Ketika Korona Mewabah di Social Media

Terakhir ini, korona betul-betul mewabah di Indonesia. Tidak hanya di dunia nyata, tapi wabah korona sudah tembus di dunia maya terlebih di social media.

Sekedar informasi, hingga Jumat (20/3/2020) jumlah pasien positif korona sebanyak 369 orang. Tidak terkecuali Wali Kota Bogor Arya Bima, dan kerabat pejabat setingkat menteri.

Penambahan pasien positif ini juga barengi dengan penambahan 7 kasus kematian yang dipicu virus corona atau SARS-CoV-2 dari yang sebelumnya 25 orang menjadi 32 orang. Kasus kematian terbanyak berada di DKI Jakarta sebesar 18 orang.

Semakin hari, jumlah pasien positif dan meninggal dunia kian bertambah. Persitiwa ini memantik ketakutan di kalangan masyarakat. Celakanya, di tengah ketakutan masyarakat pergerakan virus korona, di satu sisi kita justru gemar menshare informasi yang menakutkan di social media.

CATATAN LAIN: Subang Jawara, milik dan untuk siapa?

Social media, baik facebook, twitter, terlebih whatsApp tidak pernah sepi dari postingan korona dalam berbagai jenisnya. Bahkan, sering kali, konten yang sama dishare berulang kali oleh akun berbeda dan di socmed atau group WA yang berbeda.

Dalam konteks ke-Subang-an. Kalau tidak salah, pada Rabu (17/3/2020), heboh peta penyebaran virus korona dengan kategori ODP (orang dala pengawasan), PDP (Pasien Dalam Pengawasan). Bukan saja berbentuk grapis, tapi narasi yang dilengkapi dengan data area lengkap.

Bahkan satu orang yang terdua korona ikut memeriahkan kiriman informasi tersebut. Uniknya, untuk menentukan satu pasien suspek korona, netizen punya lokasi daerah masing-masing, dari mulai wilayah pantura, dataran sampai di daerah pegunungan.

Informasi-informasi itu, buat saya, justru jauh lebih menakutkan ketibang virusnya sendiri. Bukan mengkerdilkan kehebatan virus korona, tapi informsai korona yang dibubuhi dengan aneka narasi dan dramatisasi, justru lebih mengerikan.

Rasa takut yang berlebihan, berdampak pada psikologi. Mental yang tidak mampu menampung rasa ketakutan, berakibat pada kesehatan fisik. Belum ada data analisa ril memang soal ini. Tapi dari beberapa percakapan, pemandangan ini terjadi.

Ini belum dari dampak ketakutan berlebihan, yang mengakibatkan aktivitas ekonomi lumpuh. Tidak sedikit, mereka (pedagang kecil, supir angkot dan lainnya) mengeluhkan dampak dari informasi massif di social media.

"Boa-boa, aeng salamet ti korona, tapi modar gara-gara sieun ku informasi korona," kata mereka

Dalam kata sederhana; ketakutan, akibat informasi yang menakutkan, bisa membunuh kita, justru menjadi kekhatwatiran saya ketimbang virus koronanya sendiri.

Saya bukan sedang sok jago atau punya ilmu kebal virus. Tapi saya sedang belajar membaca dari informasi yang berseliweran dari socmed dengan realita di lapangan.

Fakta sesungguhnya, sampai Sabtu (21/3/2020) di Kabupaten Subang itu belum ada pasien positif terjangkit korona. Yang ODP dan PDP, mungkin ada.

Kedua, postingan yang bersliweran di socmed, kalau kita mau baca bukan cuma share, sudah sangat gamblang, alur penularan virus dan cara menghindarinya.

Dari banyak teori soal korona, saya mengambil kesimpulan: cara terbaik untuk menghindari penularan korona itu adalah jaga interaksi dan kesehatan diri.

Sebagai orang yang biasa di lapangan atau di jalanan, bisa bertemu dengan siapa saja. Tapi dengan mewabahnya virus korona, tentu saja saya harus memilah dan memilih dengan siapa saya berinteraksi. Setidaknya, saya harus mencatat riwayat aktivitas relasi

Kedua, menjaga kesehatan diri seharusnya sudah menjadi kebutuhan bukan saja pada saat korona menggila. Jujur saja, hikmah terbaik dari kasus ini saya jadi rajin cuci tangan, dan berwudhu.

Saya punya anak empat dan istri satu. Saat pulang sampai di rumah, saya tidak berani menyentuh mereka, sebelum saya cuci muka, kaki, dan tangan.

Sebagai kalimat pamungkas, bukan saja untuk kasus korona, apapun tergantung bagaimana kita membaca setiap peristiwa yang terjadi. Dan, jika saja kita tidak mampu membuat semuanya lebih sederhana, jangan diperberat.

Wallahu a'lam bishawwab, tetap ngopi



FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom
E-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.


TRENDING TOPIC

Banner Kanan 1
TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Pemkab Subang Akan Lakukan Rapid Test kepada 2 Ribu ODP https://t.co/WMbUGvYjAN
3 Posisi Bercinta Ini Dipercaya Bisa Lahirkan Anak Perempuan https://t.co/3YhWio0A6E
Anggota DPRD Monitoring Pencegahan Corona di Kecamatan Ciasem Subang https://t.co/D6RMRXqFEE
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page