FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Obsesi Menjadi Kaya itu Juga Berbahaya

Bertahun-tahun lalu, saya sempat menjadi seorang pecandu produk motivasi. Karena pada bulan-bulan menjelang kelulusan SMA saya punya banyak keinginan muluk. Saya ingin menjadi orang sukses dan bla-bla. Kedengarannya memang seperti omong kosong belaka.

TINJAU OPINI LAIN:
Pasar Tradisonal Muara Nilai Gotong Royong
Cegah Kekerasan Anak Melalui Optimalisasi Fungsi Keluarga
Ruwatan Bumi

Dan benar, alih-alih mencapai sukses, saya justru terperosok ke dalam lubang-lubang kegagalan. Kala itu, saya gagal masuk perguruan tinggi negeri sampai 5 kali. Semuanya melalui berbagai jalur yang berbeda. Rasanya, pada waktu itu dunia benar-benar mirip daun kelor. Sempit sekali. Tak banyak memberikan ruang gerak.

Namun, tentu saja saya tak mau menyerah. Di tahun selanjutnya, saya coba lagi dan kembali gagal. Akhirnya saya pun mengurungkan niat masuk perguruan tinggi negeri dan memilih masuk ke perguruan tinggi swasta di daerah Subang. Tapi sungguh, gairah untuk menjadi orang sukses itu tetap terus menyala, meski sedikit redup.

Ketika masuk masa perkuliahan awal semangat saya berkobar lagi. Saya menemukan pelarian menarik dari rasa murung setelah gagal. Caranya ajaib, dengan membeli dan membaca berbagai macam buku motivasi.

Dengan cara ini saya mencoba memasang kembali puing-puing cita yang dahulu remuk redam. Membenahinya kembali dengan keyakinan yang lebih mantap. Optimisme harus terus menyala selama proses menjadi orang sukses itu berlangsung. Saya sebisa mungkin terus berusaha sembari terus berpikir positif. Begitulah kira-kira wejangan yang selalu termaktub dalam buku motivasi itu.

Saya bahkan sampai hafal dengan tema-tema yang identik dalam berbagai macam buku motivasi. Selalu, pada bab-bab awal, yang dijelaskan adalah mengenai passion. Tentang kecintaan kita pada suatu bidang keahlian. Dan bab-bab akhir selalu membahas keutamaan sedekah dan rasa syukur. Semuanya harus dilakukan dengan kerja keras, tulus dan pikiran positif.

Saya pun tak hanya sebatas membaca buku motivasi saja. Saya juga giat mengikuti berbagai macam acara seminar motivasi. Harga tiket seminar motivasi juga biasanya mahal sekali. Saya seringkali harus menabung dulu untuk membelinya.

Setiap mengikuti seminar motivasi saya selalu nampak sumringah. Bisa bertemu dengan motivator yang sudah banyak mencetak orang-orang sukses tentu saja membikin saya berdecak kagum. Orang-orang itu adalah mereka yang sering dianggap sukses luar biasa.

Saya begitu hikmat mengikuti semua materi yang disampaikan oleh para motivator itu. Dan di akhir acara biasanya selalu ada semacam momen refleksi. Para peserta disuguhi musik melodius dan diberi nasihat-nasihat reflektif yang bisa membuat mereka menangis. Saya juga sering menangis pada momen ini.

Semua itu saya lakukan semata-mata agar bisa menjadi orang sukses. Menjadi orang sukses, Saudara-saudara!

Saya begitu rajin mengikuti tiap-tiap seminar dan membeli buku motivasi. Tetapi, perlahan saya juga mulai merasa jenuh dan memelihara sedikit sinisme.

Pada satu titik saya sadar, bahwa ada yang salah dengan pandangan hidup saya tentang wacana sukses. Saya seperti menjalani sebuah kesadaran palsu. Saya malah merasa menjadi orang yang membuat para motivator itu makin sukses dengan semua uang yang saya keluarkan. Saya telah menjadi pelanggan tetap produk-produk mereka.

Setelah saya perhatikan, motivasi adalah ladang bisnis yang menggiurkan dan terstruktur pasarnya. Selama masih banyak orang bermental inferior seperti saya, selama itu juga bisnis motivasi laku.

