Pilkada Subang dan Peran Pemuda

Di usia belum genap 26 tahun, Soekarno sudah menjadi pimpinan partai politik. Pemuda inspiratif saat itu yang pernah dimiliki Indonesia. Dalam perkembangannya keberadaan pemuda adalah warna kontras yang membangun ruang dinamika tersendiri dalam mengimplementasikan peran sebagai the guardian of value.

Kini, khususnya di Kabupaten Subang, potret sosok pemuda sebagai karakter yang dinamis, progresif serta nasionalis sepertinya terninabobokan oleh kenyamanan hidup, terjebak pada gaya hidup hedonisme dan pragmatisme. Terkesan apatis dan salah arah dalam mengisi kehidupannya. Mereka terkesan tidak ingin ambil pusing dengan kompleksitas persoalan Subang yang  semakin akut seperti KKN, kepemimpinan (leadership) yang lemah, dan masalah kesejahteraan ekonomi.

Padahal, aspek yang menentukan perubahan adalah model pemimpin dan karakter  kepemimpinan yang ditempa oleh pengalaman, bukan model pemimpin karbitan. Peran pemimpin dan kepemimpinan di Subang akan menentukan maju-mundurnya Subang.

Fakta empiris bahkan menunjukkan bahwa kaum muda sebagaimana tokoh-tokoh yang pernah mewarnai perjalanan bangsa ini, sanggup
merumuskan peta jalan perubahan. Dari persoalan bagaimana perubahan itu dimulai? Bagaimana tahapannya? hingga arah dan syarat-syarat yang diperlukan demi mempercepat perubahan.

Tantangan Subang ke depan mutlak membutuhkan totalitas semangat sertac peran serta kaum muda, terlebih menyoal otonomi daerah dan bonus demografi 2030. Tahun depan, Subang akan melaksanakan pemilihan Bupati. Jika kaum muda menyadari bahwa pilkada adalah momentum yang tepat untuk membuat perubahan, maka akan menjadi berkahlah otonomi daerah dan bonus demografi itu. Kaum muda Subang harus mendorong lahirnya kepemimpinan yang kredibel, kuat,legitimate, sehingga semua sendi kehidupan mampu membuat rakyat di kabupaten ini menjadi lebih baik.

Tak ada kata terlambat bagi pemuda Subang untuk beraksi menyelamatkan daerah tercinta ini. Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan melalui momentum Pilkada untuk menyelamatkan Subang dari kehancurannya. How to make it happen?
1. Penguatan simpul kepemudaan.
Membangun kesamaan persepsi serta konsensus untuk memerangi praktik politik kotor sekaligus menyuarakan keadaban politik dan demokrasi secara simultan bagi rakyat Subang, bisa dimulai lewat terjalinnya komunikasi yang epektif antar komunitas kepemudaan yang ada di Subang.

2. Membangun kesadaran kolektif
Subang ini terpuruk karena andil dari sikap budaya permisif kita memberikan ruang bagi praktik kotor para calon pemimpin Subang. Realitas diluar keadaban demokrasi dipandang hal biasa oleh sebagian masyarakat. Ini yang harus diluruskan kaum muda.

3. Hindari Golput
Penulis memandang golput adalah sikap politik juga. Namun tetaplah Golput merupakan manifestasi dari sikap apatis dan apolitis. Bayangkan jika kaum muda di Subang golput dalam Pilkada, maka anggaran besar untuk proses ikhtiar perbaikan Subang itu hanya menghasilkan pemimpin busuk.

Selain itu pemuda Subang pun berhak memerankan diri sebagai kandidat maupun suksesor dipilkada 2018. Implementasi peran-peran tersebut menuntut pemahaman terhadap eksistensi dan nilai dan sistem nilai agar tidak terjebak dalam cekaman pragmatisme.


Oleh: Taswa Witular, S.IP, Pengamat Politik, Subang
____

Dapatkan lintasan berita Subang via:
Follow Twitter: @tintahijaucom
Like Faceboook: Redaksi Tintahijau
Chanel BBM: Berita Subang


Banner Kanan 1

Twitter Update

Pesantren Darunnajah Jadi Tuan Rumah Kunjungan Dewan Perdamaian Tinggi Afghanistan https://t.co/6eoelIh1DI
Banjir di Perumahan Surya Cigadung Subang https://t.co/qcnW69W19C
Sambut Hari Guru, Ribuan Pelajar dan Guru Jalan Kaki 10 Km https://t.co/fAkIV1Q8Qr
Follow TINTAHIJAU.COM on Twitter

Facebook Page