Haruskah Menyontek untuk Meminta Maaf

Menjelang Ramadhan sangat lumrah jika ucapan permintaan maaf beredar di mana-mana, termasuk di media sosial. Yang menggelitik adalah seringkali didapatkan ucapan permintaan maaf yang sama persis dalam segi penulisan huruf, tanda baca bahkan emoji yang digunakan, padahal dari orang yang berbeda. Kenapa menggelitik? Seperti yang dituangkan dalam judul tulisan ini, haruskah untuk meminta m-a-a-f saja kita masih menyontek?

Sebenarnya fenomena ini tidak hanya terjadi dengan ucapan permintaan maaf tetapi juga ucapan selamat, ucapan bela sungkawa dan sebagainya. Acapkali pengguna sosial media cukup menyalin dan menempel postingan yang sudah ada tanpa menuliskan sumbernya. Beberapa di antaranya masih sedikit berbaik hati meluangkan waktu menyuntingnya dengan menambahkan identitas di akhir ungkapan seperti ‘Fadil dan Keluarga’. Sisanya, benar-benar menerima apa adanya hingga terkadang lupa menyunting identitas yang sudah ada di postingan tersebut.

Kasus seperti ini sangat berkaitan dengan salah satu karakter generasi milenial, yaitu menyukai hal yang instan. Untuk apa repot-repot mengetik jika sudah ada postingan yang cukup mewakili isi hati, tinggal salin-tempel-sebar, beres perkara. Namun, apakah benar akan selesai hingga di sini? Bukan bermaksud untuk membesarkan fenomena yang ada, tetapi sebagai seorang pendidik saya perlu menyampaikan efek yang mungkin muncul dari perilaku seperti ini.

Apakah anda setuju dengan perilaku menyontek? Saya kira sebagian besar dari kita tidak setuju dengan perilaku tersebut. Lalu, bagaimana dengan kasus yang saya ungkapkan di atas. Apakah anda setuju? Sebelum menjawab mari kita lihat definisi kata ‘menyontek’. Menurut KBBI, menyontek adalah mengutip (tulisan dan sebagainya) sebagaimana aslinya; menjiplak. Nah, bagaimana? Apakah anda akan mengubah jawaban anda?

Di satu sisi kita amat membenci perilaku menyontek. Namun, tanpa sadar justru kita melihatnya sebagai sesuatu yang wajar dan sepele. Padahal, efek dari perilaku ini sangat luar biasa. Beberapa waktu lalu dunia kepenulisan sempat ramai dengan kasus seorang penulis muda yang menjiplak puluhan cerpen dan novel agar dirinya diakui sebagai seorang penulis. Atau pernahkah mendengar berita seorang rektor yang dipecat atau profesor yang dicabut gelarnya karena menyontek? Terlihat sederhana sekali, cuma menyontek, tetapi akibatnya luar biasa. Lebih jauh lagi, beberapa pihak amat sangat mengaitkan perilaku menyontek dengan perilaku korupsi. Dan saya yakin, tak satu pun yang setuju dengan perilaku itu, sekalipun para pelakunya itu sendiri.

Dalam dunia akademik dan kepenulisan, dikenal istilah plagiarisme sebagai istilah yang terdengar lebih canggih daripada menyontek—padahal maknanya itu-itu juga. Ada aturan atau tata cara yang harus kita ikuti saat ingin mengutip atau mengambil ‘ide’ seseorang, baik itu ide orang lain maupun ide diri kita sendiri yang pernah dipublikasikan sebelumnya. Tidak ada larangan untuk mengutip atau menyalin ide seseorang asal sesuai dengan aturan yang sudah ada, salah satunya dengan mencantumkan referensi atau dari mana dan dari siapa ide itu kita ambil.

Kembali kepada kasus utama kita. Haruskah kita mencantumkan referensi postingan yang kita salin? Kita dapat menjawabnya sendiri. Tulisan ini hanya sebagai pengingat bahwa kebiasaan besar dapat dimulai dari kebiasaan yang kecil, pun dengan menyontek. Jangan sampai kita terbiasa mengakui bahkan dengan bangga menyebarkan karya orang lain sebagai karya kita sendiri. Jangan sampai kebiasaan ini menjadi karakter yang lekat dalam diri kita hingga dengan mudah kita melakukannya.

Wallahu’alam bisshawab.
 
Fadillah Tri Aulia, Penulis adalah adalah Kepala SDIT Al-Furqon Sukajadi Subang

 


Dapatkan kilasan berita lainnya via:
Twitter: @TINTAHIJAUcom
Instagram: @TINTAHIJAUcom
FB: REDAKSI TINTAHIJAU


Banner Kanan 6
Banner Kanan 7
Banner Kanan 1
Banner Kanan 2
Banner Kanan 3
Banner Kanan 4
Banner Kanan 5

Twitter Update

27 Juni 2018, Kabupaten Subang menggelar Pilkada. Catat! Inilah Visi Misi Tiga Pasangan Calon Bupati Subang https://t.co/yZ8mokqvaL
H+1 volume kendaraan di jalur wisata, Subang-Ciater alami peningkatan. Arus lalin di jalur tersebut padat merayap.… https://t.co/yL22Sz8D94
Kecelakaan lalu lintas di Jl Cibarengkok, Binong, Subang. Seorang pengendara motor tanpa identitas dinyatakan menin… https://t.co/QGDIcOhHZB
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page