Bahkan para motivator itu juga punya trademark masing-masing. Dari motivator jodoh, motivator sukses mulia, motivator bisnis nomor 1, sampai motivator syariah. Jenis terakhir inilah yang kini menjadi tren. Sebab, motivator syariah bukan saja menawarkan kesuksesan dunia, tetapi juga akhirat. Tapi tentu, tujuannya tetap satu: menjadi orang sukses.

Wacana sukses memang bisa beraneka ragam. Tapi, di zaman kiwari ini, makna sukses telah menjadi padat dalam satu wacana mainstream, yakni melulu soal menjadi kaya raya. Semua ini juga berkat jasa para motivator.

Banyak orang yang tersedot wacana mainstream itu (tak terkecuali saya). Misalnya, anggapan bahwa bekerja di Jakarta dengan gaji nominal dua digit adalah sebuah kesuksesan. Tak heran bila tiap tahun orang-orang dari berbagai daerah hijrah ke Jakarta.

Jakarta adalah kota ikon kesuksesan. Barangsiapa yang bisa bekerja di sana, maka otomatis akan langsung mendapat label orang sukses. Padahal, bekerja di desa sendiri juga bukanlah pilihan yang buruk. Tapi, itulah wacana mainstream. Banyak orang tersedot ke dalamnya.

Padahal, wacana, menurut filsuf posmodern masyhur Michel Foucault, adalah bentuk lain dari kekuasaan. Wacana mengandung belenggu yang menggiring banyak orang dalam rantai kekuasaan. Secara tak nampak, menurut Foucault, kita hanyalah agen kekuasaan itu. Kasarnya, kita ini adalah budak dari wacana.

Maka, ada baiknya sesekali kita juga harus melepaskan diri dari wacana itu. Sukses juga tak melulu soal uang dan uang. Bahkan, ada beberapa manusia di bumi ini yang memandang kekayaan sebagai momok yang mengerikan.

Beberapa waktu yang lalu, New York Post menayangkan sebuah wawancara menarik dengan salah satu pendiri Apple. Dia adalah Ronald Wayne, sahabat karib dari Steve Wozniak dan Steve Jobs. Dialah orang yang pertama kali membuat desain gambar apel yang ikonik itu.

Pada saat keluar dari Apple, Wayne menjual seluruh sahamnya dengan harga 800 US Dollar. Hari ini, saham itu harganya bisa mencapai 600 Miliar US Dollar. Atau, dalam kurs Rp 13.000, sahamnya bisa senilai Rp 780 triliun.

Ketika Wayne ditanya apakah ia menyesal, jawabnya: tidak! Karena ia tak ingin jadi orang terkaya di kuburan nanti. Baginya, banyak hal lain yang menarik minatnya; bukan hanya soal uang.

Ada juga kisah lainnya datang dari seorang ulama masyhur Imam Ghazali. Pada zamannya, Al-Ghazali pernah menduduki jabatan tinggi sebagai guru besar di Univeritas Nizhaminyah. Konon gajinya setara dengan gaji perdana menteri pada masa dinasti itu.

Tapi, Al-Ghazali justru memilih laku hidup zuhud dalam sunyi pengembaraannya, alih-alih menikmati hartanya yang melimpah ruah di Nizhaminyah. Di sini kita tahu, sukses bagi Al-Ghazali juga bukan melulu soal kekayaan.

Saya memandang bahwa jalan zuhud Al-Ghazali itu memang susah sekali dijalani di di zaman ini. Tapi, setiap orang bebas membuat definisi sukses sendiri. Tak ada definisi kesuksesan yang paling tepat dan paripurna.

Menjadi orang sukses yang jelas adalah menjadi diri yang bebas, tanpa terkekang dalam penjara wacana mainstream tentang definisi kesuksesan. Apalagi harus jadi pelanggan tetap produk-produk motivasi instan dari para motivator. Kesuksesan sejenis itu sesungguhnya kesemuan belaka.

Sebab kadangkala obsesi menjadi kaya itu juga berbahaya. Alih-alih menjadi kaya, yang ada mungkin kita justru mudah terjerat kibul investasi bodong yang ditawarkan motivator syariah di setiap acara seminarnya.

Rakhmad Hidayatulloh Permana tinggal di Subang. Kegiatan sehari-harinya bermain dengan ikan-ikan air tawar
 
_____________
Dapatkan lintasan berita Subang via:

Follow Twitter: @tintahijaucom
Like Faceboook: Redaksi Tintahijau
Iklan & Promo: 089624350851