Membaca Arah Koalisi Partai di Pilkada Subang

Dengan segala sumberdaya yang dimilikinya, Eep Hidayat memiliki banyak kepentingan untuk dapat mendudukan Ruhimat atau calon usungannya, sebagai Bupati Subang 2018. Kepentingan desainer politik Subang yang satu ini, apa? Saya yakin kita sama-sama maklum. Satu kubu, sudah pasti menjalankan hajat di Pilkada 2018.

Kubu kedua adalah poros Golkar, partai yang sembuh dari sakit gara-gara gerakan reformasi. Ambisi? Harus!! Jika sudah sembuh enggan berlari kembali, bukan politisi...bukan parpol namanya. Sulit disangkal bahwa Imas Aryumningsih adalah bakal calon Bupati Subang 2018 terpopuler. Dia sudah disebut namanya ketika pilkada 2013, dilanjutkan dengan euforia kemenangan paslon Ojang-Imas, makin meninggi popularitasnya pasca tragedi yang melanda Ojang Sohandi.

Namanya disebut pada topik pejabat pengganti Ojang, namanya juga disebut tiap ada perbincangan wabup baru, nama Imas pun akan dikaitkan ketika orang membicarakan kebijakan dan pelayanan publik. Ditambah lagi asesoris pendongkrak popularitas berupa spanduk bergambar Imas beserta kalimat penyedap kerap ditemui dalam setiap ranah.

Kubu berikutnya adalah Sang juara, kubu PDIP. Bukan hanya alasan sebagai partai pemilik kuota unlimited syarat pengusung calon saja yang diprediksi menjadikan si banteng bermulut putih ini mengaum hadapi pilkada. Namun kebutuhan untuk bisa mengulang sukses pileg 2014 pun jadi alasan. Bayangkan, jika PDIP kalah atau merosot suaranya di pileg 2019, sakit...bukan? Menang di Pilkada 2018 pembukaan yang menggairahkan untuk 2019.

1.Kubu EEP,
2.Kubu Golkar,
3.Kubu PDIP.

Kubu 1 dan 2 memiliki kesamaan, butuh teman bercinta. Butuh koalisi. Lantas kubu 3 bisa pede? Tentu tidak. OTT yang terjadi pada perjalanan kadernya (OS) sangat menyayat hati pemilih. Ini, akan menjadi isu sehingga memperlemah tingkat kepercayaan pemilih. Perlu koalisi? Tentu saja tidak ! Parpol dengan raihan suara terbesar kursi legislatif dan atau pemilik syarat pengusung calonbup ini hanya perlu membuka pintu, lalu akan masuk para calon non kader untuk mendampingi kader murni di pilkada. Meski bukan representasi, isu OS akan membuming saat mendekati pilkada. Adanya calon alternatif diluar kader, adalah pilihan tepat.

Dengan tradisi dan mental juara, PDIP Subang akan tetap jadi juara tanpa harus menerima cinta dari partai lain, apalagi mencari cinta dipartai lain...gengsi. Syarat kemenangan pertama sudah ditangan, mesin partai yang hebat. Syarat berikutnya adalah selektif memilih ring 0 dan atau ring 1. Catat ini.

Kembali ke kubu Eep dan Golkar. Iya, Imas melejit meninggalkan nama lain dalam ketenaran. Iya, hanya butuh mas kawin 3 kursi Legislatif saja dari teman bercintanya. Tapi tingkat elektabilitas Imas terindikasi tidaklah sejajar dengan popularitasnya. Siapa yang mengatakan ini? Ya, saya ! Apa dasarnya? Hasil survey natari Survey. Natari Survey mengatakan bahwa tingkat kesukaan pemilih yang kenal kepada, sangat rendah. Apakah Golkar akan berhenti berpikir? Tentu saja tidak. Politisi Golkar dikenal sebagai para pemikir, dan memiliki konsultan yang hebat. Lantas bagaimana menetralisir kelemahan ini?
pencitraan melalui fb? melalui radio? melalui media cetak dan online?

Itu tidak epektif, tidak efisien. Koalisi gemuk? Tidak !!! Itu akan memalukan bagi beringin raksasa. Maka nama Agus Masykur diprediksi akan jadi target Golkar. Meski dalam rilis Natari Survey berada dibawah Imas, Beni Rudiono dan Asep Rohman Dimyati namun justru Agus memiliki tingkat kesukaan tertinggi dari orang yang mengenalnya, jauh diatas nama - nama bakal calon lain. Sentimen ini diprediksi berasal dari faktor pilkada DKI (kemenangan Pks-Anies/Sandi).

