Ustadz Zaman Now: Dakwah Islam Segala Zaman

Ustadz “Medsos”, Kiai “Dumay, Ajengan “Digital”. Nampaknya hari ini kita familier dengan istilah istilah tersebut. Semenjak teknologi internet hadir secara massal dan komersial dalam kehidupan manusia, berimplikasi terhadap berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk agama.

Christopher Helland (2005), seorang Sosiolog dari Universitas Canada memunculkan istilah “Online Religion dan Religion Online” untuk menampilkan representasi kaum agamawan di dunia virtual. “Religion Online” merujuk pada upaya manusia untuk mencari pengetahuan agama lewat internet, sementara “Online Religion” dimaksudkan sebagai upaya pencarian pengalaman dan pengamalan agama di dunia maya. Keduanya, adalah wajah agama (termasuk Islam) yang ditampilkan secara populer lewat internet.

Wujud artifisial teknologi Komunikasi informasi salah satunya adalah perkembangan media sosial. YouTube, Facebook, Twitter, Instagram, dll adalah sarana-sarana baru yang dapat dilakukan dengan beragam maksud oleh para “users”. Dalam Islam, dakwah menjadi substansi ajaran agama yang mesti dilakukan oleh setiap muslim, maka perkembangan “Islam Populer” hari ini yang dihadapkan pada kecanggihan media komunikasi informasi menjadikan media sosial sebagai sarana dakwah yang baru, yang dipandang lebih masif, strategis, dan efektif.

Namun, tak jarang pula dakwah digital berakhir dengan implikasi yang kurang sesuai bila merujuk pada doktrin agama Islam. Misalnya, munculnya terminologi “Komodifikasi agama, komersialisasi dakwah, kapitalisasi pasar haji dan umroh, atau fatwa online”. Kesemuanya dapat kita kategorikan sebagai implikasi logis dari digunakannya media sosial secara komersial untuk kepentingan agama. Bahkan tak jarang berujung dengan “Banalisasi Agama”.
Tulisan ini dimaksudkan untuk menggambarkan kesesuaian dakwah Islam hari ini yang dihadapkan dengan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi. Fenomena munculnya ustadz-ustadz media social memberikan angina segar dalam perkembangan dakwah Islam, sekaligus memunculkan kajian baru yang mesti dikaji secara seksama. Sebab, bagaimanapun, fenomena ustadz media social turut merepresentasikan wajah Islam di era digital.

Islam dan Gelombang Perubahan 3.0
Era digital ditandai dengan mulai masuknya teknologi komunikasi internet dalam kehidupan manusia. Era ini dianggap sebagai kontinuitas gelombang globalisasi dari sisi teknologis yang berimplikasi terhadap ragam kehidupan manusia secara social-ekonomi-budaya. Dalam konteks sosial misalnya, internet dipandang telah merubah struktur interaksi manusia, dimana komunikasi sosial dapat mudah terjalin melalui media sosial yang tidak lagi memerlukan kontak fisik secara langsung. Dalam bidang ekonomi, kemunculan “online shop” menandai era e-commerce yang merubah paradigm transaksional manusia dalam melakukan jual beli. Sementara dalam bidang budaya, teknologi digital memudahkan akses budaya dari berbagai belahan dunia bisa silang dan saling masuk, bercampur, atau bahkan melunturkan nilai-nilai budaya asli secara esensi dan eksistensi.

Gelombang globalisasi sebagai cikal bakal “dunia tanpa sekat”, “kampung global”, atau “desa besar”, berlangsung dalam beberapa tahapan yang setiap dekadenya memberikan peluang besar bagi kehidupan manusia. Misalnya, penggambaran tahapan globalisasi yang disampaikan oleh Thomas L.Friedman (2005) bahwa gelombang globalisasi berlangsung dalam tiga tahapan. Pertama, gelombang 1.0 yang berlangsung dari kurun waktu 1400-1800. Pada gelombang ini, negara menjadi pengendali dalam globalisasi yang terjadi.

