Deforestasi in Indonesia, Let’s Change Our Mindset and Start to Keep The Earth

Deforestasi dapat diartikan sebagai penebangan atau penggundulan hutan agar lahannya dapat dialihfungsikan untuk kepentingan pertanian, peternakan, perkebunan, atau kawasan lain yang bersifat non-hutan. Secara umum, deforestasi dianggap sebagai hal yang negatif karena identik dengan kegiatan  merusak, menghancurkan, dan meluluhlantakan hutan serta kehidupan di dalamnya. Setiap tahun, terjadi deforestasi pada ribuan bahkan ratusan ribu hektar hutan di Indonesia. Angka tersebut tentunya sangat besar, mengingat  sulitnya terbentuk hutan alami lagi dalam kurun waktu yang singkat.

Bahaya deforestasi sudah tidak bisa dipandang sebelah mata karena dampaknya yang berpengaruh pada setiap aspek kehidupan. Beberapa alasan mengapa deforestasi harus ditekan adalah pentingnya hutan sebagai penyeimbang iklim, kondisi masyarakat sekitar yang tergantung pada hutan, serta kelestarian keanekaragaman hayati di Indonesia. Sepertinya tiga hal tersebut cukup untuk menjelaskan bahwa penggundulan hutan adalah sesuatu yang harus ditanggapi dengan serius. Kesadaran ini tentunya harus dimiliki oleh semua kalangan, agar kita mempunyai pandangan yang sama, yaitu sebisa mungkin melindungi area hutan yang tersisa.

Hutan disebut sebagai paru-paru dunia karena salah satu fungsinya yaitu menghasilkan oksigen dari hasil fotosintesis. Oksigen itulah yang digunakan manusia untuk bernapas sehingga proses oksidasi di dalam tubuh berjalan dengan baik. Hutan juga merupakan penyeimbang iklim bumi yang mulai tidak stabil. Sederhananya, gas CO2 yang ada di lapisan atmosfer dapat menghalangi panas matahari keluar dari bumi. Kemudian, panas tersebut akan kembali ke bumi dan membuat suhu bumi semakin meningkat, inilah yang sering kita sebut dengan pemanasan global.     

Jika terus dibiarkan, kutub utara dan selatan lambat laun akan mencair dan mempengaruhi iklim secara menyeluruh. Tapi ternyata, hutan kitalah yang menyerap karbondioksida berlebih sehingga iklim bumi akan kembali terjaga. Hutan kitalah yang menyelamatkan bumi dari efek rumah kaca yang menakutkan itu. Lantas apa akibatnya apabila deforestasi tidak dihentikan? Apa akibatnya jika manusia belum juga sadar bahwa situasi hutan di Indonesia sudah sangat genting? Tentu kita tidak bisa berdiam diri dan terus berpangku tangan seolah-olah tidak terjadi apapun.

Hutan juga merupakan tempat masyarakat sekitar menggantungkan hidupnya. Mereka mencari binatang buruan dan berbagai tanaman obat untuk keperluan sehari-hari. Ada pula yang mencari madu untuk dijual demi mendapatkan sepeser rupiah. Hutan juga menjadi pemenuh kebutuhan air bersih bagi mereka. Walaupun begitu, masyarakat tidak melakukan eksploitasi yang sifatnya merusak, karena mereka menyadari kehidupan mereka berbatasan langsung dengan hutan. Kelompok masyarakat yang berada di sekitar hutan biasanya memiliki adat dan hukum tersendiri untuk menjaga hutan serta sanksi apa yang diberikan kepada para pelanggarnya. Adat tersebut berlangsung secara turun temurun yang artinya dari zaman dulu pun mereka sudah menyadari pentingnya melestarikan hutan. Lalu, kemana lagi masyarakat itu mencari penghidupan apabila hutan mereka dibabat habis oleh perusahaan-perusahaan industri perkebunan, peternakan, dan perusahaan lain yang membuat mereka terganggu ? Sudah menjadi kewajiban pemerintah dalam menjamin kesejahteraan rakyatnya. Tetapi, peran ini juga dibebankan kepada perusahaan yang bersangkutan. Maksudnya, jangan sampai industri tersebut menjadi penghambat bagi orang-orang yang berada di pihak lain. Jangan sampai ego dan ambisi pribadi membuat masyarakat kecil merasa semakin kecil.

