[Opini] Birokrasi Tanpa Berkah

Tahun politik sebentar lagi datang menjelang, bertebaran dimana-mana mulai dari poster, pamplet hingga baligho yang berisi gambar orang-orang yang sedang menjajakan dirinya dengan mengangkat berbagai macam isu dan jargon yang dianggapnya mampu membeli hati siapapun yang membacanya. Tahun poitik adalah tahun pertempuran berbagai macam kepentingan untuk mendapatkan tempat politik pada kekuasaan, karena tahun politik adalah tahun penentu siapa yang menang dan siapa yang berkuasa di negeri ini.

Masyarakat yang cerdas tentu bukan lagi masyarakat yang begitu mudah tergiur dan terhipnotis oleh jargon dan deretan mimpi yang sebagiannya hanya berisi puisi yang mengibuli lalu seperti mengundi diri yang ditawarkan oleh siapapun yang bertengger pada baligo dan spanduk-spanduk disepanjang jalanan, apalagi yang hanya menukar nasib dan masa depan diri serta anak cucunya dengan beberapa lembar uang yang nilainya tak lagi seberapa. Namun masyarakat yang cerdas mereka yang menentukan pilihannya berdasarkan rasa cinta dan harapan terbaik bagi dirinya, bangsanya dan negerinya sendiri.

Saksikanlah hingga hari ini para penjajak diri yang begitu gagah menawarkan berbagai macam solusi hidup berbangsa dan bernegara beberapa tahun lalu itu kini hanya mampu mempertontonkan sandiwara dan drama paruh waktu yang lucu namun menggeramkan karena menunjukan betapa bodohnya kita saat itu memilih mereka untuk berada di sana.

Hari ini mari kita bersama-sama menutup mata dan tak usah membaca apapun yang berjejer genit sepanjang jalanan, namun mari buka hati kita lebar-lebar untuk mencari orang yang tak menjajakan diri sambil mengibuli namun ia hadir dengan niat setulus salju namun memiliki keberanian api. Karena kebangkitan negeri ini harus dimulai oleh hadirnya seorang pemimpin yang bukan hanya putih hatinya namun memiliki keberanian api yang menyala.

Banyak pemimpin yang bersih dan baik namun tidak memiliki keberanian untuk beramar ma’ruf nahyi mungkar hingga akhirnya mereka hanya seperti ekor ular yang semakin lama semakin menyamai kepalanya. Lihatlah negeri ini yang kian carut marut diusianya dan kian renta hingga hari ini belum mampu menjadi rumah terindah dan ternyaman bagi para penghuninya, kecuali mereka yang sebagian kecil melacurkan idealisme dan keyakinannya.

Semua ini harus diawali oleh hadirnya seorang pemimpin yang bersih namun pemberani, karena dari dialah akan lahir cinta dan kasih sayang yang mengalir indah menyusuri seluruh birokrasi yang akan menjadi kunci terlindungi dan terjaganya hak-hak setiap penghuni negeri ini. Selama in banyak para calon pemimpin yang menjual dirinya dengan berteriak-teriak jika dia akan mampu menghadirkan Good and Clean goverment namun pada kenyataannya setelah dia memimpin pemerintahannya berubah bahkan lebih ganas dari pada siapapun yang dihujat sebelumnya. PANGKAL KEBANGKITAN NEGERI INI ADALAH MELAHIRKAN KEMBALI KEBERKAHAN PADA BIROKRASI.

Jika kita jujur, mari kita lihat dan sebutkan berapa banyak birokrasi yang hingga hari ini benar-benar bersih dan memiliki komitmen kuat dan totalitas tinggi untuk melayani masyarakat dan memberikan pelayanan terbaik tanpa harus ada embel-embel apapun, berani mati menegakkan idealisme dan kewajibannya bagi terjaminnya hak layanan masyarakat? Lantas apa yang akan kita harapkan jika semua sudah terlilit oleh semua ini? Pemberantasan korupsi hanya akan jadi mimpi indah ditengah mimpi panjang yang tak pernah terbangunkan. Para pejuang sejati hanya memiliki tempat di lorong-lorong sepi dan melangkah menyusuri keheningan di ujung malam, karena jika siang menjelang dan dia berteriak sedikit kencang saja maka hadiahnya terisolasi dari kehidupan. Mari kita mencari pemimpin yang berani berjanji dan bersumpah darah untuk kembali mengembalikan keberkahan negeri ini dengan mengembalikan keberkahan birokrasi dengan menghadirkan birokrasi yang tak lagi selalu bercampur antara kerakusan dan keserakahan jabatan yang tak bermata hati.

“Barangsiapa di antaramu kami minta mengerjakan sesuatu untuk kami, kemudian ia menyembunyikan satu alat jahit (jarum) atau lebih dari itu, maka perbuatan ghulul (korupsi) itu harus dipertangungjawabkan nanti pad ahari kiamat (HR. Muslim).

Dadan Hermawan, M.Pd, Penulis adalah Pengajar di Kabupaten Subang


Dapatkan kilasan berita lainnya via:
Twitter: @TINTAHIJAUcom
Instagram: @TINTAHIJAUcom
FB: REDAKSI TINTAHIJAU


Banner Kanan 6
Banner Kanan 7
Banner Kanan 1
Banner Kanan 2
Banner Kanan 3
Banner Kanan 4
Banner Kanan 5

Twitter Update

27 Juni 2018, Kabupaten Subang menggelar Pilkada. Catat! Inilah Visi Misi Tiga Pasangan Calon Bupati Subang https://t.co/yZ8mokqvaL
H+1 volume kendaraan di jalur wisata, Subang-Ciater alami peningkatan. Arus lalin di jalur tersebut padat merayap.… https://t.co/yL22Sz8D94
Kecelakaan lalu lintas di Jl Cibarengkok, Binong, Subang. Seorang pengendara motor tanpa identitas dinyatakan menin… https://t.co/QGDIcOhHZB
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page