Follow us:

Israel dan Resistensi Palestina

Mendekati satu abad terakhir resistensi Palestina terhadap Israel adalah isu yang cukup abadi di zaman ini. Sejak mendeklarasikan negara Israel pada 1948 hingga 2017 ini perang demi perang pun terjadi, naik dan turun, serta melibatkan tidak hanya orang Palestina tapi juga dunia Islam bahkan negara-negara di dunia.

TINJAU OPINI LAIN:
Obsesi Menjadi Kaya itu Juga Berbahaya
Pasar Tradisonal Muara Nilai Gotong Royong
Cegah Kekerasan Anak Melalui Optimalisasi Fungsi Keluarga

Kondisi terakhir di Palestina yang ditembak dan diblokir haknya untuk beribadah di Masjid Al-Aqsha semakin menambah resitensi terhadap Israel. Dan sekali lagi tidak hanya orang Palestina tapi juga negara-negara di dunia turut serta mengecam langkah Israel tersebut.

Saat ini, paling tidak ada dua faksi gerakan perlawanan di tubuh Palestina, yaitu kelompok Hamas dan Fatah. Hamas berjuang lebih keras, bahkan ingin menghancurkan Israel dengan militansi yang tinggi. Sedangkan Fatah lebih berjuang dengan cara yang diplomatis dan dialog.

Kendati kedua kelompok ini sama-sama melawan Israel dan ingin menegakkan kedaulatan Palestina, akan tetapi mereka juga tak jarang saling sikut satu sama lain. Akan tetapi, keduanya sama-sama berjuang untuk bangsa Palestina.

Resistensi bangsa Palestina terhadap Israel dapat dilihat setidaknya dari beberapa faktor. Pertama, Israel dianggap bukanlah pendudukan sah tanah tersebut dan olehnya itu pendirian negara Israel terus mendatangkan perlawanan demi perlawanan sampai sekarang. Bahkan, ibu-ibu di Gaza juga telah bertekad untuk menjaga semangat perlawanan tersebut lewat anak-anak mereka yang dilahirkan untuk menjadi pejuang.

Kedua, resistensi Palestina terjadi karena langkah Israel yang dianggap arogan, angkuh, dan tidak mau mendengarkan orang lain. Hal ini semakin diperparah dengan berbagai riwayat sejarah dimana bangsa Israel menunjukkan sikap arogan, bahkan membunuh para nabi dan tidak taat pada aturan yang telah disepakati.

Ketiga, sulit bagi bangsa Palestina untuk menerima kenyataan tanah mereka yang sah makin hari makin habis dijarah oleh bangsa Israel sejak 1948. Sebelumnya, Israel memang bangsa yang tak bertanah, mereka tersebar dimana-mana (berdiaspora), dan kemudian diberikan tanah di Palestina dan melakukan berbagai tindakan yang tidak mengandung "kearifan lokal" terhadap warga tempatan.

Problematika Israel dan Palestina ini juga yang mengilhami berbagai gerakan pun lahir. Al-Qaeda misalnya, salah satu alasannya terbentuk karena melihat penindasan yang dilakukan Israel terhadap Palestina. Pun demikian berbagai gerakan perlawanan lainnya.

Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat tidak setuju, bahkan menentang penjajahan di atas dunia. Indonesia mengambil langkah yang serius dengan tidak membuka perwakilan Israel di negeri ini sekaligus memberikan pernyataan keras terhadap apa yang dilakukan Israel terkait penutupan Masjid Al-Aqsha.

Sampai sekarang kita tidak tahu kapan konflik ini akan berakhir. Banyak orang ingin dunia ini damai akan tetapi makin hari kedamaian tak juga terlihat. Perang makin menjadi, perlombaan nuklir dan terorisme juga semakin meningkat.

Kita berharap bangsa-bangsa di dunia dapat membantu Palestina untuk menjadi bangsa yang berdaulat, dan dapat hidup lebih damai di tanah mereka sendiri. Dan, negara-negara di dunia dapat menekan Israel untuk tidak berlaku sewenang-wenang terhadap Palestina dan menghormati Hak Asasi Manusia yang dijunjung tinggi oleh semua bangsa. *

Yanuardi Syukur, Sekjen Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES) & Alumni Darunnajah Jakarta

_____________
Dapatkan lintasan berita Subang via:

Follow Twitter: @tintahijaucom
Like Faceboook: Redaksi Tintahijau
Iklan & Promo: 089624350851


Twitter Update

Ribuan Santri Subang akan Dzikir dan Do'a Bersama untuk Jokowi dan Keutuhan NKRI https://t.co/nrMsGQgc3A
Fraksi Absen di Paripurna, Sekjen PDIP Subang: Mereka Sakit https://t.co/2RyhtZEADX
Kecanduan ML, Pemuda Asal Subang ini Alami Masalah Serius pada Matanya https://t.co/JeeKSfKD02
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page