Follow us:

[Opini] Membaca Pesan dari Teror Bom Surabaya

 

Bom meledak di Surabaya. Setidaknya ada 11 orang meninggal dunia dan 41 orang luka-luka. Bom-bom itu meledak di gereja, yaitu Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela yang beralamat di Jalan Ngagel Madya Utara, Gereja Pantekosta Pusat Surabaya Jemaat Sawahan di Jalan Arjuno, dan Gereja Kristen Indonesia Diponegoro 146 di Jalan Raya Diponegoro.

Apa pesan yang hendak disampaikan teroris dalam teror ini? 

Pertama, teror ini hendak menjelaskan bahwa kalangan teroris itu masih ada, masih eksis, dan mereka masih bisa melakukan amaliyah terorisme. Kendati banyak teroris yang telah ditangkap, akan tetapi jejaringnya masih eksis dan dapat memberdayakan diri untuk melakukan tindakan-tindakan teror. 

Jika melihat ke belakang, beberapa hari sebelumnya terjadi kerusuhan di Mako Brimob. Sebanyak 5 orang aparat meninggal dunia dan 1 orang napiter. Tak berapa jauh setelah itu, dua orang perempuan bercadar pun berencana untuk menyerang aparat di Mako Brimob dengan gunting. Kemungkinan, jika serangan itu betul akan dilakukan, gunting itu telah ditaburi racun yang kalau kena aparat bisa menjalar dan mengakibatkan kematian. Akan tetapi, syukurnya hal itu tidak terjadi. 

Eksistensi terorisme memang masih ada di negeri ini. Terorisme itu tidak mudah ditumpas, karena saat ini seseorang bisa jadi teroris hanya berbekal pengaruh dari internet, atau dari simpati terhadap teroris. Kemungkinan, eksistensi mereka tidak berstruktur secara baik. Mereka bergerak berdasarkan kesadaran bersama dan tindakan bersama di wilayah masing-masing dimana mereka bisa melakukannya. 

 

Kedua, ada kecenderungan jika terorisme ini dilakukan oleh kalangan kanan--mengutip Sinaga, Ramelan, dan Montratama (2018) dalam buku mereka "Terorisme Kanan Indonesia", maka mereka mulai menjadikan perempuan dan anak-anak sebagai "pengantin". Setidaknya, hal itu pernah dilakukan oleh Novi yang hendak meledakkan diri lewat bom panci di depan Istana Negara, akan tetapi gagal. Belakangan ini, modus menggunakan perempuan dan anak-anak menjadi pilihan mereka. 

Kemungkinan, jika perempuan dan anak-anak digunakan, maka sudah pasti telah ada fatwa sebelumnya dari pimpinan mereka bahwa "semua pihak dapat melakukan perjuangan" yang tak terkecuali laki-laki, perempuan, dan anak-anak. Ini tentu saja berbahaya bagi kebangsaan kita ke depan karena entitas perempuan dan anak merupakan masa depan bangsa kita. Jika mereka telah terkontaminasi dengan virus itu maka akan tumbuh saling curiga kepada perempuan dan anak-anak (padahal dulunya perempuan dan anak-anak tidak dianggap berbahaya dalam segi terorisme). 

Sebelumnya, di Timur Tengah memang sudah ada aksi pro-ISIS yang melakukan itu. Seorang perempuan bercadar dengan anak-anak sedang jalan, dan tidak lama kemudian terjadi ledakan. Bisa jadi, teroris Indonesia menggunakan cara itu sebagai salah satu taktik mereka. 

Maka, jika itu mereka lakukan sebagai salah satu strategi mereka, bisa jadi terorisme di Surabaya ini dilakukan oleh pro-ISIS. Ini baru dugaan saja. Tentu saja kita harus menunggu hasil penyelidikan yang lebih komprehensif dari kepolisian. 

Ketiga, teror ini hendak menempatkan umat Islam sebagai tertuduh. Islam di Indonesia adalah Islam yang damai dan anti-teror. Akan tetapi kasus ini menjadikan wajah Islam Indonesia menjadi tercoreng. Susah payah gerakan Islam Nusantara, atau Islam Berkemajuan, dan sebagainya dilakukan, akan tetapi terorisme menghancurkan itu dengan beberapa bom saja. Itu tentu saja merugikan kampanye Islam damai, atau Islam Indonesia sebagai salah satu solusi keberislaman di era kontemporer. 

Akhirul kata, terorisme yang terjadi di Surabaya ini patut menjadi perhatian kita semua. Bahwa terorisme itu sel-nya belum habis. Masih bisa muncul kembali dalam berbagai bentuknya. Tentu kita tidak boleh saling curiga, akan tetapi menjaga kebersamaan sesama anak bangsa adalah penting. Jika terorisme, maka negara harus menunjukkan kekuasaannya untuk menuntaskan itu dan kita sebagai warga juga pro-aktif dalam berkampanye damai untuk Indonesia. *

Yanuardi Syukur, Penulis adalah Peneliti Pusat Kajian Antropologi FISIP UI, Depok

 

 

Dapatkan kilasan berita lainnya via:

Twitter: @TINTAHIJAUcom

Instagram: @TINTAHIJAUcom

FB: REDAKSI TINTAHIJAU


Twitter Update

Gebyar Senam Sehat & Hoki 2018, HUT Ke-52 RADIO BENPAS SUBANG , Kamis (26 Juli 2018) https://t.co/wyCUhEacnM
Satu dari banyak destinasi wisata alam di Majalengka, adalah Buper Cidewata di Sadarehe Desa Payung Kecamatan Rajag… https://t.co/BLArhFDK9y
[Opini] Kepala Daerah Baru Jangan Korup https://t.co/c4WdRbLktE
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page