Kemunculan negara-negara imperialis yang membentuk koloni-koloni tertentu menandai gelombang ini dimulai. Kedua, gelombang 2.0 yang berlangsung dari 1800-2000 adalah gelombang globalisasi yang ditandai dengan kemunculan perusahaan-perusahaan multinational sebagai pengendali dunia tanpa sekat di era ini. Dalam konteks sejarah Indonesia misalnya, perusahan VOC pada masanya mendominasi perekonomian Indonesia dalam bisnis rempah-rempah internasional. Dan ketiga, gelombang 3.0 yang berlangsung sejak 2000-sekarang. Gelombang ini megandaikan kemampuan individual yang tidak terbatas dalam membaca peluang dan tantangan era ini. Pada gelombang inipula, globalisasi semakin massif disebabkan kemunculan teknologi semacam internet.

Gelombang perubahan dunia ini berpengaruh terhadap kehidupan umat manusia secara keseluruhan. Globalisasi yang terjadi tidak pernah membeda-bedakan ras, etnis, agama, struktur sosial, negara dan bangsa. Globalisasi informasi dan teknologi di fase 3.0 masuk dan terdifusikan bagi semua kalangan. Internet menjadi media massa baru yang dapat dengan mudah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Fenomena ini misalnya dapat kita temukan dalam kehidupan keseharian. Penggunaan aplikasi media sosial seperti facebook dan Instagram di masyarakat, termasuk di kawasan pedesaan di Indonesia menjadi tanda bagaimana dengan mudahnya internet hadir sebagai bagian dari masyarakat.

Penelitian yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2016 menemukan bahwa dari 256,2 juta penduduk Indonesia, penetrasi sebaran internet sampai pada angka 132,7 juta penduduk. Ini artinya hampir 60 persen penduduk Indonesia sudah mengenal atau bahkan akrab dengan internet. Dari 132,7 juta, 22 juta tau sekitar 16 persennya pengguna internet adalah kalangan ibu rumah tangga. Dengan begitu kita bisa menilai bahwa internet sudah menjadi bagian integral bagi sebagian besar kalangan ibu-ibu rumah tangga. Selain itu, dari sisi perilaku pengguna internet Indonesia, sebesar 129,2 juta atau sekitar 97, 4 persen digunakan untuk mengakses media sosial.
 
Dari data APJII di atas, kita bisa menegaskan bahwa gelombang perubahan 3.0 pada era teknologi komunikasi dan informasi sangat akrab dengan penggunaan internet sebagai media keseharian masyarakat Indonesia. Apalagi, kalau kita membaca jumlah penduduk menurut agama di Indonesia menurut Sensus Penduduk BPS tahun 2015 didapatkan bahwa hampir 207 juta penduduk Indonesia beragama Islam. Dengan begitu, penetrasi penggunaan internet di Indonesia sebagian besar diakses oleh penduduk Indonesia yang beragam Islam. Masyarakat muslim Indonesia menjadi bagian masyarakat yang terdampak langsung dari perkembangan dunia digital.

Maka tidak aneh rasanya, kalua di era gelombang 3.0 ini dari sisi perkembangan dakwah Islam banyak mubaligh, da’i, kiai, ustadz, ajengan, atau penceramah yang akrab dengan teknologi internet. Fenomena dakwah medsos berkembang dengan pesat, dimana banyak penceramah yang piawai menggunakan teknologi layar melalui jaringan internet untuk menyampaikan gagasan atau ajaran agama Islam. Hari ini, ajaran-ajaran Islam dapat ditampilkan dengan cepat, mudah, daya jangkau luas, efektif, massif, dan strategis melalui pemanfaatan internet sebagai sarana dakwah global.

Namun yang mesti dijawab adalah : apakah wajah Islam dan dimensi keberagamaan seorang muslim pada era gelombang 3.0 ini tetap menampilkan nilai-nilai Islam secara substantif atau malah bersandar pada logika budaya massa (popular) yang hanya menampilkan kemudahan akses, eksistensi, dan berorientasi pasar? Peluang dan tantangan inilah yang harus dijawab oleh muslim gelombang 3.0 dalam pemanfaatan media massa semacam internet. Apakah bernilai positif atau justru negatif bagi pendalaman dan pengamalan ajaran Islam pada ruang-ruang kehidupan manusia secara nyata? Apakah senantiasa memegang nilai-nilaiagama secara esensial atau justru terjebak pada ruang-ruang eksistensial?.