Fungsi hutan yang ketiga adalah sebagai habitat beranekaragam makhluk hidup, dari mulai tumbuhan kecil seperti lumut, sampai pohon ulin yang tingginya bisa mencapai puluhan meter, juga dari mulai plasma nutfah yang mikroskopis, sampai gajah sumatra yang beratnya berada dalam kisaran enam ton. Semua hidup berdampingan dan berhubungan satu sama lain pada ekosistem yang sama, yakni hutan. Oleh sebab itu, membabat habis hutan berarti mengusir ribuan hewan dari rumahnya dan membuat mereka terancam kematian.

Indonesia pernah menjadi salah satu penyumbang terbesar keanekaragaman hayati untuk bumi, yaitu sekitar 17% dari keseluruhan jenis makhluk hidup yang ada. Di satu sisi, kita boleh bangga dengan kekayaan tersebut. Namun di sisi lain, kita pun bertanggungjawab atas punahnya satu spesies yang pernah hidup di tanah kita. Artinya, jangan sampai hanya pemerintah yang berkoar-koar tentang pentingnya menjaga alam, karena kesadaran itu timbul dari diri kita sendiri. Masyarakat harus bahu membahu menjaga kelestarian setiap jengkal tanah di atas bumi pertiwi, Indonesia. Bukannya malah berlomba-lomba memenuhi rekening bank dengan melakukan illegal loging, perdagangan satwa liar, atau pembakaran habis hutan untuk kawasan lain tanpa mempertimbangkan konsep pembangunan yang berkelanjutan.

Menurut situs hijauku.com, “Sebanyak 24% spesies mamalia dan 29% spesies burung akan punah di hutan-hutan di dataran rendah Asia Tenggara (Sundaland) dalam beberapa dekade mendatang jika deforestasi terus terjadi seperti saat ini.”. Angka tersebut berdasarkan laporan IPBES dan menunjukkan kekhawatiran terhadap biodiversitas yang ada. Hal itu sejalan dengan kenyataan bahwa keanekaragaman di Indonesia  sedang menjadi sorotan publik karena jumlahnya yang kian menurun dari tahun ke tahun.

Semua bahaya deforestasi tersebut dapat diminimalisir dengan adanya tindakan yang dilakukan bersama-sama oleh masyarakat dan pemerintah. Tindakan tersebut dapat terlaksana apabila telah ada kesadaran penuh sehingga kita tidak memandang deforestasi sebagai hal yang sepele. Mari mulai dengan hal-hal kecil, seperti mengingatkan orang terdekat untuk tidak melakukan penggundulan hutan, menyampaikan pentingnya hutan bagi keberlangsungan umat manusia di bumi, menyarankan agar melakukan sistem tebang pilih dan tebang tanam, serta hal-hal sederhana lain yang mudah untuk dilakukan. Semoga dengan semua kejadian seperti kebakaran atau dibakarnya hutan beberapa tahun silam yang menyebabkan berbagai bencana dapat membuat semua pihak menjadi semakin peduli kepada alam di bumi milik kita  ini. Pun agar Indonesia yang hijau tidak hanya menjadi legenda bagi generasi di masa yang akan datang.

 
Rosilia Zahrotunisa, penulis masih duduk Kelas X MIPA 8 SMA Negeri 1 Majalengka.

Dapatkan kilasan berita lainnya via:
Twitter: @TINTAHIJAUcom
Instagram: @TINTAHIJAUcom
FB: REDAKSI TINTAHIJAU


Twitter Update

KPU Tetapkan Nomor Urut Capres-Cawapres 2019: 1. Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin 2. Prabowo Subianto-Sandiaga Uno Saa… https://t.co/tweWko7VuD
Sinergitas TNI, POLRI dan FORKOPIMDA Kab Subang dlm rangka HUT Lalulintas ke-63 dan HUT PMI Ke-73, Fun Bike dan Lou… https://t.co/kymuwCnp68
Kejar Terget KTP-e, Disdukcapil Subang Butuh Suntikan Dana https://t.co/guaXJYrSye
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page