Dan faktor besarnya karena Agus (pks) memiliki jaringan epektif dengan pola komunikasi epektif pula. Barangkali kalah besar dengan jaringan kader-kader elit dipartai besar lainnya, namun soal hati justru Pks dikenal lebih loyal dan kuat. Alasan lain jika Golkar bercinta dengan Pks, adalah Pks memiliki kursi legislatif yang cukup jika berkoalisi
untuk syarat pengusungan calon. 

Jika koalisi ini terbentuk, maka akan terjadi duel maut antara mesin banteng dengan mesin Golkar. Keduanya dikenal handal. Point lebih, Imas yg lemah dalam sisi tingkat kepercayaan publik telah disuntik vitamin loyalitas kader Pks yang solid. Mesin handal+Soliditas=?

Ironisnya, kubu Imas tidak bisa serta merta memadu kasih dengan Agus. Pks akan jual mahal? Tentu bukan itu. Justru sumber daya dan sumber dana Nasdem lewat keberadaan Eep akan memikirkan langkah kalem Pks. Bayangkan jika Pkb dan atau Hanura minggat dari belaian Eep. Bukan lagi masalah bagi Eep, jika Pks berkoalisi dengan Nasdem maka kepiawaian Eep bersama konsistensi Pks di medan perang bisa saja menaklukan banteng hingga dikubur dibawah beringin yang nangis. Terlebih, Eep pernah menunggangi Banteng tersebut. Calon usungan Nasdem yang akan populis distempeli nama Eep, ditambah suara pasti dari Pks=?

Pertanyaan terakhir, kemana Pkb, PAN, Gerindra, Hanura,Demokrat dan PPP? Saya berharap partai-partai ini berkoalisi. Popularitas Asep Dimyati serta tingkat kesukaan pemilih yang kenal dengan ARD cukup baik,bisa menjadi modal kuat dalam melawan 3 kubu di atas. Tentu saja JIKA mesin-mesin anggota koalisinya berjalan baik.

Kubu terakhir adalah kubu perseorangan. Saat ini sulit dielakan, bahwa nama M.Riza Hanafi mendominasi bursa independent. Seberapa besar kekuatannya? Tidak lepas dari siapa nanti yang akan menjadi pasangannya. Figur pasangan ideal bagi M.Riza Hanafi selain berintegritas (isu wajib bagi independent), populis, dan ahli strategi, pula harus memiliki jaringan pasti. Ini akan menjadi saingan ketat bagi kubu lainnya mengingat kondisi saat ini. Syarat mutlak adalah memainkan isu yang menggairahkan.

Panasnya aroma Pilkada 2018  justru akan terjadi pra-penetapan calon, yakni pada dua kubu internal ;PDIP dan Nasdem. Keduanya menjadi diminati oleh para bakal calon mengingat sosok Eep yang bertangan dingin, dan sosok banteng yang besar dan kuat bertarung. Jika Eep sudah dipastikan mengusung calon diluar kader, maka PDIP meskipun kaya dengan deretan nama kader namun butuh nama fress dari luar untuk menetralkan sentimen negatif yang kini menerpa. Kesempatan ini akan dimanfaatkan oleh para bakal calon untuk bisa menjadikan banteng sebagai kendaraan.

Semoga tulisan ini jadi Inspirasi bagi para pemain politik untuk berkreasi dan menjadi gairah bagi kita sekalian untuk tidak golput.


Taswa Witular, Penulis dikenal sebagai konsultan politik
 

_______
Dapatkan lintasan berita Subang via:
Follow Twitter: @tintahijaucom
Like Faceboook: Redaksi Tintahijau
Iklan & Promo: 089624350851


Twitter Update

Redaksi https://t.co/0bXKG38QHq mengucapkan: Selamat Idul Fitri 1438 H Mohon Maaf Lahir & Bathin https://t.co/sHw9LiKVeO
Tradisi Mudik dan Pengabdian Sang Jurnalis https://t.co/NiQ1bptSjb
Tim Pemukul Polres Subang Siap Gebug Penjahat di Jalur Mudik https://t.co/IHoDaEscFM
Follow TINTAHIJAU.COM on Twitter
Banner Kanan 2
Banner Kanan 3
Banner Kanan 1

Facebook Page