Melirik Kemopreventif sebagai Senjata Alternatif Kanker

Menurut data Depkes RI penyakit kanker merupakan salah satu penyebab kematian utama di seluruh dunia. Pada tahun 2012, sekitar 8,2 juta kematian disebabkan oleh penyakit kanker. Kanker paru, hati, perut, kolorektal, dan kanker payudara adalah penyebab terbesar kematian akibat kanker setiap tahunnya.

TINJAU OPINI LAINNYA:
Israel dan Resistensi Palestina
Obsesi Menjadi Kaya itu Juga Berbahaya
Pasar Tradisonal Muara Nilai Gotong Royong

Dan menurut data GLOBOCAN (IARC) pada tahun 2012 diketahui bahwa kanker payudara merupakan penyakit kanker dengan persentase kematian akibat kanker payudara sebesar 12,9%. Kanker paru merupakan jenis kanker dengan kasus baru tertinggi dan penyebab utama kematian akibat kanker pada penduduk laki-laki.

Faktor penyebab kanker menurut artikel ilmiah pun beragam, mulai dari kurangnya aktifitas fisik, penggunaan rokok secara teratur, konsumsi alkohol secara berlebihan, indeks massa tubuh yang tinggi dan kurangnya konsumsi buah dan sayur. Serta  polusi yang disebabkan oleh pembakaran bahan bakar kendaraan yang tidak sempurna, serta faktor pola hidup yang kurang baik dapat memicu terjadinya penyakit mematikan ini.

Tak bisa dipungkiri bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan terus mengalami peningkatan di setiap tahunnya, tak terkecuali pengobatan dalam kanker. Jika dahulu pengobatan kanker hanya sebatas menggunakan terapi kemoterapi, operasi dan radiasi.

Sekarang, dengan berkembangnya kemajuan dalam dunia kesehatan, mulai berkembangnya pengobatan kanker dengan embolisasi arteri intercurrent/penyumbatan pembuluh darah, Radiopartikel, pengobatan kanker dengan photodynamic, Cyrosurgery ablation, Radiofrequency ablation therapy dan lain sebagainya. Akan tetapi kemajuan tersebut tidak berkorelasi positif dengan kemampuan masyarakat Indonesia. Hal ini dapat diamati dengan masih banyaknya masyarakat Indonesia yang belum bisa merasakan perkembangan pengobatan kanker tersebut.

Salah satu penyebab utamanya dikarenakan mahalnya biaya yang harus dikeluarkan dan masih kurangnya layanan kesehatan serta belum tersedianya metode pengobatan tersebut di Indonesia.

Daya beli yang kurang dari masyarakat akan pelayanan kesehatan tentunya merupakan suatu tanggung jawab bersama khususnya pemerintah sebagai penjamin kesehatan masyarakat. Maka dari itu, perlunya suatu desain yang dapat digunakan untuk menanggulangi permasalahan tersebut. Salah satu desain yang dapat digunakan yaitu desain pengobatan kemopreventif, yaitu pengobatan dengan cara pencegahan menggunakan tanaman obat. Desain tersebut dapat digunakan secara efektif di Indonesia karena harganya terjangkau dan dapat dengan mudah didapatkan.

Indonesia sebagai negara dengan letak geografis yang menguntungkan, memiliki banyak potensi obat berasal dari alam yang berguna untuk pengobatan. Menurut data kemendag di wilayah Indonesia terdapat sekitar 30.000 jenis tumbuhan dan 7.000 di antaranya ditengarai memiliki khasiat sebagai obat. Sebanyak 2.500 jenis di antaranya merupakan tanaman yang telah digunakan sebagai obat. Penggunakan bahan alam sebagai obat-obatan diindonesia bukan hal yang baru lagi. Nenek moyang bangsa Indonesia telah menggunakan bahan alam berabad-abad silam yang biasa disebut dengan jamu.

Hal ini merupakan modal besar yang dimiliki oleh Indonesia untuk dapat mengembangkan tanaman obat sehingga menjadikan Indonesia berdaulat dibidang pengobatan. Hal ini pun didukung oleh beberapa penelitian yang telah membuktikan bahwa sebagian tanaman di Indonesia  memiliki potensi yang besar sebagai senyawa antioksidan yang memiliki fungsi sebagai agen pencegahan terhadap kanker.

Tedi Rustandi, Penulis adalah Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Farmasi (DPMF Farmasi) Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta



_____________
Dapatkan lintasan berita Subang via:

Follow Twitter: @tintahijaucom
Like Faceboook: Redaksi Tintahijau
Iklan & Promo: 089624350851