FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

CATATAN: Corona, Ramadan dan Mudik Lebaran

Beberapa hari menjelang Ramadan, Corona belum juga berlalu. Tersandra kegamangan, ada Corona di Ramadan, ada corona saat mudik lebaran.

Di sejumlah media, diberitakan penyebaran virus corona semakin meluas dan menjadi. Hingga Sabtu (11/4/2020) Gugus Siaga Penanganan Percepatan Covid-19 Nasional merilis jumlah kasus positif Virus Corona sebanyak 3.842 orang

Sementara, jumlah orang yang dinyatakan pulih atau sembuh dari COVID-19 bertambah 4 sehingga menjadi 286 kasus. Sedang untuk kasus kematian terkait COVID-19, tercatat ada penambahan 21 kasus, sehingga menjadi 327.

Jumlah ini belum termasuk mereka yang PDP (Pasien dalam Pengawasan) atau ODP (Orang dalam Pemantauan). Dan jumlah untuk kedua kategori ini berpotensi besar akan terus bertambah. Ini dipicu salah satunya faktor ribuan warga yang sudah meninggalkan Jakarta dan kembali ke kampung halaman.

Bukan untuk mendeskreditkan atau menuduh pemudik, dari banyak pengalaman, riwayat perjalanan PDP di daerah-daerah itu setelah berkunjung atau pulang dari zona merah, termasuk di dalamnya Jakarta, Depok, Bogor, Bekasi dan lainnya. Di Subang misalnya, 13 orang yang positif hasil rapid test, mereka adalah warga Subang yang bekerja atau beraktivitas di luar Subang

Pulang kampungnya ribuan atau bahkan jutaan warga (secara diam-diam), di satu sisi membahagiakan bagi keluarganya tapi di sisi lain membuat waswas sebagai duta penyebaran virus Corona. Wajar, ketika pemerintah setempat meminta untuk warganya tidak pulang kampung dan bersabar di daerah yang saat ini ditempati.

Sementara mereka yang sudah tiba di kampung halaman langsung dilabeli Orang Dalam Pengawasan. Sekali lagi, bukan untuk menuduh dan menjustifikasi pemudik, pelabelan ODP ini untuk memonitor kesehatan yang dikhawatirkan menyimpan virus yang berdampak pada penyebaran.

Di tengah pandemik Corona yang belum mereda, menjadi kebimbangan bagi sebagian besar muslim dunia. Maklum saja, oleh sebagian muslim, Ramadan adalah menjadi momentum 'pertemuan' mahluk dan Kholik. Di Ramadan lah, semua dicurahkan dan dikerahkan sekuat jiwa dan raga sebagai pembuktian kedekatan dan cinta yang terjalin sejak terlahir ke dunia

Kegamangan ini, tentu saja, karena sikap patuh warga Muslim, dengan kebijakan pemerintah, yang diantaranya tidak diperkenanan untuk beraktivitas di luar rumah dengan jumlah lebi dari lima orang. Artinya, ini akan berdampak pada menikmati 'ritual ramadan': mengikis kenikmatan Sholat Tarawih berjamaah di Masjid, lezatnya tadarus di malam hari hingga datang waktu itikaf, cerianya buka puasa bersama orang tercinta, atau syahdunya suara adzan maghrib di sela ngabuburit.

Beribadah sendiri-sendiri di rumah masing-masing di bulan Ramadan, seperti halnya, emak-emak yang melewati banjir diskon di toko baju pasar modern. Buka puasa sendiri, seperti makan timbel lalap pete tanpa sambal, atau buka puasa tanpa kopi hitam, dan lain sebagainya.

Di tengah kehampaan spiritual yang kita harus ikhlas melepas 30 hari penuh cinta bersama Ramadan, di penghujung Ramadan, kita harus merelakan,betapa nikmatnya menguras air mata kerinduan terhadap orang-orang yang dicintai, yang sudah mendahului kita bersamaan dengan takbir menggema dari setiap penjuru mata angin.

Malah, info yang sempat muncul di time line socmed, Idul Fitri pun akan terancam ditiadakan. Allahu, betapa kenikmatan Ramadan tahun ini akan semakin hampa. Bahagia menggandeng anak-anak menuju Masjid untuk sholat idul fitri, akan (kah) lenyap diterjang Corona.

Ini akan diperparah dengan hilangnya betapa lezatnya saling menyapa dengan tetangga dan handai tauland setelah 30 hari berpuasa. Nuansa pesta kemenangan dengan saling berkunjung dengan sanak saudara dan tetangga hanya akan semarak di social media atau kebiasaan ngantongi kue dari rumah ke rumah saat bersilaturahim ke rumah tetangga, hanya menjadi harapan

Ya mudik lebaran tahun ini, hanya menjadi catatan dalam laman social media. Cerita kemacetan, dan pengalaman sepanjang perjalanan mudik lebaran, bukan lagi menjadi kisah berlembar yang dicatat jari lentik pekerja media yang tanpa lelah di kondisi apapun.

Ya kondisinya memang demikian. Jangan lagi diperparah dengan coba-coba membenturkan atau memprovokasi dengan narasi yang menerikan, seperti ini upaya Pemerintah mengikis ibadah muslim. Catat, ini bukan karena pemerintah yang membatasi ruang gerak kita, tapi Corona yang tidak mengenal apa dan siapa membuat kita harus tahan diri dan membatasi.

Pemerintah mengasihi kita, demi kita dan keluarga bahagia di ujung sana. Pemerintah sayang kita, untuk kita menua bersama dengan orang tercinta. Dan Pemerintah cinta kita, untuk kita lebih tentram beribadah di kemudian hari...

Betul, kematian ada di tangan Tuhan, tapi Kanjeng Nabi Muhammad mengajarkan, Kepasrahan terbaik adalah setelah kita ikhtiar. Gusti Allah sudah mengabarkan, setelah ada kegelapan ada cahaya, setelah ada kesusahan ada kebahagiaan. Tak perlu menantang maut, bersabarlah beberapa saat untuk kebahagian dan kebaikan kita, hari ini, besok, lusa dan nanti.

Sebaliknya, di tegah keprihatinan mewabahnya corona, momentum Ramadan nanti, yang pada setiap malamnya adalah waktu terbaik untuk memanjatkan doa panjang, Ramadan yang di dalamnya ada satu malam yang tak terkita bandingannya, adalah waktu yang tepat untuk memohon ampun dan kuasa Tuhan untuk Corona segera mudik ke kampung halamannya

Jutaan doa dari mulut beraneka latar belakang, adalah modal terbesar kita untuk menyalakan optimistme, bahwa 100 diantaranya adalah doa terijabah, doa yang melesat ke langit ketujuh untuk membisikkan pesan bumi untuk Sang Kholik: Jangan ada Corona di antara Cinta Kita, Gusti....

 

Annas Nashrullah,
Penulis adalah pecinta kopi item dan penikmat socmed IG, FB, Twitter dan YouTube di BabeMude


TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

38 orang di Sekretariat DPRD Jawa Barat Positif Covid-19 https://t.co/BWfOkqD8Lq
Kemenag Majalengka Sabet Dua Medali di Islamic Short Movie Competition 2020 https://t.co/716PkUgm26
Subang, Kecamatan Tertinggi Jumlah Pasien Covid-19 yang Masih Jalani Isolasi https://t.co/9P4zUOBEqn
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter