Catatan MangSiHejo: Polling, Pilkada dan Patimban

Sekitar 15 bulan ke depan, kabupaten Subang bakal menggelar pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Beberapa nama sudah mulai muncul dan mulai gerilya mencari simpati dan mengenalkan diri ke publik.

Semangat menyongsong dan menyambut Pilkada Subang yang diperkirakan pada Juni 2018 lalu jauh-jauh hari sudah muli terasa. Maklum saja, pada Pilkada 2018 nanti, bukan saja merebutkan Kursi Subang stu atau pendopo. Ada hal lain yang tanpa disadari bakal menjadi motivasi utama.

Munculnya sejumlah nama itu, dimanfaatkan beberapa media untuk melakukan polling di medianya masing-masing. Seperti menjadi penentu, nama-nama yang tersebut dalam pollingpun berlomba meminta dukungan publik dengan cara menyebar pesan berantai, baik mellui BBM atau whatsup.

Aksi kejar-kejaran perolehan hasil polling pun terjadi. Hampir setiap dua hari sekali, nama yang bercokol di posisi paling atas berganti. Semangat adu klik dan atau kirim sms untuk menambah pundi-pundi polling, pada akhirnya menemui titik semiklimaks.

Bahkan, sebagian orang sudah mulai mendefinisikan, menyampaikan peran dan fungsi polling. Yang pada intinya, polling tinggallah polling, yang belum tentu hsil polling itu sejalan dengan hasil suara di Pilkada nanti, atau bahkan nama-nama dengan suara tertinggipun belum tentu maju di Pilkada.

Terlepas siapa peringkat pertama dalam polling, Pilkada 2018 mendatang menjadi momentum berharga publik Subang untuk benar-benar memilih sosok pemimpin bukan pimpinan, yang memiliki jiwa leadership, inspiring, kreatif, tegas, tidak tersandera masa lalu dan dia adalah sosok yang dari kesehariannya (bukan beberapa hari ini) bisa dilihat kecenderungan perilakunya.

Prasyarat ini harus menjadi tolak ukur, mengingat jutaan warga Subang seperti yang terkena traumatik dengan Bupati sebelumnya yang tersandera kasus hukum di perjalanan pemerintahannya. Untuk mendapatkan pemimpin yang sesungguhnya, tentu saja tidak hanya menjadi harapan tapi harus ada kerja-kerja nyata guna menyiapkan sosok dan figur yang didasari semangat idelisme bukan pragmatisme.

Keterlibatan aktivis dan kaum muda pada Pilkada 2018 bisa menjadi pemantik munculnya sosok pemimpin yang diharapkan. Mencari, menyiapkan, memngkampanyekn dan memenangkan figur terbaik harus secepatnya dilakukan di tengah banyaknya sosok malaikat jejaden. Penyadaran terhadap politik dan pemahaman pentingnya figur pemimpin daerah menjadi sesuatu yang wajib sehingga pendopo tidk jatuh ke tangan yang salah

Tidak ada satupun fatwa haram, aktivis terjun dalam menyiapkan pemimpin. Ini penting, jangan sampai hanya karena ketakutan dicap "berpihak" ke calon A atau B, justru kita mengorbankan daerah dalam lima tahun ke depan. Sikap apatis dalam Pilkada bukan menjadi solusi, justru hanya membuka pintu seluas-luasnya masuk dan terpilihnya sosok indovidu yang berkedok pemimpin. Ini jauh lebih berbahaya.

Sekali lagi, Pilkada 2018 menjadi sesuatu yang penting, karena menjai penentu nasib Subang 5 tahun ke depan. Bukan saja dalam soal kebijakan, tapi soal nasib Subang dan wargany. Mengingat, hadirnya pelabuhan Internasionl Patimban tidak menutup kemungkinan menjadi magnet bagi "JAKARTA" untuk ikut bermain di Pilkada Subang, tentu saja dengan kepentingan kepentingan tertentu.

Pilkada ke depan, seyogyanya bukan hanya menggugurkan kewajiban dan sekedar pemilihan, tapi mencari sosok pemimpin yang berani mempertahankan tanah-air, aset dan potensi dan membela nasib sekitar 1.6 juta penduduk Subang. Karena bisa jadi Pendopo hanya anak tangga untuk sampai di Patimban.

Wallahu a'lam bishawab


MangSiHejo