Internet dan Dakwah Islam Segala Zaman
Kemunculan internet sebagai new media memberikan pengaruh signifikan dalam kehidupan manusia. Pada awalnya, internet merupakan sebuah jaringan computer yang dibentuk oleh Departemen Pertahanan AS pada 1969 untuk keperluan militer. Pada tahun tersebut, internet dikenal dengan sebutan ARPANET yang menghubungkan empat jaringan computer di Standford Research Institute, University of California, Santa Barbara dan University of Utah. Tahun 1972 ARPANET mulai dikenalkan kepada public. Pada perkembangannya ARPANET terbagi dua yakni MILNET yang dimaksudkan untuk keperluan militer dan ARPANET kecil yang digunakan untuk keperluan non militer seperti untuk kepentingan universitas. Gabungan dari keduanya disebut dengan DARPA INTERNET, yang dikemudian disederhanakan menjadi INTERNET (sumber: Wikipedia).

Setelah internet digunakan untuk kepentingan public secara massal dan komersial, perlahan mulailah merubah struktur interaksi manusia. Semenjak internet akrab dengan keseharian manusia, maka semakin bermunculan gagasan-gagasan baru yang melibatkan internet sebagai media massa. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan internet dalam kehidupan manusia baik dalam bidang sosial, ekonomi, politik, budaya bahkan agama.

Dalam konteks agama, kecanggihan teknologi internet dapat digunakan sebagai sarana dalam penyebaran pengetahuan dan representasi wajah agama di dunia maya. Internet dari satu sisi memudahkan para penggunanya yang haus akan ajaran agama untuk mencari pengetahuan agama dengan mudah dan tidak terbatas. Sistem jaringan internet yang didukung dengan kemunculan mesin pencarian data seperti google, yahoo, lycos, dan lain-lain semakin memudahkan para penganut agama dalam mencari ajaran-ajaran agama tertentu. Sehingga, banyak kaum agamawan yang berusaha mendalami ajaran, menghayati pengalaman dan pengamalan agama melalui dunia virtual. Pada sisi lain, internet dapat digunakan sebagai sarana penyebaran agama yang secara akses dan daya jangkau melebihi media konvensional. Dalam hal ini, ajaran agama disebarkan tidak hanya di masjid-mesjid, gereja, vihara, atau tempat ibadah lainnya, melainkan juga dapat disebar dengan menggunakan teknologi komunikasi secara online.

Dalam ajaran Islam, prosesi atau upaya penyebaran agama termasuk kedalam aspek penting yang dipandang menjadi kunci membangun peradaban. Upaya transmisi dan transformasi nilai agama dalam kehidupan umat Islam dikenal dengan sebutan dakwah. Dakwah secara garis besar sebagaimana yang tersurat dalam surah Ali Imron ayat 104 merupakan tugas teologis sekaligus sosiologis bagi umat Islam dalam menyeru pada kebaikan dan mencegah dari kemunkaran. Pada praktiknya, dakwah dapat dilakukan secara fleksibel, dengan menggunakan media-media tertentu yang dipandang tepat untuk transmisi nilai-nilai ajaran Islam.

Penggunaan media dakwah konvensional seperti mimbar, di majelis taklim, di madrasah, dan lain-lain serta media kontemporer seperti dakwah televisi, dakwah di radio, dakwah melalui seni dan budaya (film, sinetron, talkshow, dan lain-lain) adalah wujud dakwah Islam mesti berlaku di segala zaman. Kesesuaian Islam sebagai agama yang berlaku dan dijaga di setiap zamannya sesuai dengan firman Allah Swt dalah surah Al-Hijr ayat 9 bahwa Allah menjaga kemurnian ajaran Islam dalam kitab al’quran di segala zaman. Serta firman Allah Swt dalam surah Al-anbiya ayat 102 yang menegaskan bahwa ajaran Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad Saw adalah ajaran yang berlaku bagi semesta alam dalam segala sendi kehidupan manusia. Dalam hal ini, termasuk penggunaan internet sebagai media komunikasi yang baru dalam berdakwah.

