Gerakan Literasi Sekolah untuk Siapa?

Gerakan Literasi Sekolah sudah menapaki tahun ketiga pelaksanaannya di sekolah-sekolah seluruh jenjang dari jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah. Gegap gempita pelaksanaanya nampak dari sejumlah sekolah rintisan literasi dan ratusan sekolah rujukan nasional yang ditunjuk oleh pemerintah dimana didalamnya tercantum program literasi sebagai salah satu program wajib yang harus dilaksanakan. Yang menggembirakan tentunya adalah munculnya juga sekolah-sekolah yang mandiri melaksanakan program GLS apalagi pada kurikulum 2013 jelas dicantumkan bahwa GLS wajib ada di setiap sekolah yang menggunakan kurikulum ini.

Program GLS yang terdiri dari 3  tahap berkesinambungan dimulai dengan tahap pembiasaan dimana sekolah diarahkan menciptakan lingkungan sekolah yang literat dengan disediakannya sumber-sumber kaya literasi. Selanjutnya program membaca buku non teks pelajaran selama 15 menit diawal jam mata pelajaran pertama didorong sebagai program  wajib yang dimaksudkan untuk mengenalkan siswa akan budaya membaca dengan bimbingan guru.

Tahap berikutnya adalah tahap pengembangan dimana siswa didorong  untuk  menunjukkan keterlibatan  pikiran  dan  emosinya  dengan proses membaca melalui kegiatan produktif secara lisan maupun tulisan. Siswa dikenalkan dengan sejumlah kegiatan-kegiatan literasi berupa tantangan membaca, lomba-lomba literasi berupa lomba cipta puisi, esai atau cerpen. Kegiatan tersebut diamaksudkan sebagai rangsangan bagi siswa untuk memulai menuangkan ide dari hasil kegiatan membaca.

Tahap selanjutnya adalah tahap pembelajaran dimana literasi masuk dalam proses yang sudah terintegrasi dalam seluruh mata plajaran di sekolah. Siswa diharapkan sudah mampu menggunakan kemampuan literasinya dalam proses pembalajaran di kelas. Ciri utama dari tahap pembelajaran ini adalah terampilnya siswa dalam menggunakan aneka sumber belajar dalam mendukung pembelajaran di kelas yang dimaksudkan agar timbul daya nalar tingkat tinggi dari proses pembelajaran yang kaya sumber literasi tersebut.

Proses yang digadang-gadang oleh pemerintah sebagai program unggulan ini tentu membutuhkan komitmen dan peran serta dari seluruh pihak. Bukan hanya siswa yang dijadikan target dan memiliki komitmen dalam pelaksanaanya namun ada baiknya dan seharusnya memang bahwa GLS harus pula dilaksanakan bukan hanya oleh siswa namun lebih utama dan didahului oleh guru. Dalam arti kata target utama dari GLS seharusnya bermula dari guru.

Pengalaman dilapangan, ditemukan fakta bahwa GLS adalah gerakan masif dan masal yang hanya dilaksanakan oleh siswa dan diawasi oleh hanya sejumlah guru. Siswa diwajibkan untuk turut serta dalam program GLS namun sayangnya GLS belum menyentuh guru secara keseluruhan. Masih banyak asumsi yang mengatakan bahwa hanya guru-guru bahasa yang memiliki kewajiban untuk turut andil dalam pelaksanaan sementara guru lainnya nampak tak tersentuh dan berusaha untuk tidak menyentuh area GLS.

Enggannya para guru ditengarai sebagai bagian kebiasaan masa lalu yang belum pada tahap literat. Masih banyak guru yang enggan membaca buku, jurnal, atau sumber literasi lainnya karena sejumalah alasan. Diantara alasan tersebut adalah guru merasa sudah cukup dengan apa yang sudah dimiliki. Pengetahuan dan keterampilan yang sudah didapat dari bangku kuliah hingga sekarang masih dianggap sesuai dengan apa yang siswa butuhkan. Padahal, zaman sudah berganti, pengetahuan makin berkembang dan nampak makin jauh terjangkau oleh pendididkan Idonesia pada umumnya. Negara lain sudah memulai mengajaran “artificial intelegence” atau kecerdasan buatan dan kemampuan analisa kepada siswanya, guru-guru Indonesia masih berkutat dengan materi-materi hapalan yang sebenarnya kurang kebermanfaatannya mengingat materi tersebut sangat mudah di cari lewat internet.

Dari dulu sampai sekarang, baru sekitaran katak dan ikan yag dibedah dalam pembelajaran sains, sementara negara lain sudah mengajarkan siswa untuk tidak hanya membedah namun sudah kemudian merekonstruksi robot katak dan sejenisnya. Nampak bahwa belum banyak hal baru yang bisa ditawarkan guru dalam ruang-ruang kelas mengingat sedikit pula referensi guru dalam pembelajaran.

Seandainya GLS juga mewajibkan seluruh guru untuk terlibat bukan hanya sebagai pembina namun wajib dijadikan sebagai target literasi maka pendidikan Indonesia optimis akan beranjak dari posisi bawah di rangking PISA.

Guru adalah ujung tombak pendidikan, jika ujungnya tajam  karena ketajaman berfikir dan analisa tingkat tinggi yang didapat dari 3 tahap GLS oleh guru-guru Indonesia maka siswa bukan hanya mendapatkan guru yang kompetens dan profesional namun mereka akan menemukan ruang-ruang kelas yang penuh ide, daya kreasi dan terobosan baru dari guru-guru yang literat.

Pemerintah nampaknya harus berupaya sangat keras untuk mendorong para pendidik untuk menjadi guru literat yang sesungguhnya yaitu pendidik yang di gugu karena keluasan berfikirnya, pun yang ditiru sikap dan tingkah lakunya. Kesemua hal tersebut hanya di dapat dari guru-guru yang tak pernah berhenti mendidik dirinya sendiri yang bersumber dari aktivitas membaca.

 
Marni Hartati, Penulis adalah Pegiat Literasi SMAN 1 Subang

______________
Dapatkan kilasan berita lainnya via:

Twitter: @TINTAHIJAUcom
Instagram: @TINTAHIJAUcom
FB: REDAKSI TINTAHIJAU


Banner Kanan 6
Banner Kanan 1
Banner Kanan 2
Banner Kanan 3
Banner Kanan 4
Banner Kanan 5

Twitter Update

Pemuda Majalengka Terlibat dalam Penggarapan Film Wiro Sableng 212 https://t.co/cBfpAbBuf8
Bermula dari Hobby, Rusmana Sukses Bisnis Burung Puyuh https://t.co/RAMHkDa6M1
Isi Ramadan, Polisi Ini Tadarus Bersama Hingga Ajari Warga Mengaji @resmajalengka https://t.co/8SQ3IPbSGP
Follow TINTAHIJAU.COM on Twitter

Facebook Page