[Opini] Ospek, Dibenahi atau Tinggalkan?

Di tengah haru biru setelah dinyatakan lulus di universitas impian, ada bayangan yang selalu menguntit ke mana pun pergi. Itulah ospek. Memang bukan hal baru lagi, melainkan budaya yang terus dilestarikan oleh pendidikan negeri ini. Terlepas dari kebermanfaatan dari acara itu. Banyak pihak menyayangkan ospek masih dijalankan, khususnya para orang tua.

Mendengar berbagai perpeloncoan saat ospek berlangsung, mungkin bukan hal asing lagi bagi kita. Di mana senioritas menggurita, membuat para junior terkencing-kencing di celana. Apalagi dengan segudang tugas yang tidak mendidik, bahkan terdengar tidak masuk akal dan aneh.

Dengan dalih pengenalan kampus, ajang ospek selalu mendapat pembenaran. Sebenarnya seperti apa pengenalan itu? Menyuruh junior memakai atribut serba memalukan, disuruh ini itu, begitu? Malah ada dua pasal yang selalu didendangkan oleh para senior, yaitu pasal satu senior adalah yang berkuasa, pasal kedua kembali ke pasal pertama.

Katanya ospek bertujan selain pengenalan kampus adalah membuat mental semua mahasiswa baru menjadi tahan banting selama kurang lebih empat hari. Padahal kekuatan mental itu tumbuh seiring berjalannya kehidupan, dan tidak bisa didapat dari kurun waktu singkat. Tetapi jika membuat orang lain depresi, mungkin itu bisa.

Lucunya walau sudah banyak korban berjatuhan, ospek terus dijalankan. Namun, kini ada beberapa universitas yang patut diacungi jempol dengan merubah tatanan ospek menjadi lebih mendidik dalam artian baik. Tidak ada lagi senioritas, apalagi perpeloncoan yang dapat menyebabkan seseorang gagal mental.

Hal kebaikan seharusnya patut ditiru oleh universitas lain, menjadi acuan untuk berubah ke jalan yang lurus. Agar mahasiswa baru merasa betah di lingkungan kampus, sedari awal hingga akhir masa perkuliahan. Mana mungkin kita bisa belajar dengan baik dan benar jika dalam keadaan tertekan?

Tetapi ya begitu, itikad baik tidak selalu dipandang baik, begitu pun menyoal keburukan. Yang ada kita malah adu lidah, bukan sama-sama berpikir untuk mencari jalan keluar mana yang terbaik.

Pendidikan seharusnya ditanamkan dengan benih-benih cinta dan kasih sayang, bukan dari teriakan atau marah-marah. Setiap orang punya hati yang tidak dapat ditebak, bisa jadi di balik senyumnya ada hati yang menganga karena luka. Jangan sampai ospek dijadikan ajang balas dendam—yang justru salah sasaran, hingga menambah korban baru setiap tahunnya.

Ospek boleh terus ada, namun dengan teknik yang lebih baik lagi. Percayalah dengan perubahan itu tidak akan membuat mahasiswa baru menjadi tinggi hati, acuh terhadap kakak tingkat, dan lain hal. Bukankah setiap kebaikan dibalas dengan kebaikan? Walau ganjaran tersebut tidak pasti diberikan oleh perantara siapa, tapi dengan menebar kebaikan paling tidak kita telah menjadi manusia yang bermanfaat.

Tujuan utuma kuliah itu menuntut ilmu, bukan menuntut orang lain untuk mengikuti kemauan kita. Setiap orang punya hak yang sama, jadi jangan jadikan dalih kakak tingkat sebagai pembenaran. Esok lusa kita tidak pernah tahu kehidupan seseorang, bisa jadi orang yang kita sakiti adalah orang pertama yang membela kita maupun menghancurkan kita. Dulu ia diam dan diam bukan berarti ia tidak bertindak sedikit pun di belakang.

Semoga sistem pendidikan di negeri ini menjadi lebih baik dari tahun ke tahunnya. Pun meninggalkan budaya buruk yang seolah menjajah generasi bangsa sendiri. Mulailah berbanah pribadi, yang lain menyusul nantinya. Hidup pendidikan Indonesia!

Juliana Fadhilah, Mahasiswa asal Kalijati yang kuliah di UPI Bandung

foto: ilustrasi (net)



_______
Dapatkan lintasan berita Subang via:
Follow Twitter: @tintahijaucom
Like Faceboook: Redaksi Tintahijau


Twitter Update

Cabuli Bocah Ingusan, Warga Palasah Majalengka ini Numpang di Rumah Teman https://t.co/3ciankwfWx
Pipin Chikal, Bidan Subang dengan Segudang Prestasi di Sirkuit https://t.co/GlLZhrdxXb
Jejak Seni Gembyung di Tengah Gempuran Musik Modern https://t.co/W41rm8gCiH
Follow TINTAHIJAU.COM on Twitter

Facebook Page