FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Menelusuri Kata dan Prilaku Caleg



Kita tinggalkan kerumitan awal dari istilah caleg, hanya memang dari penyebutan awal saja kita sudah salah kaprah. Ternyata kesalah kaprahan itu bukan hanya dari sisi penamaan atau nomenklatur tetapi jika kita telaah kesalahkaprahan itu ternyata sangat banyak terkait caleg tadi mulai dari pengaturanya sampai ke perilaku caleg yang kadang membuat geli, karena kita bisa menemukan caleg yang sama sekali tak tahu apa itu tugas lembaga perwakilan rakyat ssebenarnya "Pokoknya nyaleg" demikian sering kita dengar ungkapan mereka.

Salah satu kesalah kaprahan atau bahkan sebenarnya bisa dikategorikan tindakan kriminal adalah terpampangnya gambar atau foto caleg tadi di pohon-pohon atau tempat yang tak semestinya. Kita jadi berpikir keras dan prihatin kalau untuk memperkenalkan dirinya saja seorang caleg melakukan kejahatan lingkungan yang diatur dalam undang-undang lingkungan hidup maupun peraturan daerah tentang lingkungan hidup, tapi tetap dilakukan dan tak pernah terdengan ada caleg yang dihukum karena maslaha ini.

Ada caleg yang berkali-kali gagal dan banyak pula muka baru, dan ada caleg yang sudah pernah duduk di kursi lembaga perwakilan dari pemilu sebelumnya. Faktanya hampir semua anggota DPR DPD dan DPRD kembali menjadi caleg, nampaknya ada "kenikmatan" tersendiri untuk menjadi anggota lembaga perwakilan tadi. Padahal saat ini banyak sekali anggota lembaga perwakilan yang menjadi tersangka, atau bahkan masuk bui, sebagian besar karena kasus korupsi.

Sebenarnya apa sih yang ada di pikiran caleg sehingga begitu banyak kesalah kaprahan yang melekat dalam diri mereka maupun dalam benak masyarakat, apakah sistem politik kita yang buruk sehingga bukan hanya banyak salah kaprah tetapi juga melahirkan banyak hal yang kadang memalukan dari caleg yang maju dalam pemilu 2014 nanti atau dari para anggota lembaga perwakilan rakyat yang ada saat ini sendiri. Jika dari namannya saja sebagai lembaga perwakilan rakyat kita akan mendapatkan banyak catatan tentang hal ini.

Benarkah selama ini para anggota yang terhormat itu benar-benar terhormat untuk mewakili rakyatnya. Catatan kita soal ini ternyata pandangan publik tak merasa terwakili dengan keberadaan mereka di lembaga-lembaga tadi, misalnya demo buruh dan kelompok masyarakat lainnya terjadi tentu karena mereka merasa tak terwakili oleh wakilnya di parlemem, karena jika terwakili maka proses penyampaian pendapat untuk nasib mereka bisa dilakukan dengan mudah dan murah dengan berdialog dengan wakilnya saja.

Demikian juga dalam hal fungsi mereka sebagai lembaga kontrol kebijakan pemerintah, nyatanya selama ini justru banyak kasus dimana mereka malah menjadi pelaku yang merusak kebijakan atau membuat kebijakan sedemikian rupa sehingga malah menyulitkan rakyat. Labih jauh dari itu kita saksikan bukannya mereka sebagai kontrol malah banyak yang menjadi pelaku koruosi dan penyalahgunaan kekuasaan. Dalam hal kewenangan dalam bidang anggaran juga banyak mandapat kritik pubik.

Jika demikian gambaran lembaga perwakilan yang ada, kalau bagaimana gambaran caleg yang akan kembali mengisi lembaga-lembaga tadi. Opini publik saat ini sangat skeptis terhadap hal itu, pertama dari proses rekrutmen yang dilakukan partai-partai politik, banyak caleg yang diragukan komitmen dan kompetensinya untuk menjadi anggota parlemen di berebagai tingkatan tadi, bahkan kini muncul kesan seolah caleg tak lebih dari para pencari kerja.

Tentu saja mash ada di antara caleg yang benar-benar memiliki komitmen, kompetensi dan integritas untuk menjadi anggota perwakilan rakyat yang memperjuangkan kepentingan rakyat yang diwakilinya, namun dengan melihat postur lembaga perwakilan rakyat sebagaimana yang sering kita saksikan di media massa akhir-akhir ini, nampaknya kehadiran caleg yang baik tadi hilang tertelan oleh pemberitaan tentang keburukan-keburukan mereka.

Tantangan yang harus dijawab oleh para caleg itu tentu saja adalah bagaimana menjawab berbagai tudingan dan opini miring tentang mereka melalui sosialisasi yang efektif dan cerdas, bukan dengan menyalahgunakan kekuasaan dan kewenangan atau merusak lingkungan dan hanya memasang balgo atau poster seenaknya sendiri di berbagai sudut ruang publik yang malah mengganggu keindahan dan melanggar peraturan yang ada. Karena jika sebagai calon saja demikian buruk perilakunya apatah lagi jika sudah berkuasa, begitu ungkapan masyarakat tentang caleg.


Banner Kanan 1

Twitter Update

Hari Ini, Samling dan Simling Hadir di Pembukaan Majalengka Expo. Berikut jadwal sepekan ke depan https://t.co/ii1ad3GGMJ
Ratusan Calhaj dari 2 Kecamatan di Subang Pantura Ikuti Bimbingan Haji https://t.co/ye3gC7azvH
Pasang Baliho APBDes, Kades Tanjungrasa Kidul Ajak Warga Awasi https://t.co/lQk1Ri12cY
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page