Fenomena kemunculan “Ustadz Zaman Now” yang banyak menggunakan media internet dengan beragam fitur dan aplikasi yang ada didalamnya menjadi salah satu wujud sederhana kesesuaian dakwah Islam di segala zaman. Penggunaan channel youtube, akun facebook, twitter dan lain sebagainya sebagai sarana berdakwah bagi da’i-da’i tertentu merupakan sarana sebaran ajaran Islam yang dapat ditampilkan tidak secara kaku dan formal. Bahkan, pengaruhnya dapat lebih luas dari penggunaan media dakwah konvensional. Hal ini tidak berarti bahwa media konvensional lebih jelek disbanding media internet, namun pernyataan tersebut dapat dimaknai sebagai upaya dakwah Islam yang dapat dilakukan pada gelombang 3.0, era globalisasi, era kecepatan dan ketepatan, era serba mudah dan serba ada, era digital.

Kemunculan Ustadz di Media Sosial, seperti Ustadz Khalid Basalamah, Ustadz Hanan Attaki, Ustadz Abdul Shomad, dan KH Mustofa Bisri adalah da’i-da’i popular yang akrab dengan media sosial dan menggunakannya sebagai sarana dakwah. Artikel Ahmad Zaenudin (Desember 2017) yang mengulas tentang “Da’i Populer di Media Sosial” dalam situs Tirto.id menampilkan kemunculan ustadz-ustadz media sosial yang memilki “followers” yang banyak di beragam media sosial. Misalnya, Ustadz Abdul Shomad memiliki pengikut twitter sebesar 23,8 ribu, pengikut FB 274 ribu dan channel youtube sebesar 351 ribu pengikut dan 40,5 juta jumlah tayang. Ustadz Abdul Shomad dengan jumlag 774 ribu pengikut akun Facebook dan 38,7 juta jumlah tayang video youtube.

Di kalangan anak mudanya, ada Ustadz Hanan Attaki yang memilki 1158 pengikut akun twitter, 8 ribu likes facebook dan 11,8 juta jumlah tayang video youtube. Serta di kalangan kiai seniornya ada KH. Mustofa Bisri yang akrab dipanggil GusMus dengan 1, 66 juta pengikut akun twitter, 274 ribu pengikut Facebook dan 235 ribu jumlah tayang video youtube.

Kalau menilik dari data pengikut akun media sosial para da’i di atas, maka dapat dikatan sebagai potensi dakwah Islam yang memiliki pengaruh yang luas dalam kehidupan keberagamaan kaum muslim di Indonesia. Munculnya istilah “Jamaah Facebook-iyah, Jamaah Twitter-iyah, Jamaah Youtube-iyah” dapat dipandang sebagai kehausan kaum agamawan dalam mencari, mendalami, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam melalui media baru semacam internet. Boleh jadi, fenomena di atas adalah wujud dari “Online Religion dan Religion Online” sebagaimana yang disampaikan Christopher Helland.

Namun, di luar dari itu, kita mesti bersyukur bahwa masih ada “Ustadz Zaman Now” yang melek dan sigap menggunakan media internet untuk dakwah. Ustadz populer semacam “Ustadz Hanan Attaqi, Ustadz Abdul Somad, Ustadz Khalid Basalamah, Ustadz Evie Effendi, Ustadz Adi Hidayat, Kiai Mushtofa Bisri” adalah bukti bahwa Islam selalu open minded terhadap perkembangan zaman. Beliau-beliau adalah wujud dakwah Islam “Segala Zaman”.
Wallahu Alam

Ridwan Rustandi, Direktur Lembaga Madani Intellectual Movement (MIM)


yang punya socmed silakan follow:
twitter: @TINTAHIJAUcom
FB: REDAKSI TINTAHIJAU


Banner Kanan 1

Twitter Update

Dellie Threesyadinda, Pemanah Cantik yang Bawa Harum Nama Indonesia https://t.co/Sw2o0r8ywT
Deklarasi Damai, Paslon Siap Menang dan Kalah di Pilkada Majalengka https://t.co/49gzmotNm4
Janji Akan Di-Perda-kan, Cabup Taufan Larang Minta Bantuan untuk Bangun Masjid di Jalanan https://t.co/tlZ0IW43ui
Follow TINTAHIJAU.COM on Twitter

Facebook Page