Pilkada Subang, Playing Power vs Playing Strategi

Memasuki tahun 2017, beberapa pengamat politik subang berargumen bahwa koalisi untuk pilkada subang 2018 tidak penting bagi parpol dilakukan cepat-cepat. Saya justru berkebalikan dengan pendapat itu, jika memang sebuah partai ingin berperan serta,bukan sekedar turut serta pada pilkada 2018,terlebih memasang target. Pengalaman pilpres 2009 menjadi dasar analisa saya, bahwa kegagalan PDIP dan G0lkar salah satunya karena kelambatan berkoalisi, berlama-lama menyamarkan fokus perhatian
pemilih beserta kurangnya penguatan nama calon dikalangan akar rumput mesin.

BACA: Mencari Figur Ideal di Pilkada Jabar


Di Subang sendiri, Kecepatan dan kepastian politik ini ditawarkan oleh penantang (non petahana) yakni melalui kesepakatan koalisi antara PKS dan Gerindra subang. PKS sendiri jauh hari telah mengenalkan bakal calonnya,yakni Agus Masykur. Ini tentu menaikkan adrenalin politik bagi para calon lainnya. PKS - Gerindra telah menciptakan kegamangan dan uncertaintly cukup tinggi bagi calon lainnya.

Diseberang sana, indikasi koalisi Golkar - PDIP makin nampak ketika ketua DPW Golkar jabar mengeluarkan surat berisi intruksi koalisi kepada seluruh DPD (pengurus kabupaten) yang akan melaksanakan pilkada 2018 agar tertuju kepada PDIP.

Ini memang bukan final, bahkan bisa jadi adalah sebuah upaya khusus dari seorang ketua DPW Golkar yang membaca aroma ketidakharmonisan antara Golkar subang dengan partai - partai pendukung pemerintahan, sementara disisi lain demi berlangsungnya agenda pemerintahan Imas sebagai bupati subang, dibutuhkan sinergitas dengan partai lain khususnya PDIP. Namun demikian, wacana yang mengemuka ini membawa pressure tersendiri bagi partai-partai lainnya seperti Demokrat,
Nasdem, dan Hanura untuk secepatnya membuat keputusan.

Tidak lama setelah itu, Koalisi diluar petahana kemudian berkembang menjadi 5 partai (PKS - Gerindra - Demokrat - NasDem - Hanura). Lagi-lagi, ini sebuah manuver politik yang cukup tepat mengingat lawan yang akan dihadapi adalah incumbent dan berasal dari partai dengan pengalaman bertanding cukup tinggi.

Meski belum secara resmi di deklarasikan, namun icon dari hasil koalisi 5 partai di atas sudah mencuat. Nama Ruhimat - Agus Masykur menjadi kian populer disebut - sebut sebagai penantang pertama bagi petahana. Masyarakat pemilih khususnya dari kalangan partai pendukung tidak lagi ragu dan tidak lagi takut salah menyebut ketika harus mengajak konstituen.

BACA: Koalisi Lima Partai Sepakat Usung Jimat-Akur di Pilkada Subang

Terlepas dari posisi Agus apakah sebagai cabup/cawabup, Agus Masykur kini menjadi aternatif pilihan utama bagi para tokoh. Banyak tokoh Subang yang sering memuji dan membicarakan Agus (di media, kantor, dll ) dan mereka itu orang yang biasanya netral tapi memihak pada Agus karena murni kagum dan berharap subang ini menjadi lebih baik.

Menelisik kekuatan petahana tentu saja tidak semenarik bila kita menelusuri kekuatan penantang. Agus - Ruhimat (atau Ruhimat - Agus) menjadi menarik karena satu - satu bakal pasangan calon yang dianggap pasti terjun di arena pilkada 2018. Inilah salah satu alasan, seberapa penting kecepatan mengusung nama lebih dini, isu lebih mudah diproduksi.

RUHIMAT dan EEP HIDAYAT
Meski Ruhimat secara resmi berangkat dari Demokrat, namun jauh sebelum itu NasDem Subang sudah menyatakan dukungan. Melalui pesan elektronik kepada saya, ketua DPD NasDem subang, Eep Hidayat, menyatakan tidak akan merubah dukungan kecuali Ruhimat sendiri menyatakan tidak ingin di dukung NasDem. Bagi kalangan politikus subang, Eep masihlah seseorang yang dianggap belum habis. Sosok ini disinyalir memiliki loyalis dikalangan akar rumput maupun birokrasi. Jika Eep mampu menghidupkan kembali mesin lamanya, kekuatan Ruhimat semakin kuat.

AGUS MASYKUR dan BAMBANG HERDADI
Demikian dengan Agus Masykur, kekuatan politiknya akan mendapat support basis dari seorang Bambang Herdadi. Sosok yang bersinar semasa dengan Eep ini disinyalir akan turut mendukung PKS (Agus Masykur) mengingat pribadi yang kini dikenal sebagai pengusaha ini memiliki putra yang aktif di kepartaian PKS sedari Robert (putra Bambang) kuliah di jerman.
Kemampuan memobilisasi masa dari seorang Bambang masih sangat diperhitungkan oleh kalangan elit subang.

