik seperti itu, politik tersandera oleh elite politik dan ekonomi yang terus berbisik di balik layar. Merekalah yang menggerakan aktor politik. Putusan dan kebijakan politik pun tersirat untuk kepentingan dan keuntungan para elite politik belakang layar. Untuk itu, setiap aktor politik didandan dan di-make up bak badut politik. Pikiran dan gerak-gerik politiknya telah diarahkan sesuai dengan skenario politik elite politik dan ekonomi.
Pendangkalan demokrasi politik terus diupayakan. Demokrasi politik hanyalah rekayasa genetika politik untuk melahirkan aktor atau badut politik, bukan sebuah kanal transfersal politik dengan rakyat.

Kelahiran badut politik (politikus  yang terlepas dari kepentingan rakyat) dari sebuah demokrasi semu, demokrasi yang hanya jadi pemelihara mimpi publik, tanpa disadari telah memaksa rakyat untuk tersingkir dan hanya menjadi pemandu sorak dalam politik.

Setelah sebelumnya partai - partai berlomba membuat drama bertema mengusung dan mendukung bakal calon, maka akan tiba 27 Juni 2018 sebagai momentum bagi rakyat di banyak daerah untuk memilih pemimpinnya.  Meski drama politik sajian para tim sukses banyak menyita perhatian publik, namun rakyat terus memproduksi harapan untuk memelihara kemurnian politik yaitu politik yang mensejahterakan. Rakyat berharap pilkada melahirkan seorang pemimpin yang mampu menciptakan iklim demokrasi sesungguhnya, dimana kelak tidak sekedar mengeluarkan kebijakan yang baik untuk diri sendiri maupun golongannya, tetapi kebijakan yang dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Untuk hal ini tentu saja kepala daerah harus bisa memerankan diri sebagai arsitek, sehingga apapun sketsa yang dibuatnya sudah melalui tahap penelusuran terhadap tanah dan lingkungannya.

Kepala daerah terpilih hendaknya memulai membangun kesejahteraan rakyat dengan menggali kekuatan dari pemerintahan yang dipimpinnya. Ini sangat penting dan lebih utama daripada bergantung pada kekuatan alam daerahnya. Harus dicatat bahwa Reformasi birokrasi tidak selalu identik dengan rotasi dan mutasi. Kepala daerah harus mampu menunjukan bahwa sebagian besar kharismanya mampu menempatkan dirinya sebagai Leader sehingga personil pembantunya pun kelak terbiasa dalam bekerja penuh rasa tulus serta tanggung jawab, bukan atas dasar ketakutan semata.

Politik sesungguhnya bukan anak haram dari pengetahuan manusia, namun haruslah dipahami sebagai seni memainkan peran, baik secara ideologis maupun secara kulturalis. Kepala daerah terpilih hasil pilkada serentak tahun ini hendaknya bukanlah badut politik tapi dia adalah pekerja yang bekerja dalam logika kerakyatan. Dekatkanlah politik dengan kualitas rasional yang komprehensif, bukan dengan kualifikasi antropologis-sentimental.  Sekali lagi, rakyat tengah menyulam mimpi indah, maka jadilah pemimpin yang mensejahterakan !

Oleh: Taswa Witular,S.IP (kang Away), Penulis adalah pemerhati sosial politik,dikenal sebagai konsultan politik Nasional



Dapatkan kilasan berita lainnya via:
Twitter: @TINTAHIJAUcom
Instagram: @TINTAHIJAUcom
FB: REDAKSI TINTAHIJAU


 


Twitter Update

Dipecat dari Golkar, Hendra Boeng Maju di Pileg Subang dari Nasdem https://t.co/9YxrYxGDVt
Takjub dengan Program TMMD, DPRD: Pemkab Jangan Gengsi Meniru https://t.co/0d6G87AU0h
Garda Pemuda NasDem Sumbang Perlengkapan Sekolah Anak Ade Diding https://t.co/CvXDABaV8S
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page