Follow us:

[Opini] Catur, Kekuasaan dan Politik

Siapa yang tak mengenal catur, sebuah permainan yang mengasah kecerdasan berpikir seseorang, serta tak ada batasan usia untuk melakukannya. Strategi kemenangannya beragam, bebas nilai akan tetapi langkah demi langkah bidak caturnya baku, tak pernah berubah, semua normatif, menghargai setiap langkah lawan yang hendak menyerang, fokus mengatur strategi, hingga mampu melumpuhkan lawan sampai skak mat tanpa baku hantam atau saling mencela, menyudutkan dengan ujaran kebencian.

Menurut Carl Von Clausewits (Carl Philipp Gottfried) (1780-1831)   seorang tentara Prusia dan intelektual bahwa Strategi merupakan penggunaan pertempuran untuk memenangkan peperangan “the use of engagements for the object of war”. Demikian dalam sebuah pertarungan bidak catur, pemain catur harus piawai dalam menyusun strategi untuk mendapatkan kejuaraan, dengan memanfaatkan potensi dan tantangan yang tampak.

Dalam prosesnya, strategi yang dijalankan tidak harus melulu disertai hasrat untuk menguasai medan permainannya, akan tetapi bagaimana kita mampu mengelola dengan cantik dan nyentrik semua taktik untuk sampai di ujung permainan tersebut.

Pun demikian dalam konteks politik hari ini, dimana konstalasi politik nasional berimbas terasa sampai daerah. Semua berlaga sesuai dengan perannya, dalih menyampaikan stabilitas moral berbasis agama, kesejahtraan, pemerataan ekonomi, kondisi sosial yang nyaman, pengembangan wisata, kesehatan mudah diakses, pendidikan yang gratis dan banyak lainnya.

Semua ibarat dagangan dengan kemasan menarik disampaikan oleh sales untuk memikat konsumen, entah kualitas produknya seperti apa, yang jelas kesemuanya harus tuntas dihadapan konsumen, terjual laris dan meraup untung yang banyak.

Inilah pergulatan politik hari ini, tidak seperti pemain catur yang normatif, hasrat untuk berkuasa tak dapat dibendung lagi, manusiawi memang, akan tetapi harus tetap berbasis nilai.

Hari ini, momen pilkada terasa menjadi lebih sakral, melebihi batas penunaian kewajiban manusia pada Tuhannya. Disadari memang, corong terpilihnya pemimpin melalu mekanisme pemilihan langsung yakni melalui pilkada, yang terkadang ongkosnya cukup besar.

Disinilah titik pemberangkatan dimulai, bukan menitipkan kepercayaan semata, namun untuk terus mengawal roda politik untuk sampai pada tujuan mulia, yang semuanya harus berlandas pada nilai-nilai ketuhanan. Selamat menjemput pemimpin baru, karena ini bukan hanya sebatas main catur yang penuh strategi dengan tujuan menguasai kemenangan dilapangan politik, melainkan bagian bentuk ibadah kita.

Mari berperang strategi, mari berdampingan, menurunkan egoisme keberpihakan, keragaman melahirkan keselarasan, untuk tetap menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi. Selamat berpesta, selamat menikmati hidangan Tuhan, melatih diri untuk senantiasa menjadi redup, sejuk dan mampu menghargai keputusan Tuhan manakala telah terputuskan.

Teguh D. Aljabar, Penulis merupakan penggiat litarasi dan Penulis Buku



Dapatkan kilasan berita lainnya via:

Twitter: @TINTAHIJAUcom
Instagram: @TINTAHIJAUcom
FB: REDAKSI TINTAHIJAU


Twitter Update

Dipecat dari Golkar, Hendra Boeng Maju di Pileg Subang dari Nasdem https://t.co/9YxrYxGDVt
Takjub dengan Program TMMD, DPRD: Pemkab Jangan Gengsi Meniru https://t.co/0d6G87AU0h
Garda Pemuda NasDem Sumbang Perlengkapan Sekolah Anak Ade Diding https://t.co/CvXDABaV8S
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page