FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Elegi Penjual Tanah untuk Pabrik di Subang


Saat TINTAHIJAU.com tiba di rumahnya, dia masih tampak lesu, pikirannya masih membayangkan 367 bata atau 5.138 M2 sawahnya yang telah ia jual kepada seorang pemborong. Sawahnya tersebut ia jual dengan harga Rp800 ribu per 1 bata atau 14 M2.

Perlahan dengan terbata-bata H. Toyib (60), yang biasa disapa masyarakat sekitar dengan panggilan pak haji, mulai bercerita. Dirinya mengaku merasa bingung, hal itu dikarenakan, dia kehilangan sawah miliknya karena telah dijual dan kebingungan keduanya adalah sampai saat ini dia belum bisa menemukan sawah penggantinya.


"Katanya, diatas sawah tersebut mau dibuat Pabrik, jadi saya dan puluhan orang di desa Padamulya harus melepas sawah itu untuk dijual ke pemborong, luas sawah saya sebenarnya 400 bata namaun menurut orang kepercayaan pak lurah ukurannya adalah 367 bata, sayapun dapat uang sekitar Rp320 juta, " kata H. Toyib.

H.Toyib menuturkan sawah itu adalah satu-satunya mata pencahariannya. Dia dan ratusan orang di Desa tersebut menggantungkan hidup dari hasil sawah untuk menghidupi keluarganya. Bahkan berkat sawah tersebut juga dia dan keluarganya bisa naik haji. Ketika sawah miliknya telah dijual dia tidak mempunyai pekerjaan apa-apa. Saat sawah itu masih miliknya, dulu penghasilannya sekali panen berkisar antara 2-3 ton, setahun dirinya bisa memanen sawahnya 2 kali. Tak kurang dari Rp8 juta - Rp10 juta ia dapatkan dalam sekali panen. Namun setelah dijual dia dipastian tidak mendapat penghasilan alias menganggur.
"Kita nggak bisa apa-apa, hampir setiap hari orang suruh pemborong datang kerumah, bahkan saya sering diundang untuk datang kerumahnya, dia selalu merayu saya, karena sering dirayu, akhirnya saya jual sawah itu, sebenarnya saya tidak mau menjual sawah itu, dia maksa saya, harganyapun ditentukan mereka," jelasnya.

Sekitar 20 hektar sawah yang terletak di desa tersebut telah dibidik oleh pengusaha yang menurut informasi, diketahui dari PT. Brogress, sebuah perusahaan sepatu. Hingga saat ini baru 16 hektar sawah yang telah dibebaskan pemiliknya, sisanya sebanyak 6 hektar lagi mandek, beberapa warga masih kekeh mempertahankan sawahnya, bahkan pada hari Selasa (16/4/2013), puluhan warga tersebut menggelar aksi menduduki sawahnya.

"Kita akan berusaha mempertahankan sawah kita, Ini adalah mata pencaharian kita, jika disini didirikan pabrik kita mau makan apa," kata salah seorang yang menolak sawahnya dijual, Asep Saepudin. [Warlan putra]


TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Terlibat Jaringan Bom Bekasi, Seorang Warga Subang Ditangkap Densus 88 https://t.co/5XJR9k7Sya
Keripik Singkong dari Ligung Majalengka Digemari Pasar Bali https://t.co/CNhkV9SqMZ
Hadiri Pekan CSR PT. Dahana, Wakil Bupati Subang Ajak Perusahaan Berkontirbusi https://t.co/5fRGJGw4tf
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page