Di luar itu, Agus dan Ruhimat masing - masing memiliki basis tersendiri baik yang sudah terjalin lama maupun baru. Silent strategi dari keduanya tercium dari sentimen positif yang selalu dibawa oleh beberapa kalangan profesi dan hoby maupun organisasi.

KEKUATAN PETAHANA RAPUH
Dalam pada itu, petahana tampaknya tidak menyadari bahwa ketidakcepatan pengangkatan wabup (dari manapun faktornya) akan
menambah rapuhnya petahana.

BACA: Menebak Kerangka Koalisi di Pilkada Subang


Koalisi PDIP - Golkar makin samar, ini membuat rakyat tidak fokus dalam melihat dan mengingat bahkan menetapkan pilihan. Wacana melalui surat perintah DPD Golkar terbius stigma bahwa politik itu dinamis. Adanya postulat politik ini jadi alasan banyak kalangan memandang kekuatan petahana rapuh. Selain faktor ketidakcepatan dalam penyerapan APBD serta indikasi lemahnya sistem manajemen birokrasi yang tentu saja menjadi catatan kinerja yang tidak meneyenangkan bagi warga pemilih.

Sukses gagalnya pemerintahan tergantung banyak hal dan salah satu di antaranya adalah dukungan solid dari koalisi partai pendukung pemerintah. Indikasi tidak harmonisnya partai-partai koalisi pendukung pemerintahan subang yang terjalin dipilkada 2013 tampak kentara. Sehingga kemampuan managerial Imas sebagai Leader lagi-lagi dipertanyakan.

Kekurangan yang banyak muncul belakangan ini adalah Kemampuan Imas dalam berbahasa, mengingat beliau nanti akan menjadi kepala daerah yang hubunganya dengan banyak kalangan dan butuh kemampuan diplomatis. Kekurangan ini rupanya disadari betul, sehingga lingkaran 0 (nol) Imas mengeluarkan jargon "Karya nyata untuk subang", seakan memelintir bahwa pemimpin hanya harus berpikir kerja,bukan wacana, bukan bertanya dan beradu argumen.

BACA: Nota Kesepakatan Koalisi Golkar, PAN dan PPP di Pilkada Subang


Ini adalah sebuah blunder yang fatal dan mudah saja bagi pendukung pihak lain untuk balik bertanya soal usia Imas, masihkah produktif? Dan atau memberi peluang kepada pendukung lawan untuk menjawab ; kami butuh dipimpin oleh aktor intelektual , pemimpin itu harus pintar yang diperas otaknya , bukan fisiknya , orang yang bekerja itu harusnya jadi pegawai atau kadis, atau orang yang bekerja itu harus berusia muda, orang yang memimpin itu cukup berpikir dan mempunyai gagasan yang hebat dan anak buah yang melakukanya. lihat saja semua CEO perusahaan besar itu memiliki visi yang kuat dan kemampuan berpikir
dan gagasan yang hebat dan lihat saja saat berpidato, minimal harus bisa merayu atau menyakinkan masyarakat katakanlah seorang bos jika mampu mendoktrin anak buahnya ke arah yang lebih baik maka perusahaan itu akan besar , semua pegawai merasa
memiliki subang.

Sebuah Strategi yang baik adalah cuma dilakukan sekali , jika dilakukan berkali kali bisa menjadi blunder. Strategi apa yang
dilakukan Golkar Subang pada saat pilkada 2013 dijamin tidak akan berbuah manis jika dilakukan saat ini. bersantai mengandalkan playing power sebagai petahana (apalagi tanpa perencanaan second alternative) bukan lagi cara yang ideal dalam menghadapi playing strategi dari kumpulan tokoh politik subang dipihak penantang yang notabene mantan eksekutif,legislatif,birokrat dan praktisi.

PDIP memang dimungkinkan akan jadi partner utama Golkar. Namun ini bukanlah wacana yang bisa berjalan mulus. Bukan tidak mungkin, diakhir episode pembukaan pilkada muncul keputusan DPP PDIP sebagai keputusan tak terduga, dengan memilih tidak berkoalisi dengan Golkar atau bukan tidak mungkin hanya bersedia menjadi partner Golkar jika Golkar sendiri bersedia menyodorkan nama untuk diproyeksikan sebagai calon wakil bupati, yang berarti bukan nama Imas.


Taswa Witular, Penulis adalah pemerhati politik SubangĀ  dan dikenal sebagai konsultan politik Nasional.


Twitter Update

Cabuli Bocah Ingusan, Warga Palasah Majalengka ini Numpang di Rumah Teman https://t.co/3ciankwfWx
Pipin Chikal, Bidan Subang dengan Segudang Prestasi di Sirkuit https://t.co/GlLZhrdxXb
Jejak Seni Gembyung di Tengah Gempuran Musik Modern https://t.co/W41rm8gCiH
Follow TINTAHIJAU.COM on Twitter

Facebook Page