Saat Inovasi Menjadi Kunci Eksistensi

Polemik tentang kehadiran transportasi online di kota – kota besar seperti Bandung dan Jakarta nampaknya tidak akan dapat diselesaikan dalam waktu dekat. Sebaliknya, perebutan “lahan” antara pengemudi angkutan konvensional versus pemilik angkutan online tersebut dikhawatirkan akan merambah ke daerah – daerah lainnya di Indonesia. 

Adapun ketiadaan aturan yang dapat menguntungkan kedua belah pihak disinyalir sebagai penyebab utama berlarut – larutnya konflik horizontal tersebut. Gesekan yang mengarah pada tindakan  anarkis pun semakin tak terhindarkan manakala para pengambil kebijakan (di tingkat pusat mapun daerah) belum juga menemukan formulasi yang tepat untuk menyelesaikan kegaduhan yang terjadi di jalanan itu.

Di tempat berbeda, ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal membayangi puluhan ribu karyawan yang selama ini bertugas melayani pembayaran di gardu-gardu jalan tol yang tersebar di seluruh pelosok tanah air. Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) yang dicanangkan oleh pemerintah sejak tahun 2014 lalu menargetkan, pada bulan oktober ini seluruh gardu tol hanya menerima pembayaran non tunai. Artinya, para karyawan yang saat ini bekerja di gardu tol akan digantikan oleh mesin. Kekhawatiran akan bertambahnya jumlah pengangguran (terdidik) pun disampaikan oleh Presiden Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia (ASPEK Indonesia) dalam konferensi pers di Jakarta beberapa waktu lalu.

Kedua “tragedi” di atas tentunya memberikan kita pelajaran berharga dalam upaya melahirkan generasi unggul yang benar – benar siap untuk menghadapi berbagai tantangan di masa yang akan datang. Perlu disadari bahwa perkembangan ilmu pengetahun dan teknologi akan selalu diiringi dengan perubahan tatanan dalam kehidupan masyarakat. Dalam konteks ini, hadirnya angkutan umum online sejatinya didasari oleh kebutuhan masyarakat akan moda transportasi yang menawarkan kenyamanan dengan harga yang relatif terjangkau. Dengan kata lain, inovasi menjadi sebuah keniscayaan dalam upaya mempertahankan eksistensi. Siapa pun yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat, dialah yang akan mampu bertahan.

Kenyataan tersebut pada akhirnya mendatangkan konsekuensi yang tidak sederhana, uatamanya bagi dunia pendidikan. Mencetak generasi yang kaya akan inovasi hendaknya menjadi orientasi dari setiap pembelajaran yang diselenggarakan oleh lembaga – lembaga pendidikan di setiap jenjang. Anak bukan saatnya lagi (hanya) dididik untuk mampu menjawab soal – soal di atas kertas, namun juga mampu menjawab kebutuhan masyarakat di masa yang akan datang.  Dalam hal ini melatih anak untuk senantiasa berpikir kreatif dan inovatif untuk memecahkan setiap permasalahan akan membantu mereka dalam menjalani kehidupan di masa depan yang penuh dengan berbagai tantangan.

Adapun lahirnya generasi kreatif dan inovatif tersebut tidak akan terwujud tanpa adanya dukungan penuh dari pemerintah. Hadirnya kurikulum yang benar – benar mampu menumbuhkan kreativitas setiap anak sangat diperlukan dalam proses pembelajaran. Selain itu dukungan sarana pembelajaran pun akan sangat menentukan tercapainya tujuan pembelajaran sebagaimana yang diharapkan.

Ramdan Hamdani, Praktisi Pendidikan dan Pemerhati Sosial



Dapatkan lintasan berita Subang via:
Follow Twitter: @tintahijaucom
Like Faceboook: Redaksi Tintahijau


Banner Kanan 1

Twitter Update

Novi Sri Mahendra, Guru Cantik dari Patokbeusi Subang https://t.co/DHusTaJ4Xq
GreenThink, Wahana Wisata Edukasi di Pantura Subang https://t.co/YRMlZxidHg
Tempat Uji Kompetensi Fakultas Pertanian UNMA Direspon Penyuluh PNS Pertanian Cirebon https://t.co/FLRskdq6bx
Follow TINTAHIJAU.COM on Twitter

Facebook Page